Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 32 - Pengakuan Defan


__ADS_3

...༻✡༺...


Saat Dimas menyodorkan satu sendok makanan, Disha langsung merasa mual. Perempuan itu reflek menutupi mulut.


Dimas terpaksa merelakan Defan untuk terus menyuapi Disha. Hati Dimas benar-benar kecewa menyaksikan kedekatan dua sahabatnya tersebut. Meskipun begitu, dia tetap memilih berada di sisi Disha. Mengingat keadaan perempuan itu dalam kondisi mengkhawatirkan sekarang.


Setelah makan, Disha menonton televisi dengan tatapan kosong. Dia masih terlihat frustasi walau tangisannya telah pudar.


Iklan produk makanan memunculkan kembali rasa mual Disha. Kali ini dia muntah. Mengeluarkan cairan melalui perutnya.


Dimas dan Defan gelagapan. Keduanya tentu sangat mencemaskan Disha.


"Sebaiknya kita bawa Disha ke rumah sakit," usul Dimas. Dia dan Defan sama-sama berada di dekat Disha. Dimas membantu perempuan tersebut berdiri, sedangkan Defan membersihkan muntahan yang belepotan.


"Enggak... Aku nggak mau ke rumah sakit. Nanti keluargaku tahu aku hamil." Disha kembali memecahkan tangis.


Tangisan Disha seperti sebuah kritikan pedas yang menghantam nurani Defan. Siap atau tidak siap, dia pasti akan ketahuan.


Sampai akhirnya terlintas nama Zidan dalam benak Defan. Ia tahu kalau ayahnya itu sangat hebat dalam mengatasi masalah. Kini Defan tak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya kepada Zidan. Lagu pula, Disha sudah hamil akibat perbuatannya. Perasaan istimewa di hati Defan juga sudah tak terbantahkan lagi.


Belum sempat bertindak menghubungi Zidan, ayahnya itu menelepon lebih dulu. Tanpa pikir panjang Defan mengangkat panggilan tersebut. Dia menjauh dari Disha dan Dimas sebentar.


"Fan! Kenapa kau membiarkanku tahu lewat orang lain? Aku sebagai orang tuamu seperti orang bodoh tahu nggak!" timpal Zidan dari seberang telepon. Dia membicarakan perihal berita kehamilan Disha yang sedang beredar.


"Aku punya alasan, Pa. Tolong dengarkan aku!" ucap Defan. Dia mengumpulkan keberanian sejenak. Kemudian menceritakan Zidan yang sebenarnya. Dari mulai pernikahan kontrak, masalah organ intim yang tak terkendali, serta kehamilan tak terduga Disha. Defan jelas meminta bantuan sang ayah untuk menemukan solusi.


"Hahaha! Kau suntik impoten, Fan? Bwahahaha! Aku rasa itu karma yang kau dapatkan karena membohongi banyak orang." Zidan justru tergelak. Wajah Defan sontak memberengut.


"Pa! Aku sekarang butuh solusi, bukan komentar darimu! Lagi pula aku melakukan suntik impoten demi kebaikan. Aku hanya tidak mau menjadi lelaki kurang ajar yang main celap-celup sana-sini!" omel Defan.


"Oke, oke." Zidan berhenti tertawa. "Biar aku pastikan satu hal dulu. Apa kau mencintai Disha?" tanyanya.

__ADS_1


"Entahlah. Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya jadi--"


"Apa kau berdebar saat didekat Disha? Merasa ingin terus menyentuhnya?" potong Zidan. Dia tidak butuh pertanyaan panjang lebar untuk mengetahui perasaan Defan.


"Ya, aku merasakan itu." Defan mengakui.


"Kalau begitu, yang perlu kau lakukan sekarang adalah mengakui kelakuanmu. Aku tahu itu bukan hal mudah. Tapi lebih baik kau bicara lewat mulutmu dari pada Disha mengetahui dengan sendirinya. Lalu, jangan lupa untuk menyatakan perasaanmu yang sebenarnya."


"Itu bukan hal yang mudah, Pa! Disha dan aku sahabat. Selain itu Dimas juga jatuh cinta kepadanya. Aku dalam posisi yang sulit sekarang!"


"Lakukan saja. Atau masalahmu akan semakin besar. Jujur, aku pernah berada di posisimu saat belum menikah dulu. Kau harus bisa memilih. Cinta atau persahabatan?" Zidan bicara dengan nada serius. "Fan, kumohon jangan jadi lelaki pengecut dan bodoh. Beranilah! Ikuti kata hatimu. Kalau gairahmu tak tertahan, keluarkan semuanya. Kau tidak perlu harus membuat Disha mabuk. Sebenarnya, itulah caraku dan ibumu jadi saling jatuh cinta. Lagi pula, kau dan Disha terikat dalam hubungan yang sah," sambungnya panjang lebar.


Defan mengangguk. Motivasi dari Zidan membuatnya merasa lebih baik. "Baiklah. Aku akan mengikuti kata hatiku," ucapnya.


"Satu hal lagi, putraku. Meski kita tidak sedarah, aku tahu kau punya naluri kebuasan yang sama sepertiku. Jadi, keluarkan itu semua. Jangan menahannya lagi." Begitulah kalimat terakhir Zidan yang didengar Defan sebelum panggilan telepon terputus


Defan membuang nafas dari mulut. Lalu berjalan dengan gagah menghampiri Disha dan Dimas. Dua orang itu sontak mendongak untuk menatapnya.


"Mukamu kenapa serius banget?" tukas Disha.


"Aku ingin mengakui sesuatu," ujar Defan.


Disha dan Dimas berhenti tertawa. Keduanya ikut menunjukkan ekspresi serius.


"Aku yang telah melakukannya, Sha. Maafkan aku," ungkap Defan.


Dahi Disha dan Dimas mengerut bersamaan. Dimas langsung berdiri.


"Kau... Bicara apa, Toy?..." tanya Disha lirih. Dia berharap apa yang ada di pikirannya salah. Sebab Disha berpikir kalau Defan sedang mengakui kesalahan terkait kehamilannya.


"Aku melakukannya saat kau mabuk, Sha. Tapi aku punya--"

__ADS_1


Buk!


"Teman bajingaannnn!!!" Dimas yang tahu Defan membicarakan apa, langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah Defan. Lelaki itu sontak terjatuh ke lantai.


Sementara Disha, dia dibuat sangat kaget. Air matanya kembali meleleh di pipi. Disha tidak menyangka orang yang paling dipercayainya malah melakukan hal tak terduga. Terlebih apa yang dilakukan Defan berkaitan dengan se-ks. Sesuatu hal yang dianggap Disha mustahil untuk dilakukan Defan.


Disha memegangi dadanya. Ia semakin terpukul saat menyaksikan Dimas dan Defan berkelahi.


"Hentikan," tegur Disha. Dia tidak bisa bersuara nyaring karena hatinya terasa sesak. Disha berdiri dan mencoba menghentikan perselisihan di antara Defan dan Dimas.


Dimas terlihat masih sibuk memukuli Defan. Dia terbakar cemburu dan amarah.


Gigi Defan menggertak. Dia teringat perkataan Zidan tadi. Defan tak akan mengalah. Ia sigap menahan serangan dari Dimas. Lalu mendorong lelaki tersebut sampai jatuh.


"Sudah kubilang aku punya alasan!" pekik Defan.


"Keparat! Kau tidak pantas menyentuh Disha!" Kemarahan Dimas bak kerasukan setan. Wajahnya memerah padam. Hatinya benar-benar sesak ketika mendengar Defan tega menyentuh Disha saat perempuan itu dalam keadaan mabuk.


"Apa?! Tidak pantas? Aku suaminya! Secara hukum, aku berhak menyentuh Disha!" tegas Defan.


"Bang-sat kau, Fan!" Dimas langsung menyerang Defan. Keduanya melakukan adu jotos. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.


"Hentikan! Defan! Dimas!" Disha gelagapan. Dia menangis sambil terus berteriak karena merasa ngeri sendiri melihat perkelahian sengit dua sahabatnya.


"Kenapa kalian melakukan ini? Kumohon hentikan..." mohon Disha.


Dimas yang amarahnya lebih membuncah, berhasil membuat Defan tumbang. Dia sekarang berada di atas badan Defan. Dimas melayangkan kedua tangannya untuk meninju wajah rupawan Defan.


Muka Defan jadi babak belur. Disha yang cemas, buru-buru mendorong Dimas. Menjauhkan lelaki itu.


"Fan..." Disha memeluk Defan yang sudah tak berdaya. Dimas benar-benar tercengang saat melihatnya.

__ADS_1


"Sha! Dia sudah diam-diam menidurimu saat kau mabuk! Dan kau lebih membelanya dibanding aku?!" timpal Dimas.


Disha hanya diam. Ia menangis sambil mengusap wajah Defan yang dipenuhi lebam dan darah.


__ADS_2