Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 26 - Nyamuk Amsterdam


__ADS_3

...༻✡༺...


Defan mencoba tenang dan menjawab, "Ya ampun, Sha. Perlukah kau membahas masalah privasimu sama aku?"


"Bukan gitu. Mungkin saja tadi malam aku melakukan hal yang tidak-tidak. Soalnya kau tahu sendiri aku selalu lupa dengan apa yang kulakukan saat mabuk," tanggap Disha. Dia perlahan beranjak dari ranjang. Berjalan sambil meringiskan wajah.


Defan menatap Disha dari belakang. Dia menjadi bersalah saat melihat perempuan itu kesakitan.


"Sha!" Defan akhirnya memanggil. Ia merasa cemas.


Disha memutar tubuhnya menghadap Defan. Mata mereka saling bertemu dari kejauhan.


"Sakit banget ya? Kau mau aku belikan obat?" tanya Defan.


"Sakit, Toy. Aku mau cek dulu ke kamar mandi," sahut Disha. Ia masuk ke kamar mandi. Di sana Disha melepaskan pakaian terlebih dahulu. Dahinya berkerut saat menemukan tanda merah di beberapa titik tubuh.


"Apa ini? Apa nyamuk Amsterdam semengerikan ini?" Disha tercengang. Ia tentu heran dari mana datangnya tanda merah di tubuhnya.


Setelah terfokus dengan tanda merah, barulah Disha memeriksa keadaan organ intimnya. Dia menemukan ada sedikit darah yang keluar dari sana.


"Tunggu, aku sudah menstruasi bulan ini. Apa aku menstruasi lagi?" Disha mendengus kasar. Dia benar-benar merasa bingung.


Akibat penasaran, Disha akhirnya mengenakan pakaian. Lalu keluar untuk bertanya kepada Defan.


"Toy! Tadi malam banyak nyamuk ya? Badanku merah-merah soalnya," tukas Disha.


Deg!


Defan kaget. Meskipun begitu, dia lagi-lagi berlagak layaknya tidak ada yang terjadi.


"Nyamuk Amsterdam ganas banget, Sha. Aku sampai harus beli semprotan nyamuk ke lobi tadi malam," kilah Defan. Skenarionya sudah merambah kemana-mana.


"Mana semprotan nyamuknya?" Disha mendekat sambil memindai ke sekitar.


Mata Defan membulat. Karena berbohong, dia tentu tidak bisa membuktikan.


"Aku tidak menemukannya. Ternyata pihak hotel kehabisan stok semprotan nyamuk. Aku rasa kita selalu sial. Hotel yang kita datangi selalu saja bermasalah." Defan menggeleng-gelengkan kepala.


"Pantas saja tubuhku merah-merah. Kalau tahu begitu, aku tidak akan minum sampai mabuk tadi malam." Disha menggosok-gosok tubuhnya berulang kali.

__ADS_1


"Sebenarnya kita berdua sama-sama mabuk tadi malam. Aku juga tidak cukup mengingat apa yang sudah terjadi," ungkap Defan.


"Benarkah? Pantas saja penjelasanmu sangat aneh. Harusnya kau bilang dari awal." Disha kembali masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan diri.


Sementara Defan. Dia duduk dengan perasaan gelisah.


"Kenapa aku nekat melakukannya? Aaarghhh!" Defan merasa frustasi sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya dengan perasaan kesal.


"Kasihan sekali Disha..." Defan gigit jari. Dia merasa harus melakukan sesuatu kepada Disha.


Defan segera menghubungi Ferdi. Berniat ingin menyalahkan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu.


"Dokter! Ini semua gara-gara kau!" timpal Defan dengan nada pelan namun penuh penekanan. Dia sesekali melirik ke pintu kamar mandi. Berharap Disha tidak keluar dari sana.


"Apa? Kenapa?!" balas Ferdi dari seberang telepon.


"Aku sudah melakukannya. Tapi ternyata apa yang aku lakukan membuat Disha kesakitan," jelas Defan.


"Hmmm... Melakukan apa ya?" Ferdi menanggapi dengan nada menggoda.


"Kau pikir aku melakukan apa lagi?"


"Hahaha! Akhirnya. Aku yakin kau pasti sangat menggila tadi malam."


"Ya sudah. Kau ingin menanyakan apa?"


"Aku bilang Disha jadi kesakitan karena perbuatanku. Tidak apa-apa yang terjadi kepadanya kan?" Defan bertanya dengan perasaan khawatir.


"Tunggu, Disha siapa?"


"Dia..." Defan bingung harus menjawab sahabat atau istri. Tetapi karena dia harus menyembunyikan hubungan kontraknya dengan baik, maka dia menjawab, "Istriku."


"Ya ampun, perlukah kau ragu untuk mengatakan kalau dia istrimu," komentar Ferdi. Ia meneruskan, "kau tenang saja. Rasa sakit di organ intim adalah hal normal untuk gadis yang baru pertama kali berhubungan intim. Jika itu terjadi, maka aku sarankan kau harus lebih sering melakukan--"


"Apa kau gila?! Sering kau bilang?"


"Ini saranku sebagai dokter. Itu memang jalan agar istrimu bisa terbiasa. Malah mungkin dia akan menikmatinya. Bahkan lebih menikmatinya darimu." Ferdi menjelaskan panjang lebar. "Dan jika kalian sering melakukannya, maka seorang anak akan cepat hadir," tambahnya.


"Itu tidak akan terjadi!" tegas Defan. Dia langsung mematikan panggilan telepon sebelum mendengar perkataan Ferdi lebih lanjut.

__ADS_1


"Aku kadang ragu dia itu dokter atau tidak," gumam Defan.


Bertepatan dengan itu, Disha keluar dari kamar mandi. Defan langsung meletakkan ponsel meja.


"Bagaimana? Kau baik-baik saja?" tanya Defan.


"Entahlah. Aku menemukan sedikit darah di organ intimku. Apa perlu aku memeriksakan diri ke dokter?" ujar Disha.


"Tidak!" Defan tentu menolak. Sebab jika Disha memeriksakan diri ke rumah sakit, maka kedoknya akan ketahuan. "Ma-maksudku, kita sebaiknya melihat keadaanmu sampai beberapa saat. Mungkin itu hanya sementara. Lagi pula memalukan bukan memeriksakan diri mengenai hal seperti itu," terangnya yang tergagap.


Disha menghela nafas. "Kau benar," ucapnya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar. Kita cari makanan enak khas Belanda. Lagian badai sudah berhenti," usul Defan tiba-tiba.


Disha menoleh. Matanya memicing penuh selidik. "Tumben sekali kau yang mengajak?" pungkasnya.


"Memangnya kau tidak bosan terus mengurung diri di sini?" balas Defan.


"Iya sih." Disha menggaruk tengkuknya. "Ya sudah kalau begitu. Kau mandi dulu gih!" sambungnya.


"Ini emang mau mandi." Defan segera menghilang ditelan pintu kamar mandi.


Setelah mengenakan pakaian untuk musim dingin, Defan siap untuk berangkat. Dia cukup kaget menyaksikan tampilan Disha. Sebab perempuan itu terlihat hanya mengenakan celana jeans dan mantel panjang.


"Aku nggak bawa persiapan selengkap itu," ungkap Disha yang merasa iri. "Sekali-kali kau mengalah, Toy. Biar aku ini sahabatmu, aku juga perempuan," sambungnya. Dia merasa yakin Defan tidak akan merelakan perlengkapan pakaian musim dingin untuknya. Disha tahu bagaimana cinta Defan terhadap dirinya sendiri.


Tetapi siapa yang menduga? Defan melepas topi kupluknya. Lalu memakaikannya ke kepala Disha. Perempuan tersebut terkesiap.


"Aku juga hanya bawa satu. Kau pakai saja." Defan mengungkapkan.


Usai memakaikan topi kupluk, Defan juga merelakan sarung tangan dan syalnya untuk Disha. Mata perempuan itu membola. Jantungnya berdebar-debar.


Disha menggeleng kuat. Dia mencegah dirinya agar tidak terbawa perasaan. "Kepalamu terbentur ya, Toy? Tumben kau begini?" tukasnya.


"Iya, kepalaku terbentur," balas Defan. "Aku cuman nggak mau kau sakit. Nanti malah bikin repot," ujarnya memberi alasan. Dia dan Disha segera beranjak dari hotel. Keduanya sepakat menyusuri jalan dengan berjalan kaki.


Walau sudah mengenakan perlengkapan pakaian musim dingin, Disha tetap merasa kedinginan. Dia beberapa kali menggosokkan tangannya.


Defan yang dapat melihat, langsung meraih salah satu tangan Disha. Kemudian memasukkannya ke dalam saku mantel panjangnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita mendatangi toko pakaian terlebih dahulu," kata Defan seraya mengedarkan pandangan.


Tanpa sepengetahuan Defan, Disha tertegun. Jantungnya lagi-lagi merasakan degupan tak terduga. Sikap Defan terasa begitu berbeda. Wajah Disha bahkan memerah bak kepiting rebus.


__ADS_2