
...༻✡༺...
Kelopak mata Defan melebar. Dia tak menyangka Disha mengusulkan kata ledekan seperti itu.
"Gagak?" beo Defan. "Bisa nggak ledekannya nggak dikaitkan sama ontongku terus?" sambungnya yang merasa gemas kepada Disha. Tangan Defan memukul pantat putih dan belum berbalutkan dengan kain tersebut.
"Hei!" protes Disha dengan mata membulat.
"Kenapa? Kan kau sudah sepenuhnya jadi milikku sekarang." Defan memberi alasan. "Jadi terserah aku mau melakukan apapun sama kamu. Termasuk ini," sambungnya seraya memainkan salah satu buah Disha. Hingga bagian tubuh tersebut bergetar.
"Ish! Ini bukan squishy ya!" balas Disha sembari menjauhkan tangan Defan. Dia segera beranjak ke balik tirai. Menyalakan shower dan mandi di sana.
Defan tersenyum senang. Dia menyusul Disha. Sengaja tiba-tiba muncul sampai perempuan itu kaget.
Defan langsung menenangkan dengan memeluk dari belakang. Sesekali dia akan menggelitiki sang istri. Hingga Disha tidak jadi marah dan justru sibuk tertawa.
Selang sekian menit, pintu kamar mandi terbuka. Disha berlari keluar sambil tergelak. Di belakangnya Defan mengejar. Perempuan itu berhenti saat Defan lagi-lagi berhasil menangkapnya. Lelaki tersebut merebahkan Disha ke ranjang.
"Mau ngapain, Fan? Kan sudah tadi!" ucap Disha seraya menahan dada Defan. Lelaki itu berada di atas badannya. Mengungkung Disha seolah siap kembali menerkam.
"Mulai sekarang, panggil sayang saja. Mengerti? Kalau nggak, aku akan langsung menghukummu," ujar Defan.
"Sayang? Idih! Itu mainstream banget. Nggak mau. Aku mau panggil gagak saja," sahut Disha. Di akhir dia menjulurkan lidah sebagai ejekan.
"Oh, begitu. Ya sudah, aku akan menghukummu!" kata Defan. Dia memegangi kedua tangan Disha. Meletakkannya ke atas kepala perempuan tersebut.
"Jangan coba-coba! Kau tahu aku sedang hamil muda. Kalau begituan terus, bisa keguguran tahu nggak!" ucap Disha. Mencoba menghentikan Defan. Tetapi lelaki itu tidak peduli. Dia terlihat sibuk membuka tali handuk kimono dengan giginya. Lalu segera bermain lidah di perut Disha.
"Sial!" Disha merutuk tatkala sekujur badannya meremang. Lidah panas dari Defan membuatnya kalah telak.
"Baiklah. Sayang! Aku akan memanggilmu sayang mulai sekarang." Disha berusaha menghentikan Defan.
"Awas saja kalau nanti aku dengar panggilan gagak lagi." Defan segera melepaskan. Disha mendengus lega. Dia melemparkan bantal ke arah Defan.
__ADS_1
Karena sudah merasa lebih baik, Disha dan Defan memutuskan kembali ke Indonesia. Kini keduanya sedang berada di lobi hotel. Menanyakan perihal Dimas.
Defan berniat meminta maaf kepada Dimas. Ia juga ingin mengajak lelaki itu pulang bersama. Akan tetapi Dimas ternyata sudah pulang lebih dulu. Defan lantas memberikan kabar tersebut kepada Disha.
"Mungkin Dimas ada pekerjaan mendesak," ucap Disha. Mencoba berpikir positif.
"Iya, sepertinya begitu. Lagi pula aku belum siap membicarakan hubungan kita kepadanya," tanggap Defan.
"Aku juga. Mungkin sebaiknya kita tutupi dulu hubungan ini darinya sampai kita siap?" usul Disha.
"Kalau itu terjadi, bukankah dia akan berusaha mendekatimu lagi?"
"Kau benar." Disha tertunduk. "Pokoknya kita hindari saja Dimas untuk sementara. Oke?" lanjutnya.
Defan merespon dengan anggukan kepala. Dia dan Disha berangkat saat pesawat sudah siap.
...***...
Tiga bulan berlalu. Dimas tidak pernah terlihat lagi. Namun itu tidak membuat hubungan Disha dan Defan renggang. Malah hubungan keduanya semakin harmonis. Kini mereka bahkan tidak lagi mengutamakan pekerjaan. Bagi Disha dan Defan, pulang cepat ke rumah adalah hal utama.
Disha menyentuh wajah Defan. Membelainya dengan lembut. Sampai seulas senyuman licik terukir di wajahnya.
"Sayang, bangun. Ini sudah pagi," ujar Disha sambil mengguncang badan Defan.
"Hmmmh..." Defan terbangun. Tetapi enggan membuka mata.
"Aku tiba-tiba menginginkan sesuatu," cetus Disha dengan mulut yang sedikit memanyun.
Mata Defan langsung terbuka lebar. Dia bersikap waspada. Bagaimana tidak? Selama hamil, apa yang di inginkan Disha aneh-aneh semua. Dia bahkan pernah meminta dibelikan es campur saat tengah malam.
"Apa lagi kali ini?" tanya Defan.
"Aku ingin makan masakan kamu," jawab Disha.
__ADS_1
"Gila! Kau kan tahu aku nggak bisa masak," sahut Defan.
"Pokoknya aku nggak mau makan kalau bukan masakan kamu." Disha membuang muka.
"Kau ngidam atau sengaja menyiksa aku sih?" Defan mendengus kasar. Meskipun begitu, dia beranjak ke dapur.
Disha tersenyum simpul. Dia akan menyusul Defan setelah membersihkan diri ke kamar mandi.
Saat datang ke dapur, Disha dapat melihat Defan tampak gelagapan. Keadaan juga terlihat berantakan. Tetapi kegiatan memasak Defan sepertinya berjalan lancar. Ia sudah selesai menyajikan sepiring makanan.
Disha bergegas menghampiri. Dia menanyakan masakan apa yang akan dibuat Defan selanjutnya.
"Nasi goreng telor. Kau sebaiknya tunggu dan duduk manis saja," saran Defan.
"Nggak! Aku mau nemenin kamu." Disha mendekat. Dia naik ke punggung Defan. Lelaki itu otomatis menggendongnya.
"Ini namanya nyiksa, Sha! Bukan nemenin." Defan mendelik.
"Sayang! Katanya mau saling panggil sayang. Gimana sih kamu." Disha justru mengomel. Dia segera membuang muka sambil terkekeh dalam hening.
"Iya, sayang..." Defan menurut bak kucing yang jinak. Menyebabkan senyuman mengembang di wajah Disha.
Melihat Defan selalu memberikan yang di inginkannya, membuat Disha terenyuh. Perempuan itu merasa semakin menyayangi Defan. Ia memeluk Defan dengan erat. Kemudian mencium pipi lelaki tersebut berulang kali.
"Jangan mancing-mancing deh. Kau mau lihat gagak beraksi pagi-pagi gini?" ancam Defan.
"Biarin!" tantang Disha. Dia bergegas turun dari gendongan Defan. Lalu melarikan diri.
Defan yang mengerti, segera mengejar. Namun dia dirundung perasaan khawatir saat melihat Disha tiba-tiba jatuh.
"Ah!" Disha tidak sengaja tersandung karpet. Dia sontak jatuh ke lantai.
"Disha!" pekik Defan sembari menghampiri Disha. Dia membantu perempuan itu berdiri. Matanya terbelalak ketika melihat ada darah yang menetes di kaki Disha.
__ADS_1
"Fan..." lirih Disha seraya meremas dresnya. Dia meringis ketika melihat darah yang mengalir di kaki.
"Tenanglah. Kita ke rumah sakit sekarang!" Defan bergegas membawa Disha ke rumah sakit. Berharap janin dalam perut sang istri masih bisa bertahan.