Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 29 - Bubur Bebek


__ADS_3

...༻✡༺...


Defan membiarkan Disha terus minum. Sampai akhirnya perempuan tersebut mabuk. Selanjutnya Defan menggendong Disha ke kamar. Membiarkan Disha telentang di ranjang.


Mata Defan terpaku menatap Disha. Hati nuraninya muncul.


'Apakah aku keterlaluan?' batin Defan yang sudah siap melepas celana. Namun senjata pribadinya yang masih menuntut membuat kendalinya hilang. Alhasil Defan tetap pada niat awal.


Defan melepas seluruh pakaiannya dan Disha. Memulai dengan ciuman di bibir.


Disha yang setengah sadar, memegangi wajah Defan. Ia membalas pagutan demi pagutan. Disha mulai melenguh saat tangan lelaki yang sekarang di atas badannya menggerayangi.


Kecupan Defan mulai merambah ke leher hingga dada Disha. Menyebabkan gairah perempuan itu memuncak.


Puas melakukan pemanasan, Defan segera menyatukan tubuhnya dengan Disha. Ia menghentakkan dirinya berulang kali. Ranjang bergerak seiring pergerakan Defan.


Erangan Disha kian tak terkendali. Sama halnya dengan Defan.


Suara tepukan daging memecah kesunyian. Tubuh Defan dan Disha menggelinjang hebat. Defan melepaskan diri saat telah merasa terpuaskan. Ia bergegas mengenakan pakaian. Lelaki tersebut juga tak lupa memakaikan baju untuk Disha.


"Maafkan aku, Sha..." lirih Defan dengan tatapan penuh iba. Dia duduk ke samping Disha. Menatap perempuan itu lamat-lamat. Entah kenapa ada perasaan kagum dan debaran aneh yang dirinya rasakan.


Defan memegangi dada. "Sial! Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadamu?" katanya yang terkesan seperti mengeluh. Dia segera kembali ke kamar setelah merapikan keadaan Disha dan ranjang.


Keesokan harinya, Disha bangun saat alarm berbunyi. Dia langsung meregangkan badan. Wajahnya meringis ketika merasa tubuhnya terasa pegal. Terutama di bagian pinggul.


"Sepertinya tadi malam aku mabuk..." Disha tidak mengakhiri perkataannya. Sebab rasa mual mendadak dia rasakan. Tangannya lantas menyentuh perut.


"Huek!" Disha mual. Dia hendak memuntahkan sesuatu dari mulut. Disha bergegas ke kamar mandi. Mencoba mengeluarkan apa yang ingin dimuntahkan. Akan tetapi tidak ada apapun yang keluar.


Meskipun begitu, rasa mual masih dirasakan Disha. Perutnya terasa benar-benar tidak enak.


"Apa kemarin mabukku sangat berlebihan?" gumam Disha sembari menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Toy!" pekik Disha. Memanggil Defan.


Selang sekian menit, Defan datang. Dia terlihat sudah mengenakan kemeja. Di lehernya terdapat dasi yang belum dipasang rapi.


"Kenapa?" tanya Defan seraya mendatangi kamar mandi. Pintunya tampak terbuka lebar. Lelaki itu berdiri di depan pintu sambil memasang dasi.


"Kemarin aku minum berapa botol? Perutku rasanya nggak enak banget. Aku mual, tapi nggak bisa muntahin apa-apa," ungkap Disha.

__ADS_1


"Kau kenapa?" mata Defan membulat.


"Aku mual, Toy!" sahut Disha.


"Mual kenapa?" balas Defan. Dia berhenti mengurus dasinya.


"Aku nggak tahu. Aku cuman merasa mual aja. Mungkin karena efek alkohol kali ya. Mulai sekarang sebaiknya aku nggak minum lagi." Disha meringiskan wajah sambil memegangi perut.


Defan mematung di tempat. Dia baru ingat kalau tadi malam dirinya lupa lagi memakai pengaman. Sebagai putra dari pasangan dokter, Defan cukup mengetahui ilmu kesehatan. Ia takut kalau mual yang dirasakan Disha adalah gejala hamil.


Sementara Defan diserang rasa panik, Disha menatap ke arahnya. "Ini gara-gara kau sih, Toy! Kenapa ngajak aku minum segala tadi malam?" timpalnya.


"Maaf, Sha. Aku akan tanggung jawab. Aku akan belikan makanan yang kau mau. Lalu obat pereda mual juga," tanggap Defan. Untuk sekarang, dia ingin memastikan tanda-tanda yang di alami Disha apakah benar-benar kehamilan atau bukan. Makanya Defan memutuskan untuk bersikap seperti biasa.


"Gitu dong!" Disha tersenyum.


"Kau mau makan apa?" tanya Defan.


"Hmmm..." Disha berpikir sembari mengelus-elus perutnya. Setelah berpikir lama dia segera memberitahu. "Aku ingin makan bubur ayam, tapi nggak pakai daging ayam. Aku mau daging bebek aja," ujarnya.


"Hah?" Defan sontak bingung.


Disha berdecak. "Jadi bisa dibilang makanan yang aku mau itu bubur bebek. Bukan bubur ayam," jelasnya.


"Lah! Katanya tadi mau belikan makanan apa aja yang aku mau. Ya aku maunya itu! Pokoknya kalau nggak itu, aku nggak mau makan!" Disha mendorong Defan. Lalu menutup pintu kamar mandi dengan bantingan.


Defan tercengang. Mulutnya sedikit menganga. Karena sudah berjanji, dia akan pergi mencari makanan yang di inginkan Disha.


Setengah jam hampir berlalu. Disha sudah selesai mandi. Dia juga telah rapi dengan setelan kantor.


"Letoy lama banget sih. Aku nggak bisa menunggu." Disha memilih langsung pergi ke kantor. Ia memaksakan diri walau rasa mualnya masih belum hilang. Disha tidak lupa untuk menghubungi Defan.


"Sudah dapat buburnya?" tanya Disha.


"Sudah. Aku dalam perjalanan pulang sekarang. Gara-gara kau aku jadi telat kerja tahu nggak!" sahut Defan dari seberang telepon.


"Salah sendiri tadi malam ngajakin aku minum."


"Tunggu dulu. Kau kan lagi mual, kenapa ke kantor?" Defan menyelidik.


"Ada pekerjaan penting. Aku nggak bisa tinggalin. Oh iya, kau antar buburnya ke kantorku saja ya," ucap Disha.

__ADS_1


"Ya sudah." Pembicaraan berakhir setelah Defan berucap begitu.


Tak lama kemudian, Disha tiba di perusahaannya. Dia langsung disambut oleh sekretarisnya yang bernama Fida. Disha harus melakukan rapat penting.


Sebagai CEO, Disha mendengarkan presentasi dari salah satu karyawannya. Dude tampak menjelaskan mengenai desain bungkus produk makanan terbaru.


Saat itulah rasa mual tak tertahan kembali menyerang Disha. Dia yang tak bisa menahan, lantas memperdengarkan suara mulutnya yang ingin muntah. Mulut Disha juga menganga sambil menunduk ke bawah. Tangannya sigap menutupi mulut.


"Bos? Bos baik-baik saja kan?" tanya Fida cemas.


Disha menggeleng seraya menenggak ludahnya sendiri. "Aku baik-baik--" belum selesai berucap, mual kembali datang.


Fida bergegas menyodorkan sebotol air mineral. Presentasi Dude terhenti sejenak. Semua pasang mata tertuju kepada Disha.


"Apa kau merasa tidak enak badan, Bos?" tanya Fida.


"Aku... Hanya mual." Disha meminum air beberapa teguk. Matanya terlihat memerah akibat mual yang dia rasakan tadi.


"Mual?" Jihan menanggapi dengan antusias. "Jangan-jangan Bos hamil nih?" sambungnya. Membuat seluruh karyawan melebarkan kelopak mata. Kehamilan bos mereka tentu adalah kabar baik.


Disha menggeleng. Dia ingin menepis kesimpulan Jihan. Mengingat pernikahan yang dilakukannya dan Defan hanyalah kontrak. Apalagi dengan kondisi Defan yang impoten. Disha yakin apa yang dialaminya adalah hal biasa.


"Sudahlah, teruskan saja presentasinya, Dude!" Disha mengabaikan ucapan dari Jihan. Namun wanita single parent itu malah berbisik, "Bos, masih belum periksa ke dokter ya? Aku sarankan periksa sekarang biar bisa ketemu sama titik terangnya."


"Mbak Jihan, sebaiknya kita fokus dengan pekerjaan terlebih dahulu ya," ucap Disha dengan tatapan tidak suka.


Satu jam terlewat. Rapat selesai. Fida mendapat telepon dari resepsionis. Dia diberitahu bahwa Defan menitipkan makanan untuk Disha. Alhasil Fida segera mengambil makanan tersebut untuk diantarkan kepada bosnya.


"Apa ini?" tanya Fida kepada sang resepsionis yang bernama Ratih.


"Bubur bebek katanya. Kata suaminya bos, bos lagi pengen banget makan-makanan ini," jawab Ratih.


"Hah?" Fida sontak heran.


"Aneh kan? Aku juga rada aneh pas dengar suaminya bos bilang begitu."


"Eh, ngomong-ngomong tadi bos mual-mual gitu pas rapat."


"Yang benar?"


Fida mengangguk. "Kayaknya bos Disha hamil deh. Aku semakin yakin setelah mendengar ada makanan yang bernama bubur bebek!" serunya. Cekikikan bersama Ratih.

__ADS_1


Hari itu, berita tentang kehamilan Disha menjadi gosip hangat di perusahaan.


__ADS_2