
...༻✡༺...
Saat hendak tidur kembali, Disha mendengar pintu diketuk. Dahinya berkerut dalam. Walaupun begitu, dia tetap membukakan pintu.
Pupil mata Disha membesar tatkala menyaksikan kalau yang datang adalah Defan.
"Defan! Kenapa kau--"
"Sudah jangan banyak bacot. Aku kecapekan, Sha. Pengen tiduran." Defan masuk begitu saja ke kamar. Dia meninggalkan koper dan hendak langsung rebahan ke ranjang.
"Defan!!!" pekik Disha.
Defan sontak berhenti. Dia nyaris telentang ke ranjang.
"Kau masih marah? Mau langsung menyuruhku pergi? Harus berapa kali aku minta maaf, Sha... Aku juga sudah menyuruhmu untuk menghukumku dengan cara apapun. Tapi sikapmu terus saja begini." Defan mengira Disha akan mengusirnya. Dia melakukan pembelaan diri sebisa mungkin.
"Lagian siapa yang menyuruhmu pergi? Aku cuman mau menyarankanmu untuk membersihkan diri. Kau kan seharian dalam perjalanan. Banyak alien kecil yang menempel ditubuhmu," ujar Disha. Tanpa menatap Defan.
Pupil mata Defan membesar. Dia tidak bisa menahan senyuman saat mendengar Disha berucap begitu.
"Yang benar itu kuman." Defan membenarkan kata sebutan yang tepat.
"Ya bagiku kuman itu alien. Makhluk asing," sahut Disha. Memutar bola mata jengah. Defan berjalan mendekat ke hadapannya. Menatap lekat Disha sambil menautkan tangan di balik punggung.
"Ish! Apaan sih. Cepat mandi sana!" Wajah Disha memerah. Dia mendorong Defan menjauh.
"Dengan senang hati, Luluku sayang..." Defan sengaja menggoda.
"Lebay!" Disha membuang muka. Dia segera duduk ke sofa. Membiarkan Defan beranjak ke kamar mandi.
Disha menyalakan televisi. Dia menonton film seraya melipat tangan di depan dada.
Disha memegangi perut. Rasa lapar belumlah hilang. Disha hanya bisa mengernyitkan kening sembari menggigit bibir bawahnya.
Defan yang sudah selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi. Dia memergoki Disha sedang meringiskan wajah sambil memegangi perut.
"Kenapa? Sakit perut?" tanya Defan. Dia mendekati Disha.
"Aku lapar," jawab Disha singkat.
"Ya kalau lapar makan," saran Defan.
__ADS_1
Disha melemparkan tatapan malas. "Gimana mau makan? Pas lihat makanannya saja aku mual. Aku cuman makan sayurannya doang. Tuh! Makanannya aku taruh di atas nakas." terangnya. Disha menunjuk ke arah makanan yang tadi sempat dia pesan.
Defan menghampiri makanan yang disebutkan Disha. Lalu memeriksanya.
"Ini sudah dingin. Aku akan pesankan makanan baru. Kebetulan aku juga lapar," kata Defan. Dia memeriksa buku menu makanan. Defan segera memesan makanan melalui via telepon.
"Tetap nggak manjur, Fan. Aku jamin," ucap Disha. Saat Defan sudah selesai memesan makanan.
"Dicoba saja dulu. Mungkin kau bisa makan saat bersamaku. Kau ingat kejadian terakhir kali kan?" imbuh Defan. Mengingat kejadian ketika Disha hanya menerima suapan darinya.
Defan duduk ke sebelah Disha. Menggeser tubuhnya agar bisa duduk berhimpitan dengan perempuan itu.
"Itu cuman kebetulan saja. Nggak usah kepedean, Letoy!" tegas Disha. Dia berpindah duduk karena tidak mau berdekatan dengan Defan. Jantungnya berdebar tak terkendali.
Defan mendengus kasar. Dia tidak akan memaksa Disha. Alhasil dirinya tetap diam di tempat.
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan Defan datang. Lelaki itu segera membawa makanan tersebut ke meja.
Dahi Disha berkerut dalam. Dia merasa aneh karena dirinya tidak mual seperti sebelum-sebelumnya.
"Sekarang aku coba suapin." Defan menyendok nasi dan lauk. Kemudian menyodorkannya kepada Disha.
Karena tidak merasa mual, Disha mengangakan mulut. Memakan makanan yang diberikan Defan.
"Gimana?" Defan mengamati ekspresi yang ditunjukkan Disha.
"Enak," jawab Disha.
"Astaga. Aku nggak nanya itu, tapi..." Defan tidak meneruskan kalimatnya karena melihat Disha sudah menelan makan yang ada di mulut.
"Kau nggak mual kan?" Defan memastikan. Dia masih sibuk mengamati Disha.
"Apa kau akan membiarkan aku kelaparan? Cepat suapi aku lagi!" desak Disha dengan mata yang melotot.
"I-iya, Sha." Defan sampai dibuat kaget. Dia kembali menyuapi Disha. Hingga makanan yang ada dipiring ludes dimakan Disha. Bahkan sayurannya sekali pun.
Kini Disha kekenyangan. Dia bersendawa satu kali sambil duduk menyandar ke sofa. Saat itulah Defan duduk ke sampingnya.
"Tuh kan. Kau nggak mual kalau makan sama aku. Makanya jangan pergi jauh-jauh dariku," cetus Defan.
"Nggak usah kepedean. Aku yakin ini cuman karena janin yang ada di dalam perutku," balas Disha.
__ADS_1
"Ya karena itu kau nggak bisa jauh-jauh dariku. Karena anak yang ada dalam perutmu, sayang sama papanya." Defan berucap sambil memegangi perut Disha. Lalu meletakkan telinganya ke sana.
Mata Disha mengedip cepat. Dia merasa desiran aneh saat Defan tiba-tiba menyentuh perutnya. Sebab itulah Disha membiarkan Defan. Ia tidak mendorong lelaki tersebut seperti sebelum-sebelumnya.
Sementara itu, Defan terkekeh. "Aku bisa mendengar suara berisik di perutmu, Sha..." ucapnya. Membuat Disha langsung menjauhkan Defan dari perutnya.
"Istirahat gih. Tadi katanya kecapekan." Disha merubah topik pembicaraan.
"Temanin aku. Anggap saja sebagai bayaran karena aku sudah menyuapimu makan." Defan merangkul pundak Disha.
"Enak saja! Apa kau lupa? Kau sudah melakukan banyak kesalahan kepadaku!" tolak Disha. Dia tetap bersikap judes kepada Defan.
"Galak banget sama suaminya," komentar Defan. Ia mencoba memaklumi. Defan beristirahat ke ranjang. Dalam sekejap, dia jatuh ke dalam lelap.
...***...
Waktu menujukkan jam 8 pagi. Disha sibuk membersihkan diri di kamar mandi.
Seseorang mengetuk pintu kamar. Defan yang baru saja terbangun, membukakan pintu.
Mata Defan membelalak ketika melihat sosok yang datang adalah Dimas. Dia tentu kaget. Hal yang sama tentu juga dirasakan Dimas. Terlebih Defan tidur satu kamar bersama Disha.
"Kenapa kau di sini?!" timpal Dimas dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Bukankah aku yang harusnya bertanya begitu?!" sahut Defan.
"Kau pasti mau menjebak Disha lagi kan?!" Dimas mencengkeram kerah baju Defan. Dia yang sakit hati dan dirundung kekalutan, jelas marah saat menyaksikan keberadaan Defan.
"Itu urusanku dengan Disha! Aku sedang berusaha memperbaikinya! Kau tidak usah ikut campur!" balas Defan. Dia menjauhkan tangan Dimas dari kerah bajunya.
Mendengar Defan berucap begitu, amarah Dimas semakin memuncak. Dia mendorong Defan sampai jatuh ke lantai.
"Kau benar-benar teman bang-sat!" umpat Dimas.
"Dimas! Apa yang kau lakukan?!" Disha datang dengan rambut yang masih basah. Dia baru selesai mandi. Disha membantu Defan berdiri.
"Kenapa kau selalu terkesan berada dipihaknya?! Dia melakukan kesalahan besar, Sha! Apa yang dilakukan Defan itu pantas disebut sebagai pelecehan!" Dimas sudah tidak bisa memendam amarah.
"Itu karena kau tidak tahu apa yang pernah terjadi pada kami! Semua yang terjadi, aku dan Defan yang mengalami! Termasuk kehamilan yang sedang aku alami sekarang. Kau tidak berhak asal menyimpulkan!" sahut Disha.
Dimas tercengang. Matanya tampak berkaca-kaca. Dia merasa hatinya sakit bak dihujam sebilah pisau. Sakit! Tetapi tak berdarah.
__ADS_1
"Kumohon... Bisakah kalian akur seperti dulu... Ini membuatku sedih..." Disha akhirnya menangis. Dia menyalahkan dirinya karena sudah membuat hubungan Defan dan Dimas renggang.