Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 40 - Kiss, Rain, & Sunset In The Sea


__ADS_3

...༻✡༺...


Disha benar-benar kesal. Untung dia sudah berpakaian rapi. Berupa dress selutut motif bunga warna biru muda. Dia mengambil tas dan bergegas meninggalkan Defan dan Dimas. Kedua lelaki itu tentu berusaha menghentikan.


Disha yang sedang meregang amarah, sigap melayangkan tendangan ke alat vital Defan dan Dimas. Dua lelaki itu tumbang seperti pin bowling yang jatuh.


Memang begitulah Disha, dia tidak akan segan kepada orang yang berani mengusiknya. Bahkan sahabatnya sendiri. Atau bisa dibilang mantan sahabat.


Disha menghilang dari balik pintu lift. Defan dan Dimas saling bertukar pandang. Keduanya memancarkan tatapan penuh ambisi. Tatapan mereka bak bendera perang yang berkibar.


Dimas yang tak mau kalah perlahan berdiri. Sakit di organ intimnya sudah mulai mereda. Akan tetapi Defan dengan cepat menghentikan. Tangannya melingkar erat untuk mengapit leher Dimas.


Dimas segera melakukan perlawanan. Dia mengerahkan tenaganya untuk melepas tangan Defan.


"Kau mau kemana? Biar aku saja yang mengejar Disha. Kau sebaiknya pulang ke Indonesia! Pulang kampung saja sekalian ke Cianjur!" ujar Defan dengan nada mengomel.


"Eh, sontoloyo! Aku yang harusnya mengejar Disha! Kau sebaiknya urus kon-to*lmu yang sudah berubah jadi tongkat sapu nimbus 2000!" balas Dimas. Menyebut sapu terbang dalam film Harry Potter.


"Terima kasih. Aku akan menganggapnya sebagai pujian. Aku yakin kau tidak punya kon-to*l sepertiku." Defan sengaja bersikap menyebalkan.


"Tai kau!" Dimas yang sudah geram sejak tadi menyerang hidung Defan tanpa aba-aba. Ia memasukkan dua jarinya ke lubang hidung Defan. "Tuh! Biar hidung kau bisa ngikutin tren cepak mekar!" rutuknya.


Defan otomatis melepaskan Dimas. Hingga lelaki itu berlari lebih dulu untuk mengejar Disha.


Sementara Defan, harus mengusap hidungnya berulang kali. Dia juga bersin sekitar tiga kali karena masuknya dua jari Dimas yang kotor.


Gigi Defan menggertak kesal. Dia menyusul Dimas. Akan tetapi pintu lift sudah terlanjur ditutup. Defan lantas harus menunggu. Ia kalah cepat dari Dimas.


Ketika sudah tiba di lantai bawah, Dimas berlari keluar dari hotel. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap dirinya bisa menemukan sosok Disha. Namun keberadaan perempuan itu tidak terlihat dimana pun.


Dimas mengikuti instingnya. Dia mengambil jalan ke sebelah kanan.


Bersamaan dengan itu, Disha mengintip dari kejauhan. Dia sengaja bersembunyi di tempat tertutup karena benar-benar ingin menjauh dari Defan dan Dimas. Disha perlu waktu untuk berpikir. Semuanya terasa serba salah baginya.


Kini Disha bersembunyi di baling sebuah mobil. Kala dia hendak keluar dari tempat persembunyian, Defan mendadak muncul. Disha otomatis kembali bersembunyi.

__ADS_1


Defan memperlihatkan gelagat yang sama seperti Dimas. Dia mengambil jalan sebelah kiri. Tepat ke jalan dimana Disha sedang bersembunyi.


Mata Disha membulat. Ia segera berlari ke tempat lebih tertutup. Sehingga Defan tidak melihat dan pergi melewatinya.


Disha mendengus lega. Dia segera menghentikan sebuah taksi. Kemudian beranjak. Disha tak lupa mematikan ponsel. Bertujuan agar Dimas dan Defan tidak bisa menghubungi.


Di sisi lain, Defan tentu tidak bisa menemukan Disha. Terlebih dia melakukan pencarian dengan hanya berjalan kaki. Hal serupa juga dilakukan Dimas. Di tempat yang berbeda pastinya.


Hampir dua jam mencari, Defan dan Dimas sama-sama tidak bisa menemukan Disha. Padahal keduanya sesekali bertanya pada orang-orang sekitar.


Lelah mulai menyelimuti Defan. Ia duduk sejenak untuk istirahat. Defan bahkan membeli minuman untuk memulihkan dahaga yang sedang haus.


Defan mencoba menghubungi Disha beberapa kali. Namun nomor perempuan tersebut selalu tidak aktif.


"Dia kemana sih? Kabur terus kayak buronan," keluh Defan yang tak berhenti menghubungi Disha. Ia dirundung perasaan gelisah.


"Mungkin dia sudah kembali ke hotel sekarang," gumam Defan. Dia memutuskan kembali ke hotel.


Bukannya menemui Defan, dia justru berpapasan dengan Dimas. Keduanya bertemu di depan hotel.


"Katanya suami. Tapi mencari istrinya sendiri nggak bisa," cibir Dimas sinis.


"Bacot!" Dimas beranjak begitu saja. Apa yang dilakukannya sukses memotong perkataan Defan. Lelaki itu hanya bisa tercengang akan sikap Dimas.


Defan dan Dimas sama-sama mendatangi kamar Disha. Tetapi Disha tidak ada di sana.


Defan duduk ke sofa. Sedangkan Dimas terlihat mencari-cari sesuatu.


Dimas menemukan selembaran iklan tentang tempat-tempat wisata di Pulau Jeju. Dia langsung mengambil selembaran itu. Dimas yakin Disha pasti pergi ke tempat yang ada di selembaran tersebut.


"Apa itu?" Defan berhasil memergoki Dimas menyembunyikan selembaran ke kantong.


"Bukan apa-apa." Dimas menjawab dengan datar. Dia buru-buru keluar dari ruangan. Akan tetapi Defan menghentikan. Lelaki tersebut berupaya merebut selembaran yang disembunyikan Dimas.


"Fan!" Dimas sigap mendorong Defan. Dia menyalangkan mata. "Aku sarankan agar kita bersaing dengan sehat. Aku akan mencari Disha dengan caraku. Dan kau akan mencari Disha dengan caramu! Mengerti?" pungkasnya. Lalu pergi meninggalkan Defan.

__ADS_1


"Kau mendapatkan petunjuk. Sementara aku tidak!" geram Defan. Dia mengacak-acak rambutnya sambil memutar tubuh. Sampai atensinya tertuju ke arah cermin.


"Sial! Apa aku tadi berkeliaran dengan tampilan begini?!" gumam Defan saat melihat tampilannya di pantulan cermin. Dia yang belum mandi, tentu terlihat berantakan. Alhasil Defan memutuskan membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu. Lagi-lagi dia kalah cepat dari Dimas.


Usai mengurus dirinya, Defan pergi mencari Disha. Dia hanya bermodalkan melihat tempat wisata terkenal Pulau Jeju di internet.


Sudah seharian Disha belum ditemukan. Baik oleh Defan maupun Dimas. Kedua lelaki itu masih berusaha mencari.


Gerimis mendadak turun. Disha merenung seharian. Ia sekarang berada di pinggir pantai. Disha mendatangi lokasi pantai yang jauh dari keramaian.


Hamparan laut yang dihiasi matahari terbenam, membuat senyuman mengembang di wajah Disha. Ia bahkan tidak berteduh saat air dari langit membasahi.


'Aku benar-benar bingung sekarang. Meski perasaanku lebih condong kepada Defan, tapi entah kenapa aku masih merasa ragu?' batin Disha seraya menghela nafas panjang. Perlahan dia menundukkan wajah. 'Aku butuh pertanda agar hatiku bisa benar-benar yakin. Tuhan... Bantulah aku...' harapnya dalam hati.


Disha memejamkan mata. Dia berharap bisa menemukan jawaban atas kebimbangannya sekarang.


"Disha!" suara panggilan seseorang membuat mata Disha terbuka lebar. Dia menoleh ke arah sumber suara. Disha dapat menyaksikan Defan berlari mendekat.


Deg!


Jantung Disha langsung berdegup kencang. Bertepatan dengan itu, hujan semakin deras. Matahari juga semakin tenggelam.


"Kamu kenapa bengong di sini?" Defan menghampiri Disha. Melepas jaket, kemudian menjadikannya payung untuk Disha.


"Ayo kita berteduh!" ajak Defan sembari membawa Disha ke tempat mereka bisa bernaung.


Defan berhenti saat sudah tiba di tempat teduh. Ia membiarkan jaketnya dipakai oleh Disha.


"Kau kenapa kabur terus? Aku sama Dimas mencarimu kemana-mana," ujar Defan.


Disha sejak tadi hanya diam. Terus menatap Defan yang tak berhenti berceloteh. Disha merasa apa yang dilihatnya sekarang adalah jawaban atas harapannya tadi.


Hingga tibalah waktunya Defan menyadari kalau Disha terpaku menatapnya. Senyuman terukir di wajah Defan. "Kenapa? Baru sadar kalau aku ganteng?" tanyanya. Namun Disha masih mematung dan tak berhenti menatap.


Senyuman Defan lantas memudar. Dia jadi ikut terpaku. Defan dapat merasakan tatapan lekat Disha yang begitu dalam.

__ADS_1


Defan menenggak salivanya satu kali. Dia mendekatkan diri kepada Disha. Sampai bibirnya mampu memagut bibir perempuan itu. Defan melakukannya satu kali. Takut Disha akan marah.


Defan menjauh dengan pelan. Namun siapa yang menduga? Disha justru menghentikan pergerakan Defan. Disha kembali menyatukan bibirnya dengan mulut lelaki tersebut. Defan tentu tak menolak. Ciuman mereka berlanjut. Di tengah hujan yang menderas, serta di detik-detik matahari terbenam.


__ADS_2