Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Prolog


__ADS_3

*H2OP Rawa Nusakambangan


Hari kedua menjadi perjalanan neraka bagi kami. Rawa sebenarnya menantang dengan denging kematian. Tentu saja. Terlalu sunyi hingga kami hanya dapat mendengar nafas sendiri. Terlalu lengang bahkan untuk sebuah kawasan pemakaman.


Namun demikian, pantang bagi kami untuk mundur. Kami saling pandang dan menguntai senyum sebelum akhirnya tenggelam, terbenam. Merasakan kaki-kaki kecil menancap dalam lumpur. Meski dalam teori kami harus berlari cepat untuk meminimkan beban saat berjalan di lumpur, tapi beban berat carrier dipunggung selalu melesakkan telapak kaki menyaingi akar bakau yang mampu berdiri di permukaan.


Rasanya sudah setengah hari kami berjalan. Rawa yang surut membuat lumpur melekat tak mau enyah. Tubuh kami sudah tak rupa manusia. Mirip zombie yang baru keluar dari liang kubur. Bahkan burung bangau yang semula bertengger tenang, terbang melihat kelebat kehadiran kami.


Tiba-tiba salah satu anggota tim meronta. Dia berteriak mengabarkan kakinya terkilir. Mungkin karena terlalu memaksa menggeliat melawan hujaman gravitasi. Dia pun menyeret tubuhnya untuk bergerak. Kami akhirnya membantu menarik carrier yang tak lagi tersandang dipundak.


Bentangan rawa tanpa jeruju masih terlihat jauh. Hari telah menyenja, dan kami masih terjebak di rawa. Kejadian tak diinginkan terjadi lagi. Teman kami yang lain mendadak terkapar. Sama sekali tak bergerak. Kami sempat kebingungan. Untung ketua tim berpikir cepat mencari sungai untuk meminta bantuan.


Selagi menunggu kami berusaha membangunkannya. Setelah terlihat geliat sadar, kami menyeretnya menuju arah sungai. Bertemu ketua tim yang berhasil memanggil nelayan dengan perahu jukung. Karena keterbatasan perahu hanya dua orang yang berhasil terangkut. Seorang yang pingsan dan teman yang kakinya terkilir.


Sisa rombongan yang berjumlah empat orang harus rela bermalam di tengah genangan lumpur. Memanjat pohon bakau, untuk menghindari air pasang. Tidur di dahan pohon bakau seperti ayam. Bila lena benar, bersiap saja terjatuh dan berenang atau tenggelam.


Raka Blantara


2002


 

__ADS_1


 


Bima menggelar peta topografi Pulau Nusakambangan. Hari Minggu dia sengaja mendatangi rumah Falah.


“Woaa, dapat peta dari mana nih?” Falah mencermati peta yang gambarnya berupa garis-garis lengkung, kadang lengkungan itu membentuk satu bentuk lingkaran tidak beraturan. "Keren!"


Garis-garis itu namanya garis kontur. Fungsinya menentukan letak ketinggian tanah pada suatu tempat. Semakin runcing dan rapat lengkungan semakin curam medan permukaan tanahnya.


“Pantai Rancah Babakan, sini.” telunjuk Bima mengetuk-ketuk bagian sebelah kiri sudut pulau bagian barat bila pada peta. “Dan kita akan menyisir pantai-pantai sini, sampai Pantai Permisan saja.”


“Lumayan dekat. Oke, mari kita invasi ke sana!” Falah tampak bersemangat.


“Kelihatannya,” senyum Bima mengembang. “melihat dari skala satu banding 50.000, itu berarti setiap satu sentimeter mewakili 50.000 cm dari jarak sebenarnya. Tinggal ukur aja berapa senti dari Rancah ke Permisan.”


“Justru itu sisi petualangannya.”


“Kita nanti lewat mana?” tanya Falah kembali memelototi peta.


“Ada pensil?”


“Sebentar kuambilkan.” Falah beranjak dari duduk masuk rumah mencari pensil permintaan Bima.

__ADS_1


Teras rumah Falah yang asri, banyak pepohonan membuat Bima tidak mau masuk ke dalam rumah sobatnya. Dia ingin menikmati kesegaran tersebut.


Falah muncul dengan pensil berkepala boneka.


“Ini punya adikku.” kata Falah menepis kernyitan heran dari Bima.


Bima mengangguk tanggung. Selama ini dia tidak pernah merasakan berbagi atau melakukan hal pinjam-meminjam dengan orang lain, dalam hal ini tentu saudara. Sebagai anak tunggal segala kebutuhan Bima terpenuhi, tidak ada yang kurang.


Pensil telah berpindah tangan. Bima segera menggores satu garis menerobos lengkungan kadang mengikuti lekuk kontur, yang bakal jadi jalur melarikan diri mereka.


“Mulai dari sini,” tunjuk Bima ke peta. “seterusnya berupa jalan setapak. Jadi bakal mempercepat langkah kita. Nah,”


“Yosh!” Falah manggut-manggut. “Boleh aku minta salinannya?”


“Ini buat kamu,” kata Bima. “Aku masih ada di rumah.”


Keduanya terus asyik berdiskusi hingga sepiring singkong goreng tersaji di meja. Wah, benar-benar ibu yang pengertian. Tambah panjang deh, obrolan antara Bima dan Falah.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2