Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Ular Dan Penebang


__ADS_3

“Bangun, bangun!” suara pria dewasa menggugah mimpi ketiga anak yang masih meringkuk dalam tenda.


Ilana yang pertama tersadar menjadi khawatir bila orang yang membangunkan mereka itu tahanan yang melarikan diri. Apalagi terdengar dengung percakapan mewarnai pagi yang masih sendu.


Begitu melihat bayangan Bima bergerak keluar, Ilana jadi ikut menampakkan diri. Bima dan Ilana berdiri sedikit gentar. Beberapa pria sangar dengan membawa parang telah menanti. Malah ada yang memanggul kapak di bahunya. Ilana menghitung ada empat orang.


“Kalian sedang apa?” tanya seorang pria dengan jambang tebal.


“Kami tersesat, Pak.” sahut Bima spontan.


“Tersesat kok bawa tenda.” tanggap pria berambut keriting sambil menurunkan kapaknya dari bahu.


“Lain kali jangan sembarangan mencari tempat untuk kemah. Tenda kalian juga sama sekali tidak aman. Untung ular itu sedang kenyang, kalau lapar salah satu kalian akan jadi santapan lezat.” cerocos si jambang menunjuk ke arah kanannya dengan parang.


Bima dan Ilana saling pandang sebelum melangkah untuk melihat sesuatu yang ditunjuk oleh pria tersebut. Seekor ular sanca kembang sebesar paha orang dewasa yang gemuk terbujur tidak bergerak. Satu bagian tubuhnya menggembung besar.


“Semalam kalian tidur berpeluk ular ini.” kata pria lain yang umurnya tampak paling muda. Dia menggulingkan ular itu hingga sisik indahnya tak nampak dari atas.


“Terimakasih Pak, untung Bapak-Bapak tahu ada ular yang menggelung tenda kami.” ucap Ilana.


“Secara nggak sengaja pagi tadi saya melihat ke area sini. Kok ada sesuatu yang mencurigakan mirip tenda. Makanya saya hampiri kemari. Enggak tahunya ada ular yang melingkari tenda kalian.” tutur si jambang. “Saya terus memanggil teman-teman saya. Meski sudah kenyang dia tampak masih ganas waktu kami menyerang tadi.”


“Ular!” Falah yang baru bangun memandang berkeliling antara ngeri dan bingung. “Mana ularnya?”


Ilana menunjuk dengan dagu. Falah melongok keluar area tenda lalu bergidik geli. Gerak selanjutnya dia sudah masuk tenda lalu merogoh tas rangsel mengeluarkan kamera kecil andalannya.


“Dia habis makan apa ya? Perutnya besar banget.” kata pria berkaos merah tanpa lengan.


Para pria berbincang mengenai ular yang baru saja mereka temukan melingkari tenda anak-anak. Antara takut takut penasaran, Falah memberanikan diri mendekat merekam ular yang kepalanya berlumur darah.


“Kita buka aja perutnya.”


“Iya, Jon. Coba kamu belah.”


“Jangan!” seru Bima dan Ilana.


“Kenapa? Kita cuma pengin tahu, dia habis makan apa.” kata pria termuda yang mendapat tugas membelah perut.

__ADS_1


“Itu penyiksaan, kan.” tutur Ilana lirih.


“Dia sudah mati, menyiksa dari mana?”


“Kenapa membunuhnya?” tanpa terduga Bima mengajukan pertanyaan macam itu.


“Berbahaya lho kalau ada ular sebesar ini. Kita bisa jadi mangsanya.” jawab si jambang.


“Tapi tidak harus membunuhnya. Toh, dia sedang kenyang.”


“Gimana kalau lain waktu dia datang lagi dengan perut lapar?” balas si keriting. “Kami tidak mau jadi makanan gratis baginya,”


“Kalian sendiri kenapa menghabisi habitatnya?” Bima tampak menegang. “Lihat ulah kalian. Hutan menghilang maka dia akan menyerang pemukiman.” Bima mengedarkan pandangan pada areal sekitar yang terbuka. Pohon pohon menjulang telah rebah tak berdaya. Pemandangan yang mengiris sanubarinya.


“Wes, bocah kiye.” (anak ini)


“Coba salah satu temanmu dia mangsa, apa kamu masih bisa bicara kayak gitu.”


Ilana menarik lengan baju Bima. Dia ingin meluruhkan emosi yang mengendap di kepala sobatnya. Bahaya kalau ngotot menyampaikan idealisme tentang kelestarian hutan di tengah orang-orang yang membawa parang dan kapak. Bisa-bisa tubuh mereka ikut tertebas.


“Tapi....”


“Bim, kita harus bergegas. Martin dan Jesi menunggu kita.” akhirnya Ilana menemukan pencegahan yang tepat. Bima tak lagi ingin berdebat.


Bima mendengus lalu undur diri masuk area tenda diikuti Ilana. Malas melihat pembedahan yang akan mereka lakukan. Tak dengan Falah yang masih setia mengabadikan proses pembelahan perut ular yang tengah berlangsung.


“Keterlaluan!” desis Bima sambil mengeluarkan kompor dan alat masak.


Ilana membantu menyiapkan bakal sarapan mereka pagi ini. Menu pagi ini menghabiskan havermut terakhir.


Di luar area perkemahan, beberapa orang menjadi takjub dengan hasil penemuan dari dalam perut si ular malang.


“Apa itu ya?” kata seseorang.


“Kayak **** hutan.”


“Coba kamu tarik keluar, Jon!”

__ADS_1


“Beneran **** hutan.”


“Luar biasa.” terdengar suara Falah turut berkomentar.


“Daging ularnya kita olah aja. Dipanggang sepertinya enak.”


“Hati-hati kulitnya. Bisa mahal itu.”


“Tenang!”


Mendengar percakapan itu membuat perut Ilana jadi mual. Tak tega rasanya memakan daging ular. Apalagi sampai memperjual-belikan kulitnya. Bagaimana hewan-hewan tidak jadi punah karenanya. Berkali-kali Ilana menghembus nafas, ingin membuang begah di perut.


“Uoh, lagi masak?” seorang dari mereka yang berkaos merah melongok Bima dan Ilana.


“Mari makan, Pak.” Ilana basa-basi menawari.


“Silakan! Kami juga mau sarapan, di sana!” kata orang itu sambil menunjuk ke arah kanan jauh pada sebuah gubuk yang berada pada bukit kecil.


Dua orang dari mereka ikut melihat dalam area tenda sembari berpamitan. Tak lupa menawari Bima dkk agar mau menjenguk ke sana. Keduanya hanya mengiyakan.


Keriuhan dari para penebang terdengar menjauh. Ilana sekilas melihat kepergian mereka yang memanggul ular yang tertangkap tangan. Meski ngeri membayangkan kemungkinan terburuk semalam, lolos dari predator uang, masuk sarang ular raksasa dan bisa jadi santapannya. Tapi melihat sanca itu mati mengenaskan, membuat Ilana berduka.


Falah telah bergabung kembali. Dia segera menyimpan kamera dan ikut menikmati sarapan dengan cepat. Tidak ada percakapan bergulir. Semua bergelung dalam pikiran masing-masing. Mengenang tragedi semalam yang menghabiskan nafas dan perasaan. Lalu menyambung pada pagi hari yang mencekam.


Bima memandang pada kawan-kawannya. Rasa bersalah menyusupi. Dia telah membawa dua sahabatnya menyeberangi bahaya. Idenya bertualang di Nusakambangan tidak selancar perkiraan.


Dan lagi, Bima teringat kata-kata Bapak berjambang, kalau tenda mereka sangat tidak layak untuk berkegiatan di belantara liar. Seharusnya mereka memakai tenda dome yang rapat. Sama seperti Om Raka saat menjelajah kemari.


Kata-kata Ilana pun berdentang. Bahwa kenekatannya memang sembrono masih kurang perhitungan, tidak safety prosedure_meminjam kata dari Om Raka yang selalu menekankan prosedur aman dalam berkegiatan. Dirinya hanya menimbang hawa pantai lebih hangat dibanding hawa pegunungan yang menggigit tulang. Dia melupakan hewan-hewan liar yang masih betah di pulau hampir tak berpenghuni itu.


Lalu, nasib Martin dan Jesi.


Ahg! Bima tiba-tiba mengerang mengagetkan Ilana dan Falah.


 


 

__ADS_1


__ADS_2