
Hanya satu orang yang tampak antuasias dengan rencana study tour ke kawasan Banyumas-Cilacap. Matanya berkilat-kilat menyimpan siasat. Ketika teman-teman lain berkeluh kesah karena perubahan tempat tujuan wisata yang biasanya ke Bandung, anak itu malah mengepalkan tangan penuh kemenangan. Buku agenda catatan perjalanan yang selama ini menggugah hati, beserta petualangan yang bakal menanti menari-nari dibenak.
Sudah jadi satu tradisi tahun pertama SMA Nusantara Semarang mengadakan study tour ke kota Bandung yang hukumnya wajib. Beberapa anak menyayangkan kenapa bukan piknik ke Bali, saat tahun kedua, yang sifatnya wajib. Kasak-kusuk terus terjadi di mana-mana. Tapi keputusan dewan guru sama sekali tidak bisa diganggu gugat.
Lalu kenapa lokasi dan tempat jadi berubah. Dari Bandung ke Barlingmascakeb_Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen. Dengan mengambil tiga kawasan, yaitu Purbalingga, Banyumas dan Cilacap.
Mengenai hal ini menurut Kepala Sekolah karena tempat-tempat yang akan mereka kunjungi nanti mewakili inti dari study tour itu sendiri. Belajar sambil jalan-jalan.
Mulai objek Aquarium Purbasari, anak-anak diharapkan dapat mengenal berbagai jenis ikan tawar yang ada di bumi. Baturaden, supaya para siswa mengenal alam. Small World, tentu saja biar tahu berbagai gedung terkenal di dunia, beserta sejarahnya. Pantai Teluk Penyu, agar berasa nuansa pikniknya, lalu Benteng Pendem kembali siswa dituntut mengetahui mengenai sejarah dari benteng tersebut. Untuk Wisata Hutan Mangrove Kampung Laut, kenapa perlu menjenguk ke sana. Tentu agar anak-anak mengenal hutan mangrove yang merupakan salah satu peredam efek tsunami bagi warga pesisir. Dan terakhir adalah Pantai Rancah Babakan, biar siswa-siswi merasakan sensasi pantai pasir putih.
Meskipun sederet alasan terpapar dengan lugas dan bernas, tetap saja siswa-siswi merasa tidak puas. Seperti sekarang ini nampak sekelompok anak sedang memperbincangkan keputusan sepihak tersebut dalam suatu kelas.
“Parah berat nih,” cetus seorang anak.
“Tahun ketidakberuntungan kita.” balas yang lain.
“Tidak berperikeadilan.”
“Lihat, objek wisatanya juga enggak banget.” kata anak yang duduk di meja. “Aquarium Purbasari, emangnya kita anak SD. Suruh mencatat macam-macam ikan yang ada di sana pula. Terus Baturaden, Small World_agak mending. Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem, harus tahu sejarah tentang pantai itu dan bentengnya. Yang
benar aja. Wisata Hutan Mangrove. Terakhir Pantai Rancah Babakan. Sama sekali nggak asyik.”
“Jadi berasa anak SMP,”
“SMP mending, ini sih piknik taman kanak-kanak.”
Di depan sudut kanan tiga anak juga tampak membahas hal yang sama. Yang satunya anak gadis yang berdiri menyandar tembok samping pintu. Kerudung yang menjuntai menutupi dada, ujungnya termainkan oleh jari-jarinya.
“Mereka itu nggak tahu yang namanya tantangan?” ucap Bima sambil melirik gerombolan yang heboh mengecam kebijakan sekolah perihal tempat wisata tahun ini. Matanya selalu menyala saat berbicara mengenai petualangan yang sedang terencana di otaknya.
“Maksudmu apa?” tanya Ilana.
“Pantai Rancah Babakan,” kata Bima seperti membaca judul deklamasi.
“Itu pantai yang ada di Pulau Nusakambangan, kan?” tanggap Falah, cowok berkacamata yang duduk di sebelah Bima.
“Yap, aku penasaran pada satu hal di sana.”
“Penasaran sama napinya?” lontar Ilana.
__ADS_1
“Pada deratan pantai lain yang ada di sana.”
“Terus?”
“Mari kita telusuri,”
“Serius?” Ilana membelalakkan mata. “Aku nggak ikutan.”
“Kapan, Bro?” Falah tampak antusias. Dalam kepalanya terbayang akan dapat materi baru untuk mengisi chanel youtube-nya.
“Pas piknik besok kita cari pantai lain itu.”
“Kamu, kali. Bukan kita.” ujar Ilana menyatakan penolakan.
“Kamu monoton sekali. IG-mu jarang memuat pantai, kan. Alam ini banyak tempat indah tersembunyi. Gunung dengan sunrise dan negeri di atas awan, udah biasa, Bray. Mari kita lihat keindahan pantai yang masih perawan.”
“Ke Karimun aja, deket.” Ilana masih tidak setuju dengan ide Bima. “Banyak pantai indah di sana. Dan sudah jelas dikelola sama pemerintah.”
“Udah pernah,” sahut Bima. “Justru kalau udah tersentuh tangan manusia, jadi kurang asyik. Gimana, Fal?” tawar Bima pada Falah.
“Woke!”
Bima, Ilana dan Falah menjadi akrab karena memiliki kegemaran yang sama. Mendaki gunung. Setelah bergabung dengan PPAN, Pelajar Pecinta Alam Nusantara, nama grup pecinta alam sekolah mereka. Atau sering anggotanya menyebut dengan P-***. Ketiganya yang kebetulan satu kelas, jadi sering merencanakan pendakian bersama.
“Kalian harus buat perencanaan yang matang.” saran Ilana.
“Itu udah aku pikirkan. Tenang aja, siap menjelajah Bro!” Bima mengajak toas Falah. “Besok mari kita menghilang sejenak!”
“Asyik!”
“Kamu akan menyesal karena nggak ikut.” tunjuk Bima pada Ilana.
“Ajak yang lain aja.” ucap Ilana melenggang keluar.
“Woi, kemana?”
“Ulangan remidi.” Ilana menongolkan kepala di pintu. “Kamu juga ada remidi Fisika, kan?”
Bima langsung menepuk jidat. “Ah, aku lupa.” kata Bima yang langsung mengusir Falah yang menghalangi jalan keluar dari bangku. “Tunggu, Na!” tubuh tinggi besar Bima nampak seperti sedang mengejar kurcaci yang melarikan diri.
__ADS_1
**
“Nih, petanya.” sodor Falah pada Ilana. Keduanya mojok di sudut perpustakaan yang agak tertutup. Takut ketahuan Bima. Padahal mereka punya tempat rahasia sendiri untuk melakukan pertemuan.
Entah kenapa, Ilana begitu penasaran dengan rencana menghilang Bima. Sampai-sampai dia menghubungi Falah secara khusus dan meminta informasi terkait hal tersebut.
“Dari Pantai Rancah Babakan ke pantai berikutnya cukup sulit.” komentar Ilana.
“Apa begitu?”
“Kamu bisa baca kontur, kan?”
“Iya sedikit. Tapi kata Bima, untuk selanjutnya tinggal ikuti jalan setapak. Nggak sulit.”
“Ini nggak mungkin sehari dua hari sampai lho. Kalau targetnya Permisan.”
“Bima juga bilang begitu.”
“Dasar Bima,” keluh Ilana menjadi khawatir.
Pasalnya sewaktu mereka mendaki Merbabu, hampir saja rombongannya tersesat karena Bima memilih jalur lain untuk turun, tidak turun lewat jalur naik. Waktu itu mereka memilih naik lewat Selo, mendadak Bima ingin turun lewat Wekas. Bima salah menandai titik turun via Wekas. Nyaris saja mereka masuk jurang. Untung ada peta dan kompas. Selamatlah mereka meski harus merintis jalur sendiri. Telanjur masuk punggungan yang salah. Setelah terobos semak-semak liar akhirnya mereka menemukan jalur utama kembali.
“Tenang, Na. Selama ada peta dan kompas, Insya Allah aman.”
“Aku harap demikian. Tapi bukannya Nusakambangan alamnya masih terlalu liar ya?”
“Nggak juga sih,” sanggah Falah. “Menurut berita, pembalakan liar telah menjajah hutan di sana. Jadi jangan heran kalau nemu satu areal terbuka. Termasuk jalan setapak yang dilalui om-nya Bima pas menjelajahi sebelumnya. Tumben kamu nggak meneliti pulau itu dengan mendetail.”
Ilana meringis. “Belum sampai ke sana. Tapi tetap berasa seram. Nusakambangan, pulau penjara. Penjahat kelas kakap ada di sana semua.”
Pembicaraan keduanya terhenti ketika bel tanda istirahat selesai berdering. Falah segera melipat kembali salinan peta dari Bima. Ilana mendahului keluar untuk menghilangkan kesan bahwa mereka habis berbincang berdua. Bisa gawat kalau ketahuan Bima.
__ADS_1