
...༻✡༺...
Disha menahan Defan. Mendorong lelaki itu menjauh darinya. Hingga dia dapat berdiri dan menjaga jarak.
"Kenapa kau melakukannya, Fan? Kenapa?! Aku kecewa banget sama kamu!" ucap Disha dengan nada penuh penekanan.
"Aku sepertinya jatuh cinta padamu, Sha..." ungkap Defan. Dia berdiri dan mencoba kembali menghampiri Disha.
Deg!
Jantung Disha berdetak lebih cepat. Meskipun begitu, dia mengabaikan perasaannya tersebut.
"Kau bercanda kan?! Itu hanya akal-akalanmu untuk membela diri," pungkas Disha tak percaya.
"Apa kau pernah jatuh cinta, Sha? Apa jantungmu pernah berdebar tidak karuan saat melihat seseorang?! Itulah yang aku rasakan kepadamu! Aku selalu ingin berada di sampingmu. Bahkan sekarang aku sangat ingin menyentuhmu," ucap Defan seraya berjalan ke arah Disha.
"Jangan mendekat!" Disha menghentikan Defan sambil mengangkat satu tangan ke arah Defan.
"Sha... Aku tidak akan menyakitimu." Defan tidak mendengarkan. Ia terus melangkah maju.
"Defan! Berhenti nggak? Aku tidak akan--" perkataan Disha terhenti saat Defan melangkah cepat ke hadapannya. Menyudutkan Disha ke depan lemari.
Nafas Disha terdengar bergerak cepat. Defan dapat mendengarnya dengan jelas. Wajah perempuan tersebut juga memerah padam.
Disha lekas membuang muka. Menundukkan kepala agar rambut panjangnya bisa menutupi rona merah di wajah.
"Kau gugup?" Defan menyampirkan rambut Disha ke belakang.
__ADS_1
'Sial! Kenapa perasaanku jadi begini?' Perasaan Disha semakin tidak karuan. Apalagi ketika Defan memeluknya. Kemudian mengelus kepala Disha dengan lembut.
"Maafkan aku, Sha... Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkanku. Lagi pula, anak yang ada di dalam perutmu adalah anakku. Izinkan aku untuk merawatnya sekaligus merawatmu," tutur Defan.
"Lepaskan aku!" Disha yang sempat terlena, buru-buru mendorong Defan. Hingga dia dapat lepas dari dekapan lelaki itu.
"Aku pergi ke rumah ini untuk menghindarimu! Sekarang bisakah kau pergi?!" tegas Disha seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah pintu.
"Maaf, Sha. Aku tidak bisa pergi. Kau tidak takut Mamah akan khawatir?" tanggap Defan. "Kau tidak mau kan dia berprasangka yang tidak-tidak terhadap pernikahan kita?" sambungnya.
Disha terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menampik perkataan Defan. Dirinya memang tak mau membuat Mona dan keluarganya cemas.
"Kalau kau kesal padaku, abaikan saja aku." Defan duduk ke tepi ranjang. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. "Akhirnya aku bisa melihat bagaimana kamarmu," komentarnya.
Disha benar-benar mengabaikan Defan. Dia pergi keluar dari kamar.
Defan yang merasa belum membersihkan diri sejak keluar dari rumah sakit, memeriksa lemari. Mengambil pakaian yang bisa dikenakan. Lalu membersihkan diri ke kamar mandi.
Bertepatan dengan itu, Disha kembali ke kamar. Dia disuruh Mona untuk menyuruh Defan ikut makan malam.
"Loh, dia kemana?" Disha sudah tidak melihat keberadaan Defan lagi.
"Bagus deh kalau dia pergi. Sebaiknya aku mandi saja," gumam Disha. Dia sama sekali tidak berpikir Defan ada kamar mandi.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Defan yang ada di dalam dapat mendengar jelas. Dia baru selesai mandi. Tampilan Defan sekarang hanya dengan keadaan handuk yang terlilit di pinggang. Lelaki itu sengaja tetap diam di balik tirai.
__ADS_1
Sebenarnya Defan dapat melihat ketertarikan Disha terhadapnya. Namun dia yakin perempuan tersebut belum menyadarinya. Pilihan Defan untuk tetap bersama Disha sekarang adalah membuktikan dugaannya. Itulah alasan dia terus mendekati Disha.
Ketika Disha hendak melepas pakaian, dia melihat ada pakaian Defan di lantai. Dari sana dirinya tahu kalau lelaki itu ada di dalam kamar mandi.
Disha batal melepas pakaian. Ia menoleh ke arah pancuran shower. Di sana nampak jelas siluet lelaki yang sedang berdiri.
"Defan!" geram Disha sembari membuka tirai. Matanya membulat tatkala menyaksikan tampilan Defan. Wajah Disha memerah bak kepiting rebus. Dia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kenapa membuang muka? Kau malu atau merasa berdebar?" tanya Defan. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Disha.
"Jangan dekat-dekat!" Disha reflek melangkah mundur. Namun dia justru terpeleset.
Defan sigap menarik tangan Disha. Sampai perempuan itu berada dalam dekapannya.
Disha merasa hampir jantungan. Matanya terbelalak. Tubuh dan wajahnya sekarang menempel ke tubuh atletis Defan yang setengah telanjang. Tangan Disha bahkan tak sengaja menyentuh otot perut lelaki tersebut.
"Nyaris saja kau jatuh. Kalau jatuh, aku takut kondisimu dan anak kita kenapa-napa," ujar Defan.
"Ih! Lepas!" Disha memberontak. Defan lantas melepaskannya. Dia bisa melihat gelagat Disha yang salah tingkah. Apalagi ketika perempuan itu memegangi tengkuk sambil menundukkan kepala. Disha kesulitan menyembunyikan wajah merahnya.
"Sha! Wajahmu merah banget. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Defan. Dia kembali mendekat. Satu tangannya menempel ke jidat Disha. Mencoba memeriksa frekuensi panas tubuh perempuan tersebut. "Tidak panas," simpulnya setelah menyentuh dahi Disha.
Disha yang merasa sangat malu, memukul keras tangan Defan. Lalu membawa lelaki itu keluar. Disha mendorong Defan keluar kamar mandi.
Defan terhuyung. Tanpa diduga, handuk di pinggangnya lepas sendiri. Kini tubuh bugil Defan terpampang nyata.
Disha tercengang. Dia nyaris berteriak. Tetapi Defan langsung membekap mulutnya.
__ADS_1
"Nggak usah lebay, Sha. Mulai sekarang aku akan pastikan kau akan terbiasa," ucap Defan. Dua alisnya terangkat bersamaan. Senyuman penuh tekad terukir di wajah Defan.