
...༻✡༺...
"Co! Kau pasti bercanda kan? Kau pasti mau mengerjaiku seperti tempo hari ya?" Disha tak mau percaya dengan pernyataan Dimas.
"Aku benar-benar serius. Apa yang aku katakan tempo hari itu juga sebenarnya niatnya serius. Tapi aku nggak mau menghancurkan pernikahanmu dan Defan," jelas Dimas. Dia memang terlihat serius.
"Kau benar-benar..."
"Sha, ceraikan Defan. Aku akan menjagamu dan anak yang ada dalam perutmu." Dimas meraih salah satu tangan Disha.
"Gila kau, Co! Kau memperburuk keadaan!" Disha menjauhkan tangan Dimas. Dia bergegas meninggalkan lelaki itu. Dimas lantas mengejar.
"Sha! Aku nggak bisa biarin kamu tinggal sama Defan. Dia melakukan hal yang sangat buruk kepadamu!" Dimas berusaha menghentikan Disha. Akan tetapi perempuan itu terus melangkah.
"Aku yakin alasan kau pergi ke sini karena marah sama Defan! Kalau Defan itu bukan sahabatmu atau suamimu, aku yakin kau pasti sudah melaporkannya ke polisi!" Dimas terus berusaha meyakinkan Disha.
"Apa kamu lebih memilihnya?! Sadar, Sha! Dia itu cuman lelaki pengecut yang hanya berani menyentuhmu saat mabuk!" Lama-kelamaan Dimas semakin menyudutkan Defan. Membuat Disha jadi geram. Perempuan itu mengepalkan tinju di kedua tangan.
"Bagaimana kalau aku menikmatinya?" Disha berucap sambil perlahan menatap Dimas. Lelaki tersebut langsung terdiam seribu bahasa.
"Apa maksudmu?" tanya Dimas.
"Tujuan utamaku datang ke sini untuk berpikir, Co. Karena aku bingung dengan apa yang dirasakan hatiku," jelas Disha. Air matanya perlahan menetes.
"Hatimu? Maksudmu kau mencintai Defan?" Dimas menatap nanar Disha. Berharap dugaannya salah.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku dan Defan tidak akan bercerai," jawab Disha ambigu. Dia berlalu pergi.
Dimas mematung di tempat. Dia tentu sakit hati mendengar Disha bicara begitu. Keduanya saling meratapi kekalutan dalam kesendirian.
Kini Disha sudah ada di kamar hotel. Dia telentang miring di ranjang. Menatap foto kebersamaannya dengan Defan dan Dimas. Disha melihatnya melalui ponsel.
"Kenapa kalian melakukan ini? Kenapa..." Disha tidak meneruskan saat atensinya terarah ke wajah Defan. Segala ingatan tentang lelaki itu muncul. Terutama ingatan tentang sentuhan serta celotehan Defan.
"Jujur saja, Defan memang lebih menyebalkan dari Dimas. Tapi itulah yang membuatku merasa lebih nyaman dengannya. Dia bebas, lucu, dan tak terduga," gumam Disha. Bersamaan dengan itu, perutnya keroncongan. Satu roti cokelat tentu tidak akan cukup untuk mengenyangkan perut.
Disha lantas memesan menu makanan di hotel. Tetapi untuk yang kesekian kalinya, dia kembali mual saat melihat karbohidrat. Disha lagi-lagi tidak bisa makan. Ia hanya makan sayuran pelengkap yang ada di piring.
...***...
"Ah benar. Dia punya media sosial." Defan mengambil ponsel dan langsung mencari akun media sosial Disha. Dia mencoba menghubungi lewat sana. Namun tidak bisa, karena Defan belum mempunyai akun media sosial.
Defan mendengus kasar. Demi mencari Disha, dia duduk di pinggir jalan. Defan membuat akun media sosial miliknya. Saat itulah Defan bisa menghubungi Disha.
Karena tidak diangkat, Defan memilih mengirimkan pesan. Dia tidak lupa memberikan video sebagai bukti keberadaan dirinya di Pulau Jeju.
Sementara itu, Disha terbangun karena panggilan Defan. Ia kaget saat membaca pesan Defan. Apalagi bukti yang dikirimkan lelaki itu.
"Astaga! Dia juga ke sini? Bagaimana Defan tahu?" Disha merasa tak percaya. Selain itu, entah kenapa dia merasa bahagia. Terlebih Defan datang mencarinya tanpa bertanya.
Untuk memastikan, Disha bergegas menelepon Defan.
__ADS_1
"Kau beneran di Pulau Jeju?" tanya Disha.
"Kau kemana saja, Sha?! Kenapa tiba-tiba menghilang? Kalau Mamah sama Papah tahu gimana? Tidak! Bukan itu yang aku khawatirkan. Tapi kamu! Kau sedang hamil sekarang!" tukas Defan dengan nada mengomel.
Disha tersenyum. Dia tidak bisa membantah kalau dirinya merindukan Defan.
"Ya sudah, aku akan kirimkan alamat hotelnya," ucap Disha.
"Nomor kamarnya juga sekalian," ujar Defan.
"Dih! Enak aja." Disha lagi-lagi tersenyum.
"Kenapa? Lagian kita sudah terbiasa satu kamar kan? Aku mau mengirit uangku, Sha."
"Alah! Alasanmu itu, Toy! Pokoknya kagak ya kagak." Disha mematikan panggilan telepon lebih dulu. Perutnya tiba-tiba kembali keroncongan.
"Maumu apa sih?! Dikasih makan nggak mau? Pas nggak dikasih makan malah pengen makan?!" Disha mengomeli perutnya. Dia mendengus kasar. Lalu mengirimkan alamat hotelnya kepada Defan.
Setengah jam terlewat, Defan sudah berada di hotel sepuluh menit yang lalu. Dia terus melakukan negoisasi dengan resepsionis. Defan benar-benar berusaha keras untuk mengetahui nomor kamar Disha. Akan tetapi sang resepsionis terus menolak memberitahu karena alasan privasi.
'Oke, sekarang aku akan keluarkan senjata pamungkasku,' batin Defan. Dia segera mengaku sebagai suami Disha. Defan juga tak lupa memperlihatkan buku nikah sebagai bukti.
Kini sang resepsionis tak bisa berkutik. Dia akhirnya memberitahu nomor kamar Disha.
"Yes! Tunggu aku, Sha. Aku otw." Defan tersenyum puas sambil masuk ke dalam lift.
__ADS_1