
Bima membangunkan Falah. Masih belum sadar benar, Bima langsung menyodorkan gawai yang baterainya limit, agar Falah membaca tulisan yang ada di sana. Tak lupa menggoyang tubuh Martin supaya terjaga. Setelah Falah paham, Bima meminta kembali ponsel pintar miliknya lalu beringsut hati-hati ke tenda Ilana.
Bima melakukan hal sama. Ilana segera membangunkan Jesi, sementara Bima mulai melepas ikatan tenda milik Ilana. Tenda Bima sendiri telah terlipat rapi dan masuk tas. Falah tanpa bersuara dibantu Martin juga sedang merobohkan tenda.
Ilana masih berjuang membuat Jesi terjaga. Erangan marah justru mendampratnya.
“Apaan sih?” Jesi terduduk kesal. Dengan cepat mulutnya terbekam tangan Ilana.
“Jangan berisik, ada keadaan darurat.”
Jesi yang mau berontak sontak diam. Kecemasan menyelubungi dirinya. Tanpa bicara lagi dia menyambar tas lalu memakai sepatunya.
Bima masih membantu Ilana melipat karpet alas tidur. Falah dan Martin telah siap berangkat. Bima lalu memberi kode agar mereka berjalan dulu. Setelah semua perlengkapan masuk tas seperti biasa Bima menyisir area mengecek barangkali ada yang tercecer. Ternyata aman.
Sambil melirik tenda doom yang tak ada tanda kehidupan, Bima melangkah pelan menyusul yang lain. Beberapa tapak tercapai suara batuk membuat dada Bima berdentam. Senter segera dia matikan. Untung yang lain sudah cukup jauh dari lokasi perkemahan.
Namun, siapa sangka. Ternyata mereka berhenti tak jauh dari tempat dia mematikan sumber cahaya. Jesi tampak jongkok dengan membenamkan kepala pada dua lututnya.
“Ada apa?” bisik Bima.
“Dia mogok jalan.” sahut Ilana serupa desisan.
“Ngantuk, aku nggak mau jalan malam lagi.” serunya mendengung di antara dua kaki.
“Jes, ayolah, setelah jauh dari mereka baru kita nge-camp lagi.”
“Nggak mau!” Jesi mengangkat wajah. Suaranya menggaung mengisi kesunyian sekitar.
“Sst!” Ilana memperingatkan.
Bima lalu berjongkok depan Jesi dan Martin.
“Sewaktu aku pipis secara tak sengaja aku mendengar percakapan mereka.” Bima mulai bercerita. Dia berharap, dengan mendengar ceritanya itu, Jesi jadi mau bergerak. “Mereka bilang tidak menyangka bakal bisa kabur dari Lapas Permisan. Dan sejauh ini, nampaknya belum ada petugas yang berhasil menyusul mereka.” helaan nafas memotong deretan kata-kata Bima. “Yang paling mencemaskan adalah, mereka berencana menjadikan kita sandera kalau ternyata petugas mencegat di Rancah.”
“Nggak percaya! Mereka terlihat baik. Mereka kasih kita makanan, kan?” bantah Jesi.
“Sst, jangan keras-keras!” Ilana terlihat geregetan.
“Ah ya,” tiba-tiba Falah ikutan berseru cukup keras. Senter langsung menerkam muka Falah. “Aduh, sori.” bisiknya.
__ADS_1
“Kita belum jauh dari mereka,” kata Bima ikut mengingatkan.
Falah lalu jongkok seperti yang lain. “Aku teringat sesuatu tentang mereka.” tampang Falah kali ini terlihat serius di luar kebiasaan. Yang lain menatapnya penasaran. “Bapak berkumis tipis itu, dia dulu pejabat yang terlibat korupsi besar. Beritanya sampai heboh benar. Dulu dia nggak pakai kumis, sekarang, memang agak berubah sih. Tapi aku bisa memastikan itu. Dia itu Noto Kusumo.” Falah memandang semua temannya yang takzim mendengar ceritanya. “Terus, laki-laki bertato. Dia seorang bandar narkoba, Anton Sanjaya. Vonis hukumannya mati.”
“Kamu habis tanya Mbah Google?” tanya Martin begitu mendengar informasi lengkap dari Falah.
“Tahu sendiri di sini nggak ada sinyal.” cetus Falah. “Aku baru aja membangunkan memoriku yang lagi mati suri.” cengiran lebar tergambar pada wajah Falah.
Bima dan Ilana sih, tidak kaget kalau tiba-tiba Falah jadi semacam pembaca berita. Hobinya selain buat video juga suka menonton berita. Entah, dengan naik gunung_berkegiatan di alam bebas. Termasuk hobi atau sekedar keisengan semata.
“Yuk, kita jangan berlama-lama di sini. Keburu mereka sadar kita nggak ada.” kata Bima sambil berdiri.
Jesi bergeming. Cerita dari Bima dan tambahan informasi dari Falah tidak membuatnya kalut atau takut. Sepertinya dia lebih tidak suka berjalan dalam gelap di tengah hutan. Mungkin sebentuk trauma pada malam sebelumnya yang berjalan dalam badai dan beberapa kali tergelincir, membuatnya lebih enggan menapak ke depan.
“Ayo, Jes.” Martin menarik tangan Jesi. “Lebih bahaya bersama mereka, lho.” dengan sabar Martin mencoba membujuk Jesi.
Ilana jadi meleleh sendiri. Ada ya, cowok yang sabar dan pengertian seperti Martin. Sudah tampan, baik hati pula. Ilana jadi membayangkan yang bukan-bukan. Tapi mana mungkin, cowok sekelas Martin melirik padanya.
“Puh!” Ilana menghembus nafas membuang angan kosong.
“Nggak mau!” Jesi malah berteriak tambah keras.
“Hoi, kalian mau kemana?”
Cahaya senter tampak bergerak-gerak menuju tempat mereka berada.
“Mereka datang, Jes!” Martin mengangkat tubuh Jesi yang kakinya seolah menempel di tanah.
“Enggak!” Jesi malah menangis. “Kalian pergilah!”
Semua jadi bingung. Cahaya yang menari-nari di tanah semakin terlihat jelas.
“Jesi, jangan begini.” Ilana mulai bersimpati. “Kita harus pergi sama-sama.”
Sorotan cahaya mirip mercusuar telah berhasil memindai keberadaan mereka. Derap langkah cepat menumbuk tanah juga terdengar.
“Kalian pergilah, cari bantuan!” kata Martin akhirnya.
“Tapi,” Ilana masih tidak rela. Dia benar-benar khawatir akan Jesi.
__ADS_1
“Hoi, kalian sedang apa?” teriakan suara bertalu-talu seiring degup jantung kelimanya.
Bima dan Falah sudah siap berlari. Tapi kaki Ilana seperti tertanam dalam tanah. Sulit tercerabut. Entah kenapa air matanya ikut berlinang.
Bima tidak tinggal diam. Dia segera menarik tangan Ilana. Mencabut paksa kekakuan yang tiba-tiba mengakar.
“Jangan lari!”
“Woi!”
Orang yang menghampiri anak-anak menyadari kalau tiga dari mereka melarikan diri. Ternyata ada dua orang yang datang. Satu orang yang bertato lalu menjaga Jesi dan Martin. Si gondrong berusaha mengejar Bima, Ilana dan Falah.
“Kami cuma mau membantu!” seru orang yang mengejar berusaha memberi kesan baik.
“Ke kiri Fal, masuk hutan!” seru Bima ingin menghilangkan jejak.
Ketiganya menerobos lebatnya hutan dengan satu penerangan. Hal itu dimaksudkan agar pengejar tidak dapat mendeteksi cahaya yang ada di depan. Cahaya yang dapat menjadi petunjuk bagi si pengejar.
Setelah merasa jauh berlari Bima menghentikan aksi terabas membabi-buta yang baru saja mereka lakukan. Entah sudah berapa tanaman semak yang menghantam tubuh dan muka mereka. Kadang malah ada yang menjegal kaki hingga mereka jatuh terguling.
“Stop Fal!” seru Bima tertahan. “Matikan senter.”
Mereka spontan menahan nafas meski terasa sulit akibat pelarian yang menguras banyak oksigen. Sepi. Yang terdengar hanya lenguhan burung malam yang menegakkan bulu kuduk. Kalau saja posisi mereka sedang tidak terancam. Pasti ada satu kekhawatiran lain terkait hantu yang tiba-tiba muncul seperti dalam film horor.
“Sepertinya aman.” bisik Falah.
Ilana telah menggelosor di tanah. Nafasnya tidak bisa lagi dia tahan. Tersengal-sengal bersanding dengan ceguk tangisan.
Bima dan Falah menjatuhkan diri tak jauh dari Ilana. Dua cowok itu hanya menatap teman ceweknya yang tidak seperti biasa. Bukankah, mereka pernah mengalami hal paling ekstrim. Ilana masih tetap tegar dan berpikir paling logis. Namun malam ini Bima dan Falah melihat sisi lain Ilana yang rapuh.
Detik-detik berlalu. Setelah sedu sedan Ilana mereda Bima menyodori air minum. Ilana menerima dan langsung meneguknya. Dia sudah bisa menguasi keadaan. Nafasnya mulai teratur. Tubuhnya lunglai bersandar pada sebatang pohon tumbang.
Bima menyorotkan senter ke area sekitar. Tampak beberapa gelondong kayu tidur rebahan dengan tenang. Pada kesempatan lain matanya melihat ada bundaran-bundaran bekas kayu yang tertebas.
“Kita nge-camp di sini.” kata Bima memutuskan.
Falah mengangguk segera meraih tas Ilana yang tergolek tak jauh dari tubuhnya yang masih terlihat lunglai. Tanpa berkata-kata Bima dan Falah telah mendirikan tenda untuk Ilana. Menyuruhnya segera beristirahat, sementara mereka membangun tenda masing-masing.
__ADS_1