Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 33 - Dihamili Suami?


__ADS_3

...༻✡༺...


Menyaksikan wajah Defan berdarah, Disha tentu cemas. Bahkan saat dirinya merasa dikhianati oleh lelaki itu, dia tetap peduli. Entah kenapa naluri Disha seakan tidak bisa melepaskan perhatiannya dari sosok Defan.


"Kita harus bawa Defan ke rumah sakit," imbuh Disha.


"Sha! Kau--"


"Aku juga marah sama Defan! Tapi aku khawatir lihat keadaan dia begini! Kenapa kau tega, Mas?!" timpal Disha dengan nada penuh penekanan. "Sekarang cepat kita bawa dia ke rumah sakit!" sambungnya.


Dimas menatap ke arah Defan. Melihat temannya itu tampak babak belur, dia sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan. Alhasil Dimas membawa Defan ke rumah sakit. Disha tentu juga ikut bersamanya.


Hening, itulah yang terjadi sepanjang perjalanan. Hanya ada suara dengus hidung Disha yang sedang berusaha berhenti menangis.


Dimas sesekali melirik Disha. Dia terpikir untuk mengungkapkan perasaannya. Tetapi perempuan itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Dimas berniat akan bicara setelah Disha bisa kembali tenang.


Sesampainya di rumah sakit, Defan langsung di obati. Lelaki tersebut perlu beristirahat agar bisa cepat pulih.


Kini Disha duduk di depan kamar tempat Defan berada. Dia memasang tatapan kosong.


Tak lama kemudian, Dimas datang. Ia membawakan minuman hangat untuk Disha.


"Ini, agar kau bisa lebih tenang." Dimas menyodorkan minuman hangat untuk Disha.


Disha mengambil minuman yang diberikan Dimas. Dia tidak meminumnya. Disha meletakkan minuman itu ke samping.


"Sha, aku minta maaf karena sudah keterlaluan. Aku sangat kesal pada Defan. Dia melakukan hal yang sangat buruk kepadamu," ujar Dimas.


"Aku tahu..." sahut Disha lirih. Jujur saja, dia mencoba mengingat kejadian yang telah terjadi ketika dirinya mabuk. Namun entah kenapa Disha mengingat perasaan aneh. Tubuhnya dapat mengingat bagaimana perasaan itu. Perasaan nikmat yang sulit untuk dijelaskan.


Andai Disha merasa dilecehkan, mungkin dia akan melakukan perlawanan. Bahkan saat dirinya mabuk sekali pun. Akan tetapi Disha tidak melakukan hal itu. Ia juga merasa bingung sendiri saat memikirkannya.


'Jika rasa nikmat yang aku rasakan itu adalah sentuhan Defan, bukankah berarti aku menikmati apa yang dilakukannya? Aku sangat mengenal Defan. Dia tidak akan berani memaksa jika mendapat penolakan,' batin Disha. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Disha jadi teringat ciuman pertamanya dengan Defan. Dia perlahan memegangi bibir. Ia jelas tidak bisa melupakan ciuman panas yang dilakukannya bersama Defan. Degup kencang kembali menghiasi jantung Disha.


"Sha? Apa kau mendengarku?" Dimas masih menunggu tanggapan Disha. Perempuan tersebut sontak tersadar.


"Ma-maaf, aku hanya mendadak memikirkan sesuatu. Mengenai apa yang dilakukan Defan, sudah jelas dia sangat keterlaluan!" Disha mengabaikan perasaannya. Sebab secara logika, apa yang dilakukan Defan memang adalah kesalahan besar.

__ADS_1


"Menurutku, kau sebaiknya kembali ke rumah keluargamu. Atau tinggal di apartemen saja," usul Dimas. Karena mencintai Disha, dia akan melakukan apapun untuk menjauhkan Defan dari perempuan itu.


"Kau benar. Aku sekarang sudah merasa tidak aman lagi tinggal bersama Defan," sahut Disha. Dia segera meminum minuman hangat pemberian Dimas.


"Lakukanlah sekarang. Biar aku yang menjaga Defan di sini," ucap Dimas seraya merangkul pundak Disha.


"Makasih, Mas. Tapi jangan berantem lagi ya."


"Iya, aku janji." Dimas mengangguk dan tersenyum. "Apa perlu aku antar atau telepon Mamamu?" tawarnya.


"Enggak. Aku naik taksi saja. Lagian mualku sudah hilang." Disha pamit. Dimas melepas kepergiannya sampai depan rumah sakit.


...***...


Ketika pulang, Disha sempat melamun sambil memikirkan Defan. Dia bahkan mengamati pigura yang terpampang di atas nakas. Di sana ada fotonya dan Defan menjadi sepasang pengantin.


Disha menggeleng kuat. Ia langsung menyadarkan diri. Menurutnya kelakuan Defan sudah melewati batas. Disha bergegas mengepak semua barang-barangnya. Dia akan pulang ke rumah orang tuanya.


Bersamaan dengan itu, ponsel berdering. Disha mendapat panggilan telepon dari ibunya.


"Disha! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sedang ha--"


"Ma..." tangisan Disha membuat perkataan Mona terhenti.


Disha tidak menjawab. Ia justru terbuai untuk terus menangis.


"Kau di rumah kan? Aku akan segera ke sana ya." Mona yang didera perasaan khawatir, mematikan telepon. Ia bergegas mendatangi kediaman Disha.


Mendengar Mona akan datang, Disha memilih menunggu. Dia menggunakan waktu untuk menenangkan diri hingga tangisannya berhenti. Mona datang setelah beberapa menit kemudian.


"Disha? Kamu nggak apa-apa, Nak?" Mona berlari menghampiri Disha. Langsung membawa putrinya masuk ke dalam pelukan. Meski sering mengomel, kasih sayang Mona selalu ada untuk Disha. Terutama saat sang putri sedang berada dalam kesulitan.


"Mama!" seru Disha. Ia merasa nyaman saat mendapat dekapan sang ibu.


"Kau kenapa menangis?" tanya Mona sembari mengajak Disha duduk ke sofa. Mengajak perempuan itu bicara baik-baik.


"Aku hamil, Ma..." ungkap Disha.


Mona terperangah. "Jadi karena itu kau menangis?" tanyanya merasa heran. Sebagai pengantin baru, harusnya Disha senang atas kehamilannya.

__ADS_1


"Iya... Defan yang melakukannya, Ma... Defan!" Disha kembali menangis.


Mona semakin tercengang. Bisa-bisanya Disha berkata begitu, sementara Defan adalah suaminya sendiri. Sudah jelas lelaki itu yang melakukannya.


"Ya dimana-mana istri itu hamil karena suaminya! Kenapa kamu terkesan seperti menyalahkan Defan? Aneh banget kamu," tukas Mona.


Disha tertegun. Dia hampir lupa kalau hubungan nikah kontraknya harus dirahasiakan. Masalah yang menimpanya sekarang, benar-benar membuat Disha kehilangan fokus.


"Tapi aku belum siap, Ma..." Disha lantas berdalih.


Mona memutar bola mata jengah. Dia memegangi pundak Disha. "Harusnya kamu bersyukur. Di luar sana ada banyak pasangan yang belum dikaruniai anak," tuturnya.


Mata Mona mengedar ke segala arah. Dia mencari Defan. "Ngomong-ngomong suamimu mana?" tanyanya.


"Di-dia..." Disha berpikir untuk menemukan alasan. Karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kepada Mona.


"Dia masih ada pekerjaan, Ma." Disha segera angkat suara setelah menemukan alasan.


"Kamu sudah makan kan? Pas hamil begini, kau tidak boleh makan sembarangan." Mona memberitahu.


"Terserah apa kata Mama. Tapi aku akan kembali ke rumah bersamamu," cetus Disha.


"Kenapa? Kau sama Defan tidak berantem kan?"


"Enggak, Ma. Aku cuman pengen saja."


"Oh... Kamu ngidam?" Mona menebak.


Disha yang sebenarnya mencoba lari dari Defan, lekas menganggukkan kepala. Mona otomatis membawanya pulang ke rumah.


Di sisi lain, Defan baru tersadar. Luka dan lebamnya sudah mulai pulih. Dimas terlihat duduk di sebelah.


Defan merubah posisi menjadi duduk. Dia mencari keberadaan Disha.


"Cari Disha? Kau pikir dia mau menemuimu setelah mengetahui apa yang kau lakukan?" timpal Dimas.


"Kau tidak usah ikut campur! Ini urusanku dan Disha. Urusan rumah tangga kami!" balas Defan.


"Bacot kau, Fan! Kau lupa ya?! Kalau pernikahanmu dan Disha itu hanya kontrak?!"

__ADS_1


"Aku begini karena--"


"Karena jatuh cinta sama Disha kan?!" Dimas memotong perkataan Defan. Dia bisa menduga apa yang ingin dikatakan sahabatnya. Interaksi di antara keduanya kembali tegang.


__ADS_2