Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 25 - Rasa Sakit Misterius


__ADS_3

...༻✡༺...


Defan memegang erat wajah Disha. Dia meluma-at bibir gadis itu dengan ganas. Disha bahkan sampai kehabisan nafas akibat perbuatannya.


Entah kenapa Disha justru menyukainya. Meski dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan kehangatan dari sentuhan gila bibir Defan.


Kaki Disha menggeliat tidak karuan. Dia merasakan sensasi aneh di perutnya berulang kali. Apalagi ketika tangan Defan sudah beralih untuk mencengkeram buah dadanya.


Defan melepas ciumannya dari Disha. Dia yang sudah sangat bergairah, merasa posisinya dan Disha sekarang tidak begitu nyaman.


Defan memaksa Disha duduk. Hingga bantal dipangkuannya dilempar begitu saja dengan asal. Sekarang organ intim Defan yang mengeras itu dapat terlihat jelas. Tampak menonjol di balik celana yang dipakainya.


Sementara itu, Disha hanya mengerjapkan mata. Penglihatannya sekarang tidak begitu jelas.


"Kenapa berhenti? Aku menyukai yang tadi..." racau Disha.


Defan tidak berkata apapun. Raut wajahnya nampak begitu serius. Dia seolah sedang kerasukan setan. Defan menggendong Disha dengan ala bridal. Kemudian menghempaskan gadis itu ke atas ranjang.


Sejak sesi ciuman tadi, nafas Defan sudah ngos-ngosan. Dia segera melepas pakaian. Sampai hanya menyisakan celana pendek.


Defan mengungkung dari atas badan Disha. Dia membuka baju gadis itu dengan tangan yang gemetar. Seakan dirinya sudah tidak sabar lagi. Kini terpampang nyata buah dada Disha yang berbalutkan bra berwarna merah delima.


Dengan cepat Defan melepas bra yang dikenakan Disha. Tanpa basa-basi, dia langsung melahap buah dada gadis tersebut secara bergantian.


"Akh!" Disha reflek melenguh. Sentuhan yang diberikan Defan, mampu memberikan sensasi kejutan mencandukan.


Lipstik yang belepotan di wajah Defan, perlahan beralih ke kulit putih Disha. Bagian dada gadis itu tampak merah-merah. Tidak hanya tanda merah lipstik, tetapi juga tanda merah dari Defan.


Disha merem-as seprai dengan dua tangannya. Walau sedang mabuk, dia menikmati semua sentuhan Defan. Terlebih lelaki itu selalu mengawalinya dengan lembut. Di akhir, barulah Defan memberikan sentuhan liar dari tangan dan mulutnya ke sekujur badan Disha.


Puas melakukan pemanasan, Defan melepaskan celananya dan Disha. Mereka dalam keadaan sama-sama telanjang.


Defan tak ingin membuang waktu. Dia melakukan penyatuan dengan Disha. Suara desa-han otomatis keluar dari mulut gadis tersebut.


Mulut Defan langsung menganga karena merasa kenikmatan. Dia melenguh.

__ADS_1


"Akh! Sakit!" Disha mengeluh. Mengingat ini adalah kali pertama dia melakukannya.


Bukannya cemas, Defan justru terus menghentakkan dirinya ke tubuh Disha.


Dalam keadaan setengah sadar, Disha mencengkeram kuat punggung Defan. Dia juga tak berhenti mengerang. Walau merasa sakit, Disha menikmati aktifitas intim yang terjadi. Itulah alasan dirinya memilih pasrah.


Sesekali Disha membuka lebar kelopak mata, wajah tampan Defan dapat terlihat jelas olehnya. Keringat membasahi sekujur badannya dan Defan. Badai salju yang terjadi di luar, tak cukup dingin untuk meredakan kegiatan panas mereka.


Beberapa menit kemudian, Defan melenguh panjang saat mencapai puncak. Dia memberikan hantaman dalam yang seketika membuat Disha mengeluarkan erangan lantang. Gadis itu merasakan cairan hangat masuk dari bawah sana.


Defan mengontrol nafas. Dia segera melepaskan diri dari Disha.


"Akh!" Disha meringiskan wajah ketika Defan melepaskan penyatuan. "Kenapa berhenti?..." racaunya sambil memicingkan mata. Penglihatannya sekarang begitu samar.


Defan hendak berhenti. Tetapi ketika mendengar Disha berucap begitu, ditambah menyaksikan penampilannya yang masih bugil, Defan akhirnya memulai ronde kedua.


Apa yang dilakukan Defan, membuat Disha kewalahan. Rambut panjangnya sudah setengah basah. Apalagi bagian bawahnya yang sudah dihantam berulangkali.


Parahnya ronde kedua berlangsung lebih lama dibanding yang pertama. Tubuh Disha melemas. Dia bahkan tak berpegangan lagi ke punggung Defan. Hanya mulutnya yang asyik bekerja memperdengarkan suara surga.


"Sial!" umpat Defan. Dia menggerus kepala dengan jari-jemari. Lalu mengenakan celana pendek. Defan baru sadar kalau dirinya lupa memakai pengaman.


Atensi Defan tertuju pada Disha yang telentang tanpa busana. Tubuh gadis itu dipenuhi banyak sekali tanda merah.


"Oke, aku atasi tubuh Disha dulu." Defan berusaha tenang. Kenikmatan yang dia rasakan tadi membuatnya lupa diri.


Defan menutup tubuh Disha dengan selimut. Dia mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air. Defan menggunakan handuk itu untuk mengelap tubuh Disha yang merah-merah karena lipstik di wajahnya.


"Tunggu, kenapa ada tanda merah yang tidak hilang?" Defan terheran. Dia tidak sadar kalau tanda merah yang diusapnya adalah perbuatannya sendiri.


"Sudahlah." Defan fokus membersihkan tubuh Disha dengan hati-hati.


"Apa yang kau lakukan? Itu dingin..." Disha berucap dalam keadaan mata terpejam.


Defan dibuat kaget karena racauan Disha. Dia membeku sejenak. Takut kalau gadis itu mendadak sadar.

__ADS_1


"Aku harap kau tidak hamil, Sha. Dengan begitu, apa yang terjadi malam ini bisa dilupakan," kata Defan. Dia hendak mengelap coretan lipstik di wajah Disha. Namun tidak jadi karena terpaku menatap bibir gadis itu. Lipstik di bibir Disha memudar. Semuanya gara-gara ciuman panas yang sempat dilakukan tadi.


Defan menggeleng kuat. Dia perlahan membersihkan coretan lipstik di wajah Disha. Setelah itu, Defan tidak lupa memakaikan kembali pakaian Disha. Ia benar-benar seperti penjahat yang membersihkan bukti-bukti kejahatan dengan rapi.


"Sudah." Defan mendengus lega. Ia segera membersihkan diri ke kamar mandi.


Selepas mandi, Defan memilih tidur di sofa. Ketika baru rebahan, dia langsung tertidur. Kegiatan intim yang dilakukannya tadi, membuatnya mampu tertidur sangat nyenyak setelah sekian lama.


Keesokan harinya, Disha menjadi orang pertama yang bangun. Dia langsung meringis kesakitan karena merasakan sakit di organ intimnya.


"Aaw... Kenapa terasa sakit sekali?" Disha memegangi alat vitalnya. Dia merubah posisi menjadi duduk.


Selain sakit di organ tubuh bagian bawah, Disha juga merasa kepalanya pusing. Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam. Tetapi tidak bisa.


Disha bergeser ke ujung tempat tidur. Dia menatap Defan yang masih asyik terlelap.


"Toy!" panggil Disha. Namun Defan tak bergeming.


"Letoy!" Disha memanggil untuk yang kedua kalinya. Defan masih saja belum bangun.


"Toy!" Disha akhirnya melemparkan bantal ke wajah Defan. Lelaki tersebut sontak terbangun. Defan tampak gelagapan seperti orang linglung. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sampai sosok Disha menjadi pusat perhatiannya.


Defan berhenti menatap Disha. Dia sudah siap berakting. Alasan yang meyakinkan sudah disusunnya bak sebuah skenario.


"Apa yang terjadi tadi malam?" tanya Disha.


"Kau mabuk." Defan menjawab singkat.


"Maksudku, apa yang terjadi saat aku mabuk?"


"Aneh seperti biasa. Tapi kali ini lebih bermanfaat. Kau sibuk bermain di keran wastafel kamar mandi. Lihat saja coretan lipstik di wajahmu jadi hilang." Begitulah alasan yang sudah disiapkan Defan.


"Benarkah?" Disha memegangi wajahnya. Dia ingin cepat-cepat melihat ke cermin. Tetapi saat bergerak, Disha lagi-lagi merasakan sakit di alat vitalnya.


"Tapi, Toy. Kenapa anuku sakit ya?" ucap Disha. Mata Defan otomatis membulat.

__ADS_1


__ADS_2