
...༻✡༺...
Puas melampiaskan kekesalan, Disha beranjak masuk ke kamar. Defan otomatis mengikuti. Tetapi pintu kamar terlanjur dikunci oleh Disha.
"Sayang, maaf... Aku tidak--"
"Jangan panggil sayang!" Disha sengaja memotong perkataan Defan.
"Tapi--"
"Pergi! Biarkan aku sendiri!" lagi-lagi Disha menyambar ucapan Defan. Lelaki tersebut mendengus kasar. Mencoba memberikan Disha waktu.
Defan memutuskan menunggu di sofa terdekat dengan kamar Disha berada. Ia sesekali melirik ke pintu kamar. Tidak sabar menyaksikan istrinya keluar dari sana. Akan tetapi Disha tidak kunjung muncul. Mengharuskan Defan menghela nafas berulang kali.
Hari semakin malam. Defan akhirnya tertidur. Tanpa sepengetahuannya, Disha keluar di pagi buta. Ia membawa Angga dan Tirta ikut bersamanya. Disha sengaja menyuruh salah satu baby sitter untuk datang lebih cepat. Perempuan tersebut pergi tanpa sepengetahuan Defan.
Kabur saat ada masalah mungkin kebiasaan Disha. Kebiasaannya itu sudah terjadi semenjak SMA. Dia tipe orang yang butuh ketenangan diri untuk menyelesaikan masalah.
Disha pergi ke rumah orang tuanya. Dia sudah sepenuhnya pergi meninggalkan Defan. Perempuan itu hanya memberi kabar lewat pesan.
Setengah jam setelah Disha pergi, Defan terbangun. Dia tidak menemukan Disha dimana-mana. Defan lantas mencoba menelepon. Saat itulah dirinya menemukan pesan dari Disha.
'Fan, aku butuh waktu sendiri. Jangan temui aku dulu. Aku janji akan kembali.' Begitulah pesan dari Disha yang diterima Defan.
Sebagai suami yang baik, Defan akan menuruti keinginan Disha. Lagi pula dia sangat mengenal bagaimana sang istri.
Jujur saja, apa yang terjadi sekarang membuat pikiran Defan terganggu. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya juga. Menceritakan masalah kecilnya dan Disha.
"Apa? Disha hamil lagi? Bwahaha!" Zidan justru tertawa mendengarnya. Hal serupa juga dilakukan Zerin.
Sementara Defan tampak memasang raut wajah tidak suka. "Apa yang aku bicarakan itu lucu?" tukasnya.
"Tentu saja tidak, Fan. Aku dan Papamu hanya kaget. Kau dan Disha tidak pernah jeda. Kalian memangnya tidak menggunakan alat kontrasepsi?" tanya Zerin. Dia berhenti tertawa lebih dulu. Mendelik ke arah Zidan yang masih tergelak.
"Sudah, Ma! Kon-dom, pil, semua kami lakukan! Tapi tetap saja," jelas Defan.
"Pil? Boleh aku tahu kapan Disha meminum pilnya?" kini Zidan yang bertanya.
__ADS_1
"Pokoknya pas kami kembali mulai melakukan hubungan intim," jawab Defan.
"Sebelum atau sesudah?" Zerin memastikan.
"Pokoknya pas kami mulai melakukannya!" sahut Defan.
"Berarti sesudah." Zidan menyimpulkan. Ia dan Zerin bertukar pandang. Keduanya kembali tergelak.
"Ada ya orang tua tertawa di atas penderitaan anak," kritik Defan. Tak terima dirinya ditertawakan.
"Maaf, Fan. Tapi Disha seharusnya meminum pil itu jauh-jauh hari sebelum melakukan hubungan intim. Ya pasti brojol lagi lah kalau minumnya telat," imbuh Zerin.
"Sayang, kita akan dapat cucu lagi," ujar Zidan yang direspon Zerin dengan acungan jempol.
Defan otomatis memutar mata jengah. Mencoba memaklumi sikap tidak biasa dari kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian ponsel Zidan berdering. Dia mendapat telepon dari Giana. Wajahnya dan Zerin seketika berubah jadi serius.
"Kenapa? Kalau kau kesulitan, berhenti bekerja di sana dan pulanglah ke sini! Aku akan jual saja hotelnya!" Zidan mengomel.
Dahi Zidan berkerut dalam. "Kenapa sama hotelnya Giana, Ma?" tanyanya penasaran.
Lima hari terlewat. Barulah Disha pulang. Defan yang merasa sangat merindukannya langsung memberi pelukan.
"Maafkan aku..." lirih Defan.
"Nggak apa-apa. Aku sudah menerima semuanya sekarang," tutur Disha.
Defan yang juga merindukan Angga dan Tirta, segera memberikan ciuman dan pelukan hangat. Hal tersebut membuat senyuman mengembang di wajah Disha.
"Aku rasa kita harus memeriksakan diri ke dokter. Kita harus mencari tahu masalah kita apa," cetus Disha.
"Aku sudah tahu mengenai kesalahan pil kontrasepsi. Tapi tidak tahu kalau masalah kon-dom," ucap Defan. Dia segera menjelaskan apa yang diberitahukan Zerin kepada Disha.
"Jadi itu kesalahannya. Berarti ini semua salahku." Disha kecewa.
"Tidak ada yang salah. Mendapatkan anak itu adalah anugerah, Sha. Jangan sampai kekecewaan kita membuat anak di dalam perutmu sedih." Defan segera menenangkan Disha.
__ADS_1
"Kau benar." Disha mengangguk dalam dekapan Defan.
...***...
Lima bulan berlalu. Perut Disha sudah membesar. Menjadi ibu rumah tangga membuatnya sering mengomel karena hal kecil. Entah karena hormon, atau memang benar-benar kesal. Terutama dengan kebiasaan sang suami.
Disha juga sudah tidak mementingkan penampilan lagi. Dia sering mengenakan daster dan mengikat rambut dengan asal seperti ibu rumah tangga pada umumnya.
Defan baru saja keluar kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang karena merasa terancam dengan ekspresi cemberut Disha. Sebab Defan lagi-lagi lupa melipat selimut setelah bangun tidur. Disha terlihat mulai melipat selimutnya.
"Sini, Sayang. Biar aku saja." Defan bergegas menghampiri Disha.
"Nggak usah!" tolak Disha.
"Ayolah, Sayang. Kamu nanti kecapekan," bujuk Defan.
Mata Disha mendelik. Meskipun begitu, dia menyerahkan selimut di tangannya kepada Defan. Lelaki itu lantas bergerak untuk melipat selimut.
"Itu yang kau sebut melipat selimut?" timpal Disha. Dia kesal karena Defan melipatnya dengan asal.
"Kenapa? Yang penting sudah terlipat bukan," tanggap Defan. Namun Disha malah merebut selimut itu dari tangannya.
"Loh, kenapa..." Perkataan Defan terhenti saat Disha menghancurkan lipatan selimut. Kemudian memilih melipat selimut dengan cara yang benar dan rapi.
"Di matamu aku salah terus," ujar Defan. Tetapi Disha tidak hirau.
Bertepatan dengan itu, ponsel Disha berdering. Defan yang berada paling dekat dengan ponsel tersebut, langsung mengambilkan. Pupil matanya membesar ketika melihat nama Dimas tertera di layar ponsel.
"Siapa?" tanya Disha.
"Dimas!" sahut Defan.
Setelah tidak ada kabar beberapa tahun, akhirnya Dimas muncul kembali. Hal itu membuat Disha dan Defan benar-benar kaget.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Sebentar lagi novelnya tamat ya guys. Biar kita bisa lanjut ke novelnya Giana 😁