
...༻✡༺...
Disha langsung menjauhkan tangan Defan dari mulutnya. Dahi perempuan itu berkerut dalam. Dia buru-buru masuk ke kamar mandi. Disha tentu tidak mau terus menyaksikan Defan yang masih bugil.
Defan tersenyum lebar. Ia segera mengenakan pakaian.
Tiba-tiba terdengar suara Mona yang memanggil. Dia menyuruh Disha dan Defan untuk makan malam.
Defan buru-buru membuka pintu. Dia berkata, "Disha sedang mandi, Mah. Kami akan makan malam secepatnya."
"Ya sudah. Pastikan Disha makan ya! Dia lagi hamil soalnya. Perlu asupan gizi yang banyak." Mona berucap sambil beranjak.
"Iya, Mah..." Defan menutup pintu. Dia akan menunggu Disha selesai mandi.
Agar tidak bosan, Defan melihat-lihat kamar Disha. Dia membuka buku album yang tersimpan dalam laci lemari.
Senyuman mengembang di wajah Defan ketika melihat foto masa SMA-nya bersama Disha dan Dimas. Sempat muncul kesedihan di perasaan Defan. Sebab persahabatan mereka terancam berakhir hanya karena cinta.
"Aku tidak menyangka semuanya akan begini. Andai Disha tidak hamil, aku bisa saja mengalah. Tapi dia sekarang hamil anakku. Maafkan aku, Co. Aku tidak bisa mengalah dan membiarkan Disha bersamamu." Defan bergumam. Tanpa sepengetahuannya, Disha sejak tadi mendengar di belakang. Perempuan tersebut berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa kau minta maaf sama Kroco?" tanya Disha. Defan sontak menoleh.
"Nggak apa-apa. Tidak penting. Ayo cepat pakai bajumu. Mamah menyuruh kita makan malam," sahut Defan.
"Kamu duluan gih!" ujar Disha.
"Aku sejak tadi nungguin kamu." Defan enggan pergi.
"Aku mau ganti pakaian. Kamu seenggaknya keluar dulu!" desak Disha.
"Ngapain malu. Aku sudah lihat--"
"Apa?! Kau lihat apa, hah?! Lagian kau melihatnya tanpa izin dariku!" tukas Disha. Memotong perkataan Defan.
"Kau jangan bikin aku merasa bersalah. Biar begini aku ini suamimu loh," tanggap Defan yang terkesan tenang.
"Pokoknya keluar!" Disha menarik Defan. Memaksa lelaki itu keluar dari kamar.
__ADS_1
Defan mendengus kasar. Ia tetap menunggu Disha. Lelaki tersebut menyandar ke dinding dekat pintu.
Selang satu menit, Disha keluar. Dia kaget saat menyaksikan Defan. Wajah perempuan itu cemberut. Ia berjalan lebih dulu menuruni tangga. Defan lantas mengikuti dari belakang.
"Pelan-pelan, Sha. Hamil di semester pertama itu katanya sangat rawan keguguran," ucap Defan. Namun Disha tak peduli. Keduanya segera bergabung ke meja makan. Duduk saling berdampingan.
"Disha nggak ngidam yang aneh-aneh kan, Fan?" tanya Anas.
"Kemarin dia minta dibelikan bubur bebek, Pah," jawab Defan.
"Apa? Bubur bebek? Hahaha! Kau ada-ada saja, Sha." Anas tergelak bersama yang lain. Satu-satunya orang dengan suasana hati buruk hanyalah Disha.
"Dapat nggak buburnya, Fan?" tanya Mona.
"Dapat, Mah. Kalau nggak dapat, Sabang sampai Merauke pun aku jelajahi," sahut Defan. Membuat Mona dan Anas kembali tertawa. Orang tua mana yang tidak bahagia saat mendapati menantu yang memperlakukan anaknya dengan baik.
Disha mendelik. Dia benar-benar muak dengan celotehan Defan yang tak kunjung berakhir.
Walaupun begitu, Disha mencoba menahan amarah. Semua dia lakukan demi keluarga tercintanya.
Usai makan malam, Disha dan Defan kembali ke kamar. Disha langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Defan merebahkan diri lebih dulu ke ranjang. Ia terus menatap ke pintu kamar mandi. Menanti Disha muncul dari sana.
"Sini, Sha. Aku akan membelai kepalamu sampai kau tertidur." Defan menepuk sisi ranjang yang disediakannya untuk Disha.
Disha hanya diam. Dia mengambil bantal dan meletakkannya ke lantai yang tertutupi karpet. Lalu rebahan di sana.
"Loh, kenapa tidur di bawah? Kau itu lagi hamil. Ambil posisi tidur yang nyaman dong." Defan menghampiri Disha. Dua tangannya terulur karena hendak menggendong perempuan itu. Namun Disha lebih dahulu berdiri. Kemudian berpindah ke atas ranjang.
"Kalau begitu, kau saja yang tidur di bawah. Nih! Bantal guling kesukaanmu!" Disha melempar bantal guling ke wajah Defan. Dia telentang memiring. Dalam keadaan membelakangi Defan.
"Aku kan maunya tidur di sebelah kamu." Defan bersikeras. Dia telentang ke sebelah Disha. Memeluk perempuan tersebut dari belakang.
Mata Disha yang tadinya tertutup, langsung terbuka lebar. Dia segera melepas pelukan Defan.
"Tidur di bawah nggak?! Kalau nggak mau, aku yang tidur di bawah!" tegas Disha. Kemarahannya terlihat sangat serius sekarang.
Defan merasa bersalah. Dia terpaksa menuruti keinginan Disha. Lalu tidur di lantai yang beralaskan karpet.
__ADS_1
Malam semakin larut. Disha dan Defan sama-sama memejamkan mata. Akan tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa tidur.
Sampai akhirnya Defan menjadi orang pertama yang tertidur lebih dulu. Ketika siang tiba, dia terbangun.
Defan tidak melihat Disha ada dimana-mana. Termasuk di kamar mandi. Alhasil Defan menanyakan keberadaan perempuan tersebut kepada Mona.
"Disha ada pekerjaan mendesak katanya. Tapi dia tadi sudah buatkan sarapan untukmu. Tuh! Ada di meja makan." Mona menjawab sambil menunjuk ke arah meja makan. "Dan satu hal lagi, katanya dia hari ini ingin kembali tidur di rumah," sambungnya membicarakan perihal kediaman Disha dan Defan.
Defan otomatis memeriksa sarapan buatan Disha. Dia tersenyum saat menyaksikan hidangan buatan sang istri.
"Sejak kapan Disha bisa masak? Setahuku dia masak mie instan saja bingung," gumam Defan. Dia mencicipi hidangan Disha. Wajahnya langsung meringis. Sebab makanannya terasa sangat asin.
"Ah! Sudah kuduga," keluh Defan. Dia melihat Mona mengawasi dari kejauhan. Defan tidak punya pilihan selain memakan makanan Disha.
Setelah makan, Defan mencoba menghubungi Disha. Tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.
Di sisi lain, Disha sedang berada di bandara. Dia memutuskan pergi ke suatu tempat yang jauh agar bisa menenangkan diri. Disha butuh waktu untuk menerima kehamilannya. Ia memilih Pulau Jeju, Korea Selatan sebagai tempat tujuan. Disha penasaran dengan negara itu karena sangat sering dibicarakan oleh para karyawan wanitanya di kantor.
Disha pergi tanpa memberitahu siapapun. Dia juga sengaja mengganti nomor telepon. Sehingga tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangannya.
Di waktu yang sama, Defan baru berpamitan dengan mertuanya. Ketika keluar rumah, dia melihat Dimas datang.
"Ngapain kau di sini?!" timpal Dimas pelan. Namun penuh penekanan. Sebab Mona terlihat memperhatikan dari teras rumah.
"Sederhana. Itu karena aku suami Disha!" balas Defan.
Dimas mengeratkan rahang. Dia memejamkan mata agar mampu menenangkan diri. Lalu mengedarkan pandangan untuk mencari Disha.
"Disha sudah pergi bekerja!" Defan memberi jawaban sambil beranjak. Dia langsung pergi dengan mengendarai mobil. Dimas otomatis tak punya pilihan selain ikut pergi.
Seperti biasa, Defan menghabiskan waktu seharian untuk bekerja. Dia pulang ke rumah dengan penuh semangat. Defan bahkan tak lupa membelikan makanan kesukaan Disha.
"Entah sengaja atau tidak kau bikinkan sarapan asin se-asin air laut, aku nggak akan menyerah." Defan segera pulang. Tetapi dia tidak menemukan Disha. Alhasil Defan menunggu.
Karena Disha tak kunjung datang, Defan tidak sengaja tertidur. Dia bangun saat pagi tiba.
"Sial! Apa Disha belum pulang?" Defan mengerutkan dahi. Dia menoleh ke arah jam dan melihat waktu menunjukkan jam 07.30 pagi.
__ADS_1
Dua hari berlalu. Menghilangnya Disha akhirnya disadari Defan. Hal serupa juga dirasakan Dimas. Keduanya sekarang sedang sama-sama sibuk mencari Disha.