
...༻✡༺...
Defan dan Disha terlanjur menghampiri. Dimas mengabaikan apa yang dialami Dita dan fokus menyapa dua sahabatnya.
"Ya ampun, Sha... Kau hamil lagi?" tanya Dimas yang terfokus ke arah perut Disha yang sudah membesar.
"Ini yang ketiga, Co. Letoy lebih ganas dari yang kau kira," ucap Disha.
Dimas tertawa. Dita yang mendengar langsung melirik sinis. Sebab gadis itu tahu kalau tawa yang ditunjukkan Dimas palsu.
"Kenapa terus menyalahkan semua sama aku? Bisa juga kan masalahnya karena kau terlalu subur." Defan tak terima disalahkan.
"Menurutku masalahnya itu gagakmu." Disha menjawab sambil melirik ke bawah perut Defan.
"Gagak?" Dimas mengernyitkan kening.
"Iya, letoy sekarang berubah jadi gagak, Co!" sahut Disha sembari terkekeh.
"Sha! Bisa nggak berhenti sebut gagak?!" timpal Defan dengan tatapan mengancam.
"Emang apaan, Sha? Jangan bikin aku kepo." Dimas menuntut jawaban.
Dita yang sejak tadi di diamkan, segera angkat bicara. "Ya ampun, Mas. Masa nggak ngerti coba? Jelas-jelas tadi lirikan Disha ke arah tititnya Defan," ujarnya blak-blakkan.
Mata Defan dan Dimas membulat bersamaan. Namun dalam artian yang berbeda. Hanya Disha satu-satunya orang yang tergelak bersama Dita.
Defan merasa malu. Dia perlahan duduk ke kursi. Di iringi Disha dan Dimas setelahnya.
Dimas terlihat tidak berhenti memelototi Dita. Diam-diam, dia mencubit pangkal paha gadis tersebut.
"Aw!" Dita reflek mengerang.
__ADS_1
"Eh, kenapa? Nyamuk?" Dimas berlagak tidak bersalah. Kini dia dapat balasan pelototan dari Dita. Sedari tadi gadis tersebut terus menggaruk kepala.
"Ngomong-ngomong, Co. Kau belum perkenalkan kami sama perempuan cantik yang bersamamu ini," cetus Disha sembari menatap Dita. Gadis itu segera membalas tatapan Disha. Menghentikan pelotototannya terhadap Dimas.
"Iya, benar." Dimas merangkul pundak Dita. "Kenalkan namanya Dita Anggraini. Calon istriku. Aku dan Dita akan menikah dalam waktu dekat," ujarnya. Dia dan Dita memaksakan diri untuk tersenyum lebar.
"Menikah?" Defan merasa tak percaya.
"Benarkah itu?" Hal serupa juga dirasakan Disha.
Dimas mengangguk dalam keadaan masih tersenyum. Dia dan Dita bertukar pandang sejenak. Berlagak seperti pasangan yang saling mencintai.
"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya!" seru Defan antusias.
"Aku juga. Pantas saja wajahmu tampak begitu bahagia," ungkap Disha.
"Benarkah?" Dimas memegangi wajahnya karena merasa tidak yakin dengan perkataan Disha.
"Kau terlihat seperti bocil cengeng dimataku," bisik Dita. Lalu tersenyum kembali kepada Defan dan Disha.
Dimas lekas-lekas menyenggol Dita dengan siku. Dia segera mengajak Disha dan Defan mengobrol. Sesekali Dita juga masuk ke dalam pembicaraan.
Semuanya berjalan lancar. Sampai mereka lupa waktu. Mereka menghabiskan waktu mengobrol tiga jam lebih. Segalanya sangat menyenangkan bagi Dimas. Namun tidak bagi Dita. Dia sering diabaikan karena tidak tahu topik yang dibicarakan tiga sahabat di sekitarnya.
Saat waktu menunjukkan jam sebelas malam, barulah obrolan berakhir. Semua orang saling berpamitan dan pulang.
Sekarang Disha dan Defan dalam perjalanan menuju mobil. Keduanya melangkah sambil bergandengan tangan.
"Aku sangat bahagia mendengar Dimas akan menikah. Calonnya cantik banget ya," imbuh Disha.
"Iya, benar. Aku harap mereka juga bisa punya anak yang banyak seperti kita," tanggap Defan.
__ADS_1
"Emang kita punya banyak anak?"
"Kan tiga itu banyak. Menyalahi aturan pemerintah juga kan? Seharusnya dua anak saja lebih baik."
"Mau apa lagi juga. Sudah terlanjur jebol karena gagakmu!" tuka Disha.
"Ngomongin gagak, malam ini main oh yes sayang lagi yuk," ajak Defan.
Disha langsung menggeplak jidat Defan. "Main aja sama guling! Sudah tahu perutku buncit gini," keluhnya cemberut. Melepas gandengan tangan dari Defan. Kemudian berjalan lebih dulu.
"Sayang... Kan oh yes sayang nggak harus melakukan itu. Bisa sentuhan lain juga loh." Defan bergegas menyusul.
Di sisi lain, Dimas menyaksikan kepergian Disha dan Defan dari kejauhan. Dia berdiri dengan tatapan nanar. Meski sakit hati, tetapi Dimas merasa bahagia ketika melihat Disha bahagia.
"Mana duitnya. Aku setelah ini mau kerja lagi." Dita membuka lebar telapak tangan ke depan wajah Dimas. Ia tampak tidak malu menggaruk pahanya. Melepas kedua sepatu hak dan memilih tidak beralas kaki.
"Kerjanya cuman ngamen kok. Berlagak sibuk amat," komentar Dimas seraya mengambil dompet dari saku celana. Lalu menyerahkan lembaran uang kepada Dita.
"Aku ngamen sampai jam dua belas tahu!" Dita merebut lembaran uang yang diserahkan Dimas. Dia tak lupa menghitungnya.
"Masih kurang. Ini belum harga pengorbananku untuk berdandan. Belum lagi siksaan yang aku alami saat pakai sepatu monas ini!" keluh Dita.
"Anjir! Sepatu monas dia bilang." Dimas kembali mengambil uang. Dia kembali memberikannya kepada Dita.
"Nah ini baru mantul. Oke! Sampai jumpa bocil cengeng!" Dita melambaikan tangan. Dia segera beranjak. Jujur saja, gadis itu berjalan seperti seorang lelaki. Sama sekali tidak feminin. Parahnya Dita tidak malu melepas rambut palsunya yang panjang. Terpampang sudah rambut pendeknya yang juga persis seperti lelaki.
"Betina tapi kelakuannya jantan," komentar Dimas. Dia terpaksa membayar Dita agar bisa bertemu Disha dan Defan lagi. Sungguh, hidupnya terasa lebih hampa saat tidak bersama kedua sahabatnya tersebut.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Hari ini tamat ya guys. Ada yang mau cerita Dimas dan Dita lanjut? 🤣