Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 48 - Bertemu Dimas Lagi


__ADS_3

...༻✡༺...


"Dimas?" mata Disha membulat. Hal serupa juga dilakukan Defan.


"Kau angkat!" suruh Disha.


"Kau saja. Dia kan nelepon kamu!" tolak Defan sembari menyerahkan ponsel.


"Kamu lah! Kalian kan sama-sama lelaki!" Disha juga enggan bicara.


"Kenapa malah bicarain gender? Dia justru lebih enak bicara sama kamu!"


"Enggak. Kau saja!" Disha tak mau mengalah. Dia dan Defan saling memaksa. Sampai panggilan telepon dari Dimas berhenti.


"Tuh kan berhenti. Telepon balik gih!" Disha menyerahkan ponsel kepada Defan. Lelaki itu mendengus kasar.


Belum sempat menelepon balik, Dimas sudah kembali memanggil. Defan segera mengangkat panggilan tersebut. Saat itulah dia langsung memaksa Disha menggenggam ponsel. Lalu berlari keluar dari kamar.


"Defaaan!" pekik Disha. Dia tidak bisa mengejar karena keadaan perutnya yang besar. Kini Disha terpaksa bicara dengan Dimas.


"Dimas?" ujar Disha meragu.


"Sha! Apa kabar? Kau nggak kangen sedikit pun sama aku? Sudah hampir tiga tahun kau dan Letoy tidak pernah bertanya tentang kabarku," tanggap Dimas dari seberang telepon.


"Hah?" Disha terpelongo. Dia tidak menyangka Dimas terdengar seolah baik-baik saja. Jelas itu adalah hal yang baik untuk diketahui. "Co... Kau baik-baik saja kan?" tanyanya.


"Memangnya aku kenapa? Besok kita makan malam yuk! Aku mau memperkenalkan kalian sama seseorang."

__ADS_1


"Seseorang?" Disha penasaran.


"Iya. Ajak Defan juga sekalian," ujar Dimas.


"Benarkah?" Disha masih merasa tidak percaya.


"Besok kau dan Defan punya waktu kan? Kalau tidak bisa, sebaiknya aku--"


"Tidak, Co! Tentu saja kami bisa. Sampai ketemu besok malam ya." Disha segera angkat suara. Dia sebenarnya senang mendengar Dimas baik-baik saja. Disha berharap semuanya benar-benar begitu.


Tanpa pikir panjang, Disha bergegas memberitahukan semuanya dengan Defan. Lelaki tersebut ikut merasa senang saat mendengar bahwa Dimas terdengar baik-baik saja.


"Jujur, aku sangat takut hubungan kita tidak pernah membaik dengan Dimas," ungkap Disha seraya mendengus lega.


"Aku juga. Tapi syukurlah... Dengan begitu hidup kita bisa jadi lebih damai. Mungkin ini juga bisa melepaskan kita dari kutukan keteteran punya anak," cetus Defan.


"Kan kita memang nggak bisa jeda, Sha. Aku kasihan sama kamu loh." Defan memegang wajah Disha. Hingga pipi perempuan itu menggembul.


Disha memasang raut wajah cemberut. Lalu menjauhkan tangan Defan. "Kalau kasihan ngapain wajahku ditekan-tekan?" tukasnya yang melakukan pembalasan dengan mencubit hidung Defan.


"Sengaja cari gara-gara ya. Awas kau." Defan menarik tangan Disha. Dia melakukan pembalasan dengan memberikan kecupan tanpa henti ke bibir Disha.


"Heummphh!" Disha berusaha menghindar. Namun segalanya malah berakhir dengan canda dan tawa.


...***...


Hari dimana Disha dan Defan akan melakukan makan malam telah tiba. Keduanya baru saja keluar dari mobil.

__ADS_1


Defan menuntun Disha dengan hati-hati. Mengingat perempuan tersebut sedang hamil lima bulan lebih. Jadi keadaan perut yang besar, membuatnya agak sulit melangkah.


"Sayang, Kroco sama perempuan!" seru Defan yang sudah bisa melihat Dimas dari kejauhan.


"Yang benar?" Disha lantas ikut melihat. Ternyata benar apa yang dikatakan Defan. Dia dan Defan merasa semakin antusias.


"Ayo! Aku sudah nggak sabar ingin cari tahu!" ujar Disha seraya memaksa Defan untuk berjalan lebih cepat.


"Dasar kepo," komentar Defan.


Di waktu yang sama, Dimas baru sadar dengan kehadiran Disha dan Defan. Dia langsung menyenggol gadis bernama Dita yang duduk di sebelahnya.


"Itu mereka! Kau tahu yang harus kau lakukan bukan?" ujar Dimas. Menatap Dita dengan sudut matanya.


"Ah, gampang itu," sahut Dita santai. Dia mengangkat salah satu kakinya ke atas lutut. Duduk seperti abang-abang di warung.


"Dita!" Dimas langsung mendelik.


"Sorry, kebiasaan." Dita berusaha duduk seperti perempuan pada umumnya. Namun dia agak kesulitan dengan dress dan sepatu hak yang dirinya kenakan. "Ah! Ini nyebelin banget sumpah!" keluhnya seraya menarik ujung dressnya yang dirasa tidak nyaman.


Srak!


Tanpa diduga dress Dita sobek. Matanya dan Dimas membulat bersamaan.


"Dita!" sekali lagi Dimas berseru.


"Harusnya aku tadi pakai celana jeans tahu nggak! Kau kenapa suruh aku pakai baju ngelendoy gini?!" timpal Dita yang justru mengomeli Dimas. Dia sebenarnya gadis tomboi yang entah bagaimana ceritanya dipaksa Dimas untuk berdandan.

__ADS_1


__ADS_2