
...༻✡༺...
Disha mengenakan handuk kimono. Dia terpaku menatap pantulan dirinya di cermin. Apa yang dilakukan Defan tadi, membuatnya tersenyum.
"Meski menyebalkan, tapi Defan ternyata sebaik itu," gumam Disha. Dia terbawa suasana. Tetapi tidak berlangsung lama, karena dia segera menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.
"Astaga! Kenapa aku baper coba. Kan wajar Defan begitu. Punya dia kan letoy." Disha memegangi wajahnya sendiri. Dia menekan pipinya dengan dua tangan.
"Setelah di pikir-pikir, aku sangat tidak tahu malu. Gadis macam apa aku ini," keluh Disha kepada dirinya. Dia merasa malu sendiri ketika mengingat apa yang dilakukannya tadi kepada Defan.
Disha menatap ke arah pintu. Wajahnya memerah. Dia benar-benar merasa malu untuk menemui Defan sekarang.
'Gimana nih? Aku keluarnya pas dia sudah tidur saja kali ya?' batin Disha. Dia berjalan ke depan pintu.
Disha membuka pintu secara perlahan. Hingga dia dapat mengintip keadaan di luar.
Dari kamar mandi, Disha dapat menyaksikan keadaan tempat tidur. Ia tidak melihat Defan di sana.
"Dia kemana? Apa dia nongkrong di balkon?" Disha membuka pintu lebih lebar. Lalu mengeluarkan kepalanya dari sana. Sementara tubuhnya masih berada di balik pintu. Pergerakan Disha bak seekor jerapah yang sedang waspada.
"Toy?..." Disha memanggil dengan pelan. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
Dahi Disha berkerut dalam. Dia akhirnya benar-benar keluar dari kamar mandi. Matanya memindai ke segala penjuru. Akan tetapi batang hidung Defan sama sekali tidak terlihat.
Bersamaan dengan itu, ponsel Disha berdering. Dia mendapat telepon dari lelaki yang sejak tadi dirinya cari. Siapa lagi kalau bukan Defan?
"Sha, aku pesan kamar lain. Aku pikir kau harus menenangkan dirimu setelah tidak sengaja meminum wine berbahan pembangkit gairah itu," ujar Defan dari seberang telepon.
"Pembangkit gairah? Jadi wine-nya mengandung itu?" Disha melebarkan kelopak mata.
"Ya, apa pelayan tidak memberitahumu?"
"Eum... Ti-tidak. Makanya aku tidak tahu." Disha berkilah. Dia tentu tidak mau disebut Defan sebagai gadis ceroboh. Padahal Disha sangat ingat kalau pelayan menjelaskan banyak hal tentang kandungan dalam wine.
__ADS_1
"Benarkah? Perlukah kita melakukan keluhan?"
"Jangan!" pekik Disha. Dia kelepasan. Disha memejamkan mata dan menenangkan diri. Terlintas alasan yang tepat untuk menolak ide Defan.
"Jika kita melakukannya, bukankah pihak hotel akan curiga mengenai hubungan kita?" ungkap Disha.
"Aku pikir mereka tidak akan peduli dengan hubungan kita. Kau nyaris tidak perawan gara-gara wine itu. Kau beruntung aku bukan lelaki jahat. Andai aku--"
"Apa? Andai kau apa? Sudah! Aku ngantuk." Disha sengaja memotong pembicaraan Defan. Kemudian mematikan telepon lebih dulu. Gadis itu langsung memegangi dadanya sendiri. Wajahnya memerah bak tomat matang. Dia sangat ingin melupakan kejadian tidak tahu malunya beberapa saat lalu.
Disha mencoba tidur. Namun dia duduk kembali karena mengingat dengan apa yang sudah dilakukannya dan Defan di atas ranjang.
"Aku tidak bisa tidur di sini." Disha melompat dari ranjang. Dia memilih tidur di sofa panjang. Berharap dapat secepatnya terlelap dan melupakan kejadian memalukannya.
Seberapa keras Disha mencoba untuk tidur, dia tetap tidak bisa. Tanpa sadar tangannya memegangi bibir. Disha sangat mengingat jelas bagaimana rasanya berciuman dengan Defan.
"Sial! Bukankah itu ciuman pertamaku? Aaarrkhh!!!" Disha merubah posisi menjadi duduk. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Gila! Gila! Gila! Kenapa harus sama si Letoy sih..." keluh Disha dangan mimik wajah merengeknya.
"Astaga otakku... Berhentilah memikirkan itu!" Disha mencengkeram kepalanya sendiri. Dia mengamuk tidak karuan. Rambut panjang Disha yang tadinya rapi, jadi berantakan bak sapu ijuk.
Di sisi lain Defan baru saja selesai mengurus masalah organ intimnya. Sekarang dia menenangkan diri dengan cara telentang ke kasur.
Defan mencoba tidur. Sama seperti Disha. Dia juga tidak bisa tidur. Yang dilakukan Defan hanyalah bolak-balik tidak karuan. Pikirannya terus mengingat sentuhan Disha.
Walau hanya sekedar mengingat, Defan dapat merasakan sensasi aneh di perut. Mungkin pada umumnya orang menyebut sensasi itu dengan sebutan kupu-kupu yang beterbangan di perut.
Demi membuang semua ingatan kotornya, Defan memutar lagu dari ponsel. Dia menggunakan headset agar bisa lebih menghayati.
Akhirnya Defan bisa mendengus lega. Musik memang adalah terapi terbaik baginya.
...***...
__ADS_1
Mentari bersinar cerah. Disha duduk di sofa dalam keadaan melipat kedua lututnya. Dia memiliki mata panda menghiasi wajah cantiknya. Jelas Disha tidak tidur semalaman.
Ponsel Disha berdering. Saat melihat layar ponsel, jantung Disha langsung berdebar. Nama Defan-lah yang berhasil membuat jantungnya begitu.
"Sial! Aku tidak mau bertemu denganmu, Toy!" pekik Disha. Tanpa mengangkat panggilan telepon. Ia justru terkesan seperti memarahi ponselnya sendiri.
"Apa kau bilang?" Suara bariton seorang lelaki semakin membuat jantung Disha memompa lebih cepat. Dia langsung menoleh ke sumber suara. Disha menyaksikan Defan sudah berada di ambang pintu.
"Anjir! Sejak kapan kau disitu?" timpal Disha dalam keadaan mata membola.
"Sejak kau bilang, 'Sial, aku tidak mau bertemu denganmu, Toy!' begitu." Defan meledek sambil melangkah ke hadapan Disha. Jujur saja, dia hanya berpura-pura sekarang. Defan berusaha keras meredam perasaan anehnya terhadap Disha. Lelaki tersebut ingin bersikap santai seperti biasanya.
Satu hal yang pasti. Baik Defan maupun Disha, keduanya tidak suka memperlihatkan diri mereka seperti orang bodoh. Terutama Defan. Rasa gengsinya lebih tinggi dibanding Disha. Mungkin itu juga yang membuatnya memiliki sifat keras kepala akut.
"Apaan sih." Disha membuang muka. Dia menutupi wajahnya yang memerah padam. Mata gadis itu juga mengerjap dengan canggung.
"Kenapa wajahnya gitu? Kau salting karena kejadian tadi malam ya?" tukas Defan. Entah kenapa saat menyaksikan sikap aneh Disha, dia merasa lebih percaya diri.
"Ish! Apaan. Jangan ngomongin yang tadi malam!" Disha berdiri sambil mendorong Defan. Dia menundukkan wajah. Hingga rambut panjangnya dapat menutupi wajah yang masih memerah itu.
Defan terkekeh. Dia mencondongkan wajah ke hadapan Disha. Perbuatannya membuat Disha berhenti menunduk.
"Iya deh, aku ngaku. Aku malu banget sama kejadian tadi malam," ungkap Disha.
"Santai saja, Sha. Lagian tidak ada hal berlebihan yang terjadi. Walau aku tidak bisa membantah bahwa kaulah yang bersikap berlebihan tadi malam," goda Defan.
"Iihh! Nyebelin!" Disha memukul dada Defan dengan satu tangan. Ekspresinya yang tadi kesal, perlahan berubah menjadi serius.
Sepersekian detik berlalu. Tiba-tiba Disha meraih salah satu tangan Defan. Memeganginya dengan dua tangan sekaligus. "Aku mohon berhenti bahas yang tadi malam. Oke? Demi aku, Toy. Anggap itu nggak pernah terjadi ya..." mohonnya. Dia memancarkan binaran mata penuh harap. Jari-jemari Disha bahkan mengelus pelan tangan Defan.
Deg!
Kini Defan yang diserang rasa tidak karuan. Karma seolah langsung menghukumnya. Dia tidak seharusnya menggoda Disha secara berlebihan.
__ADS_1
"I-iya. Kau tenang saja." Defan terbata-bata. Dia menarik tangannya dan berbalik membelakangi Disha. Defan mengumpat dalam hati. Sebab sentuhan kecil Disha tadi membuat ontongnya bangkit lagi.
'Anjir! Kenapa harus sekarang?' geram Defan dalam hati. Dia menenggak ludahnya sendiri. Jika Disha tahu, hancurlah sudah kepercayaan dirinya.