
...༻✡༺...
Sementara semua orang sibuk mencari, Disha sedang menikmati waktu kesendirian. Kini dia duduk di sebuah cafe yang memperlihatkan hamparan laut yang luas.
Disha menikmati capuccino hangat. Sejak kemarin dia tidak makan. Sebab rasa mual terus dirinya rasakan ketika melihat makanan karbohidrat.
Kehamilan yang dialami terus menjadi beban pikiran Disha. Sempat terlintas pemikiran untuk menggugurkan kandungan. Namun Disha lekas menggeleng. Meski tersiksa dengan gejala kehamilan yang mengganggu, dia tidak akan sekejam itu pada anaknya sendiri.
Disha berjalan menyusuri pantai. Matanya perlahan berkaca-kaca. Sampai akhirnya perempuan itu memecahkan tangis.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang..." isak Disha sambil menutup wajah dengan dua tangan.
Puas meratap, Disha berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia berhenti menangis dan membersihkan wajahnya.
Disha mengambil foto dirinya sendiri dengan ponsel. Dia mengunggah foto tersebut ke story media sosial.
"Mereka nggak akan tahu aku dimana," gumam Disha. Dia mendapatkan beberapa pesan masuk dari media sosial. Termasuk dari Dimas. Lelaki itu menanyakan dimana Disha berada.
Tanpa pikir panjang, Disha menghubungi Dimas dengan nomor telepon baru. Lelaki tersebut langsung menjawab.
"Kau kemana, Sha? Aku mencarimu kemana-mana!" timpal Dimas dari seberang telepon.
"Aku ada di Korea, Co. Aku--"
"Apa?! Tapi kau sedang hamil sekarang. Kau tidak seharusnya bepergian sejauh itu," omel Dimas.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya--"
"Aku akan segera ke sana. Kirimkan alamat hotelmu! Aku akan bersiap sekarang." Dimas memotong pembicaraan Disha. Dia mematikan panggilan telepon lebih dulu.
"Apaan sih. Lebay!" komentar Disha. Dia hanya mengirimkan pesan pada Dimas kalau dirinya berada di Pulau Jeju. Disha enggan memberitahu alamat hotel.
Di waktu yang sama, Defan mendatangi perusahaan Disha. Dia menanyakan keberadaan sang istri. Jujur saja, itu sudah kali kelima Defan bertanya. Semua orang justru heran. Mengingat Defan adalah suami Disha. Tetapi lelaki tersebut tidak tahu kemana istrinya pergi.
"Mas Defan lagi berantem sama Mbak Disha ya?" Jihan tiba-tiba menegur. Dia adalah salah satu karyawan yang cukup dekat dengan Disha.
Defan tersenyum kecut. Dia tentu tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Defan segera melangkah untuk pergi.
"Mbak Disha baru saja mengunggah foto baru di medsos. Mas Defan sudah lihat?" seru Jihan.
Defan sontak berhenti melangkah. Dia berbalik dan menghampiri Jihan. Menyaksikan foto yang disebutkan wanita itu.
"Ah... Sepertinya Mbak Disha ngambek sama Mas Defan. Begitu kan?" tebak Jihan.
__ADS_1
Defan masih enggan menjawab. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan.
"Jujur saja, Mas. Kalau nggak mau cerita, aku nggak bakalan kasih tahu Mbak Disha ada dimana," cetus Jihan yang penasaran.
"Memangnya kau tahu dia ada dimana?" Defan akhirnya menanggapi.
"Tahu banget. Aku ini penggemar Gong Yo!" sahut Jihan sambil memegangi dada. Membicarakan seorang aktor dari Korea Selatan.
"Gong Yo?" Defan tak mengerti.
Jihan memasang raut wajah datar. Dia kecewa mendengar idolanya tidak dikenal orang lain. "Dia itu aktor," jawabnya dengan terpaksa.
"Oh... Terus apa hubungannya sama Disha. Kau membuang waktuku!" tukas Defan.
"Ya ampun, kau tidak sopan. Pantas saja Mbak Disha ngambek." Jihan cemberut. Dia mengetahui keberadaan Disha karena sudah tiga kali lebih mengunjungi Pulau Jeju. Jadi dia sangat mengenali tempat yang tergambar dalam foto Disha.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Sekarang bisakah kau beritahu aku Disha kemana? Kau tidak ingin melihat pernikahan Bosmu hancur kan?" ujar Defan.
Jihan menghela nafas. Dia memang tidak mau melihat pernikahan bosnya hancur. Jadi Jihan memberitahu keberadaan Disha sekarang.
"Apa? Pulau Jeju? Kau yakin Disha di sana?" Defan meragu.
"Kalau tidak percaya, ya sudah. Sebaiknya bersabar dan tunggu Mbak Disha pulang saja," tanggap Jihan.
Dengan lidah yang berdecak kesal, Defan bergegas pergi. Saat itulah Jihan kembali angkat suara.
"Carilah di sekitar cafe Gongjaksu!" seru Jihan. Sebelum Defan benar-benar pergi.
"Makasih, Mbak." Defan menyempatkan diri berterima kasih. Jihan lantas kembali bekerja.
...***...
Saat sore hari, Dimas sudah tiba di Pulau Jeju. Dia yang sudah tahu nomor baru Disha, segera menanyakan alamat hotel.
"Apa? Kau benar-benar sudah di sini?" Disha dibuat kaget dengan kabar yang diberikan Dimas. Keduanya saling terhubung lewat panggilan video.
"Kau tidak percaya? Lihat sekelilingku. Ini bandara yang kau datangi saat tiba di Pulau Jeju kan?" Dimas memperlihatkan keadaan di sekeliling kepada Disha.
Disha tampak geleng-geleng kepala. "Ya sudah. Aku akan kirimkan alamat hotelnya. Maaf, Co. Aku jadi merepotkanmu begini," ujarnya.
"Kenapa bicara begitu. Aku justru senang bisa menemanimu. Tunggu aku." Dimas mengakhiri panggilan video. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Disha. Dimas merasa mendapat peluang besar untuk mendekati perempuan tersebut.
Sesampainya di hotel, Dimas langsung menemui Disha. Keduanya saling berpelukan.
__ADS_1
"Harusnya kau tidak nekat pergi sendiri. Dasar kecebong ketek!" ucap Dimas seraya mencubit hidung mancung Disha.
"Dih! Apaan kecebong ketek." Disha terkekeh.
"Makan malam yuk!" ajak Dimas.
"Aku nggak bisa makan, Co. Perutku mual terus kalau lihat makanan karbo," sahut Disha sambil memegangi perut.
"Berarti selama dua hari kau nggak mengkonsumsi karbohidrat?" tanya Dimas cemas.
"Aku cuman makan sebisanya saja," jawab Disha.
"Ayo kita makan! Kali saja kalau sama aku kau mau makan," ajak Dimas seraya memegang tangan Disha. Membawa perempuan tersebut ikut bersamanya.
Ketika tiba di restoran, Dimas dan Disha duduk saling berhadapan. Benar saja, Disha lagi-lagi mual saat melihat hidangan disajikan. Padahal dia sendiri yang memesan makanan itu.
"Kau mau aku menyingkirkan makanannya?" tanya Dimas.
Disha menggeleng. "Nggak apa-apa, Co. Tapi aku nggak bisa makan ya. Aku makan salad saja," sahut Disha.
"Kasihan amat sih kamu." Dimas merasa tidak enak. Dia makan beberapa suap. Kemudian mengajak Disha melihat-lihat makanan lain. Perempuan itu akhirnya tertarik dengan roti cokelat.
Disha dan Dimas membeli dua roti. Keduanya duduk di salah satu cafe dekat pantai. Menikmati minuman hangat dan roti.
"Perasaanmu sudah mulai membaik kan?" Dimas bertanya setelah menyesap kopi.
"Aku rasa begitu." Disha menjawab sambil tersenyum.
"Syukurlah." Dimas balas tersenyum. Dia menatap Disha lamat-lamat. Meyakini bahwa keadaan perempuan itu sudah cukup pulih. Karena Dimas tidak mau menyimpan perasaan cukup lama. Apalagi saat mengetahui Defan sudah menyatakan kalau dirinya juga mencintai Disha. Pernyataan tersebut bak bendera perang bagi Dimas.
"Sha..." panggil Dimas.
"Hm?" Disha lantas menatap Dimas.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Ini tentang perasaanku," tutur Dimas.
"Perasaan? Apa kau sedang jatuh cinta? Gadis mana lagi kali ini, Co?" tanggap Disha antusias. Dia tentu tidak mengira kalau gadis yang dicintai Dimas adalah dirinya.
"Sebelumnya, aku ingin mengatakan kalau aku tidak pernah mencintai gadis yang kupacari. Sebenarnya hanya ada satu orang yang selalu ada di hatiku. Aku sudah jatuh cinta semenjak SMA..."
"Siapa dia, Co? Jangan bikin aku penasaran?" Disha menuntut jawaban.
"Kau, Sha! Perempuan itu adalah kau!" ungkap Dimas.
__ADS_1
Mata Disha membulat sempurna. Dia tidak menduga sama sekali.