Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 41 - Gagak


__ADS_3

...༻✡༺...


Terus berciuman, itulah yang dilakukan Disha dan Defan. Kedua tangan mereka sudah melingkar di badan satu sama lain. Sesekali mereka memiringkan kepala agar bisa berciuman lebih leluasa.


Bersamaan dengan itu, Dimas datang. Dia terlihat kehujanan dan berusaha mencari Disha. Hingga atensinya tertuju ke arah pasangan yang berteduh.


Mata Dimas memicing. Memperjelas lelaki dan perempuan yang dilihatnya. Sebagai sahabat, dia tentu sangat mengenal perawakan Defan dan Disha.


"Tidak. Tidak mungkin itu Disha." Dimas tak mau percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia lantas berjalan lebih dekat.


Dimas dapat melihat wajah Disha dengan jelas, ketika kepala Defan bergerak ke kanan. Lelaki itu dan Disha masih sibuk bergulat mulut dan lidah.


Deg!


Dimas terhenyak. Dia membeku di tempat. Lalu segera membalikkan badan. Setelah yakin perempuan dan lelaki yang dilihatnya adalah Disha dan Defan, hatinya langsung sakit.


Dimas memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka, Disha akan lebih memilih Defan dibanding dirinya.


Karena terlampau sakit hati, Dimas bergegas pergi. Dia bahkan terpikir ingin langsung pulang ke Indonesia. Dimas belum bisa menerima hubungan yang terjalin di antara Disha dan Defan. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya yang terluka.


Di saat Dimas pergi, Defan melepas tautan bibirnya dari mulut Disha. Keduanya yang sejak tadi terpejam, perlahan membuka mata.


Wajah Disha memerah. Dia membuang muka dari Defan. "Bukankah sebaiknya kita kembali ke hotel? Aku akan pesan taksi," ucapnya yang merasa canggung dengan keadaan.


Defan tersenyum. Dia mendekatkan diri ke arah Disha. "Aku boleh tahu makna ciuman tadi nggak?" tukasnya.


"Apaan sih." Disha berusaha keras menahan senyuman. Ia hendak menjauh dari Defan. Tetapi tangan lelaki itu sigap melingkar ke pinggulnya.


"Jangan terlalu kaku sama cinta. Apalagi kalau jatuh cinta sama sahabat sendiri," ujar Defan. Dia memeluk Disha dari samping. Meletakkan dagunya ke pundak Disha. Dari sana Defan menatap Disha lamat-lamat.


"Jujur, aku sekarang lagi takut. Karena kau sejak tadi terus menodongkan senjatamu kepadaku," sahut Disha.


Defan membulatkan mata. Ia segera melihat ke bagian bawah perut. Hal serupa juga dilakukan Disha. Dapat terlihat jelas ada sesuatu yang mencuat dari balik celana Defan.


Kini Defan yang merasa malu. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.


"Inilah yang terjadi saat kau menyentuhku. Aku benar-benar kehilangan kendali..." ungkap Defan dengan tatapan enggan. Dia bergegas melepas pelukannya.

__ADS_1


Mata Disha mengedip cepat. Dia melepas jaket Defan. Lalu mengikat jaketnya ke pinggul lelaki itu. Hingga organ intim Defan dapat tertutupi.


"Apa ini hanya terjadi ketika kau dekat denganku? Apa kau pernah mencobanya dengan gadis lain?" tanya Disha.


"Aku rasa begitu. Aku belum pernah mencobanya dengan gadis lain. Kau mau aku--"


"Tidak! Jangan coba-coba!" Disha lekas angkat suara. Dia tentu tidak akan membiarkan Defan melakukan percobaan dengan perempuan lain.


Defan langsung tersenyum. "Kenapa tidak boleh?" tanyanya. Bermaksud menggoda. Salah satu alisnya terangkat.


"Pikirkan saja sendiri," jawab Disha. Tanpa menatap lawan bicara.


Defan melirik Disha. Senyuman mengembang di wajahnya. Dia tahu bagaimana Disha. Perempuan itu sama gengsinya seperti dirinya.


'Andai aku tidak melakukan kesalahan, mungkin sampai sekarang aku tidak akan pernah menyatakan perasaanku,' batin Defan. Dia dan Disha pergi ketika taksi datang menjemput. Keduanya kembali ke hotel.


...***...


Karena sempat hujan-hujanan, pakaian Defan dan Disha agak basah. Kini mereka baru masuk ke kamar.


"Mau ngapain?" timpal Disha dengan mata yang membulat sempurna. Terutama ketika Defan menahan pintu agar tidak tertutup.


"Mau mandi," jawab Defan. Singkat dan santai.


"Aku duluan. Kau setelah aku saja," saran Disha. Dia mencoba mendorong Defan. Tetapi dirinya justru didorong balik. Defan terus mendorong sampai pintu ditutup olehnya.


"Kenapa pintunya ditutup? Kau mau ngapain?" Disha sekali lagi bertanya. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan.


"Kan aku tadi sudah bilang kalau aku mau mandi," sahut Defan.


"Aku juga sudah bilang kalau aku duluan yang mandi. Ladies first, right?" Disha berusaha tenang.


Defan tersenyum tipis. Dia melangkah lebih dekat ke arah Disha. Sampai akhirnya perempuan itu terpojok ke depan wastafel.


Wajah Disha merah merona. Ia mengangakan mulut karena hendak bicara. Bukannya bicara, Disha malah mendapatkan ciuman di bibir dari Defan.


"Eummph!" Disha reflek memejamkan mata. Dia merasakan darah berdesir hebat di sekujur badannya. Disha tak kuasa menolak sentuhan Defan.

__ADS_1


Ciuman kali ini sangat berbeda dari ciuman sore tadi. Defan yang merasa gairahnya terpacu, meluma-at mulut Disha dengan buas.


Disha berusaha keras untuk mengimbangi. Membiarkan dua tangan Defan meliar untuk menyentuh setiap jengkal tubuhnya.


Satu per satu, Defan melepas pakaian Disha. Lalu barulah dirinya sendiri. Hingga kini keduanya tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka.


Bibir Defan segera beralih ke titik tubuh Disha yang lain. Memberi sentuhan serta kecupan yang sukses membuat Disha mulai melenguh.


Untuk yang pertama kalinya, Disha merasakan sentuhan Defan dalam tidak keadaan mabuk. Saat itulah dirinya dapat mengingat apa yang dilakukan Defan lebih jelas. Kegiatan intim sekarang, mengembalikan memori yang tak bisa di ingat Disha kala mabuk.


Nikmat, itulah yang bisa di ingat oleh Disha. Pantas saja dia tidak mencoba melakukan perlawanan terhadap Defan.


Nafas Disha dan Defan mulai memburu. Keduanya sudah terbawa suasana. Defan membimbing Disha berdiri membelakanginya. Kemudian barulah lelaki tersebut melakukan penyatuan.


"Toy!" pekik Disha. Ketika Defan telah melakukan pergerakan.


"Sha, aku rasa mulai sekarang kau harus berhenti memanggilku letoy..." desis Defan. Bicara ke dekat telinga Disha. Dia berucap sambil tidak berhenti memaju mundurkan pinggulnya.


Disha hendak menanggapi perkataan suaminya. Bertepatan dengan itu, Defan semakin mempercepat pergerakan. Membuat Disha harus urung berucap. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendes-ah.


Dari belakang, Defan ikut mengerang. Satu tangannya tak berhenti memainkan buah dada sang istri. Sedangkan tangan lainnya sibuk berpegang ke wastafel.


Lenguhan Disha kian menjadi-jadi. Apalagi ketika dirinya harus merasakan puncak kenikmatan berulang kali. Hantaman yang diberikan Defan membuat erangannya menggila.


Hentakan demi hentakan dilakukan Defan. Menimbulkan suara tepukan daging yang khas. Segalanya berakhir saat Defan telah mencapai puncak.


"Toy... Sekarang aku ingat apa yang kau lakukan padaku saat mabuk..." lirih Disha sambil mengatur nafas. Dia perlahan berbalik menghadap Defan. Disha menggigit bibir bawahnya seraya menatap Defan dengan mata sayu.


"Kau benar, Toy. Aku menikmatinya. Jujur, itulah yang kurasakan..." ungkap Disha.


Defan memegang wajah Disha. "Aku tahu. Tapi sepertinya aku sudah tidak pantas dipanggil letoy," ucapnya. Dia dan Disha tergelak kecil bersama.


"Kau benar. Aku sepertinya harus mencari nama julukan baru untukmu. Bagaimana kalau gagak?"


"Apa?" Defan mengerutkan dahi.


"Itu singkatan dari gagah dan tegak." Disha menjawab sambil melirik ke bagian bawah perut Defan.

__ADS_1


__ADS_2