Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 45 - Oh Yes, Sayang! [1]


__ADS_3

...༻✡༺...


Karin melakukan pekerjaannya dengan baik dalam merawat Angga dan Tirta. Kini Disha bisa lebih santai dari biasanya.


Lama-kelamaan Disha mulai kembali terbuai akan pekerjaan. Pertemuannya dengan kedua anaknya semakin minim. Ia juga hanya akan bicara dengan Defan ketika hendak tidur.


Akibat kejadian hamil dadakan, Disha berusaha meminimalisir kegiatan intim dengan Defan. Dia tidak mau kelepasan lagi.


Kini Disha baru saja telentang ke kasur. Defan yang terlihat keluar dari kamar mandi, segera mendekat.


"Sayang, aku tidak bisa tidur kalau gagak nggak mampir ke sarangnya dulu," ungkap Defan dengan raut wajah memelas.


"Fan, tadi seharian aku banyak sekali pekerjaan. Biarkan aku istirahat," sahut Disha sambil memejamkan mata.


"Ini sudah hampir satu minggu kau terus menolak. Sesekali juga nggak apa-apa loh..." Defan terus memohon. Tetapi Disha hanya diam. Perempuan tersebut malah terlelap.


Defan mendengus kasar. Dia menggaruk kepala sejenak dan mencoba tidur.


"Ternyata begini ya rumah tangga," gumam Defan. Ia memutuskan mencoba memahami Disha.


Defan berusaha untuk tidur. Akan tetapi tidak kunjung bisa dilakukan. Terlebih suara tangisan bayi mendadak terdengar. Alhasil Defan buru-buru mendatangi kamar dimana kedua anaknya berada.


Saat tiba di kamar Angga dan Tirta, Defan segera menggendong Tirta yang kebetulan sedang menangis.


Bersamaan dengan itu, Karin datang. Dia terlihat membawakan dot susu. Sepertinya gadis tersebut memang sengaja membuatkan susu terlebih dahulu.


"Berikan padaku, Tuan. Biar aku saja yang menidurkannya," ucap Karin seraya mengulurkan tangan.


"Berikan dot susunya," pinta Defan. Mengabaikan perkataan Karin.


Karin lantas memberikan apa yang di inginkan Defan. Lelaki itu lantas memberikan susunya kepada Tirta. Bayi tersebut langsung berhenti menangis.


"Tuan ternyata hebat juga mengurus anak," puji Karin. Atensinya tidak bisa lepas dari sosok Defan.


"Mau bagaimana lagi. Anaknya sudah ada dua. Mau tidak mau, harus bisa mengurus mereka," sahut Defan. Dia bicara sambil memandangi Tirta yang ada dalam gendongannya.


"Tuan Defan beda banget sama Mbak Disha," ungkap Karin.


"Disha cuman kecapekan. Dia itu lebih ahli mengurus anak dibandingkan aku," tanggap Defan.


Karin tersenyum kecut. Seolah tidak suka dengan perkataan Defan tadi. Dia beranjak dari kamar.


Tak lama kemudian, Tirta tertidur. Defan perlahan meletakkannya ke tempat tidur. Lalu duduk ke sofa. Saat itulah Karin muncul kembali. Dia membawakan secangkir teh untuk Defan.

__ADS_1


"Ini aku buatkan teh untuk Tuan Defan," kata Karin seraya menyodorkan teh kepada Defan. "Tadinya mau bikin kopi, tapi takutnya nanti malah bikin Tuan semakin kesulitan tidur," sambungnya.


"Kenapa kau repot-repot? Kau bisa tidur sekarang. Kau pasti capek." Defan menerima teh pemberian Karin.


"Aku nggak bisa tidur kalau Tuan belum tidur," ucap Karin yang masih berdiri dalam keadaan memegang nampan.


Dahi Defan berkerut. Dia heran kenapa Karin masih belum pergi. "Apa kau akan terus berdiri di situ?" tanyanya.


"Ma-maaf. Kalau begitu aku akan pergi." Karin buru-buru pamit.


"Jangan tersinggung. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya tidak nyaman melihatmu terus berdiri." Defan berucap sambil menyalakan televisi.


"Kalau begitu aku akan duduk saja." Karin memilih duduk ke sofa.


Kening Defan sontak kembali mengernyit. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Karin. Apalagi gadis itu terus tersenyum malu-malu kepadanya.


"Kau kenapa, Rin? Keremian?" sindir Defan.


"Tuan ganteng banget," sahut Karin. Dia yang sudah sejak awal tertarik dengan Defan, sepertinya sengaja merayu.


"Hah?" Defan terbelalak.


"Aku tahu Mbak Disha akhir-akhir ini sibuk banget. Selain bisa jadi teman untuk Angga dan Tirta, aku juga bisa jadi teman untuk Tuan," goda Karin. Dia melepas ikatan rambut. Sehingga rambut panjangnya yang diberi pirang berwarna cokelat itu tergerai. Setelah itu, Karin membuka kancing bajunya satu per satu.


Di waktu yang sama, Disha tersentak dari tidurnya. Dia lantas terbangun dan melihat Defan tidak ada.


"Kemana dia?" gumam Disha sembari melirik ke jam dinding. Waktu menunjukkan jam 11.30 malam.


Disha segera beranjak ke kamar mandi. Dia jelas mencari sang suami. Namun Defan tidak ada di di sana.


Disha otomatis keluar kamar. Ia berhasil memergoki apa yang dilakukan Karin. Gadis itu terlihat berdiri dan hendak mendekati Defan.


Defan sendiri tampak mematung. Sebagai lelaki, tentu ada sedikit ketertarikan. Terlebih Disha sudah lama tidak memberinya jatah.


Meskipun begitu, logika dalam pikiran Defan muncul. Dia yang mengutamakan Disha lebih dari apapun, segera bertindak. Defan membuang muka. Lalu mengambil bantal sofa untuk dilemparkan ke arah Karin.


"Mulai se--"


"Dasar wanita murahan!" Disha datang. Dia langsung menjambak rambut Karin. Kehadirannya membuat perkataan Defan terputus.


"Disha!" seru Defan. Ia senang sang istri datang di waktu yang tepat.


Karin meringis kesakitan saat ribuan helai rambutnya ditarik oleh Disha. Dia terpaksa melakukan perlawanan. Karin balas menjambak rambut Disha.

__ADS_1


"Kenapa kau peduli?! Bukankah kau lebih peduli dengan pekerjaanmu dibanding suamimu?!" tukas Karin.


"Berani sekali kau bilang begitu ya! Kau dipecat sekarang! Aku tidak sudi membiarkanmu terus menjejakkan kaki di rumahku!!!" balas Disha. Dia menggila karena terbakar cemburu dan amarah.


"Aaaarkkhh!!!" Karin mengerang kesakitan ketika Disha menggigit kepalanya.


Defan yang merasa Disha sudah berlebihan, segera menghentikan. Istrinya bisa kena tuntutan jika berhasil melukai Karin. Dengan sigap Defan menarik Disha sampai menjauh dari Karin.


"Defan! Apa yang kau lakukan?! Apa kau berada di pihaknya?!" geram Disha mendelik.


"Tidak! Aku hanya tidak ingin kau menyelesaikan masalah dengan kekerasan!" sahut Defan.


"Makanya, kalau punya suami sempurna tuh dijaga. Ini nih masalah semua istri zaman sekarang. Terlalu sibuk," sindir Karin seraya mengenakan baju.


"Dasar lac-ur!" Disha kembali tersungut. Defan lantas kembali menghentikan. Dia membawa Disha masuk ke dalam pelukan. Mata lelaki itu melotot ke arah Karin.


"Kau sebaiknya angkat kaki dari rumah ini!" usir Defan tegas.


Karin memajukan bibirnya seolah mengejek. Dia berkata dengan nada sensual, "Ah, Tuan Defan... Aku tahu kau akan tertarik denganku jika kita tadi sempat--"


"BISA PERGI NGGAK?! PERGIIII!!!" Disha berteriak kencang. Kemudian melemparkan barang-barang di sekitar ke arah Karin.


"Dasar gila!" cibir Karin. Dia buru-buru pergi. Karin tak lupa mengambil barang-barangnya terlebih dahulu ke kamar. Ia segera beranjak dari kediaman Defan dan Disha.


Kini Disha mendengus lega. Dia dan Defan sedang mencoba menidurkan Angga dan Tirta yang terbangun karena teriakan Disha.


Hening menyelimuti suasana. Disha terpaku menatap Defan. Kejadian tadi tentu membuatnya gelisah. Disha merasa dapat teguran. Ia sadar kalau dirinya terlalu terbuai dengan kesibukan sendiri. Hingga sebuah ide terlintas dalam benak Disha.


Setelah menidurkan Angga dan Tirta, Defan dan Disha kembali ke kamar. Merek berniat ingin tidur.


"Sebaiknya kita cari baby sitter yang sudah berumur saja," cetus Defan sembari telentang ke ranjang. Walau masih tidak bisa tidur, dia akan mencoba.


Disha hanya diam. Ia berdiri ke depan meja rias dan memoles lipstik merah menyala.


"Jangan tidur! Ayo kita main!" imbuh Disha. Membuat mata Defan membuncah hebat.


"Main?" Defan menuntut penjelasan.


Disha tak menjawab. Dia melepas seluruh pakaian. Hingga hanya menyisakan bra dan sabuk segitiganya.


Defan yang mengerti, ikut melepas pakaian. Tetapi belum selesai melakukannya, Disha tiba-tiba mendorong. Kemudian duduk di atas perut Defan.


"Oh Yes, Sayang! Itulah nama permainannya," ujar Disha. Jujur saja, rambutnya tampak acak-acakan gara-gara jambakan Karin beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Ternyata kejadian tadi ada hikmahnya ya," komentar Defan berseringai. Bibirnya dan mulut Disha langsung menyatu dengan ganas.


__ADS_2