Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Pagi harinya Bima, Ilana dan Falah setelah menginap di masjid Permisan langsung di antar keluar pulau. Bus milik Kemenkumham membawa ketiganya bersama beberapa karyawan petugas lapas yang lepas jaga malam pulang ke daratan Cilacap.


Awal perjalanan aspal yang terlewati agak rusak sehingga menimbulkan goncangan dalam bus. Kanan-kiri mereka kebanyakan berupa hutan, bila menemukan bangunan pasti di sekitaran lapas. Setidaknya mereka melewati tiga lapas sepanjang jalur pulang. Pertama Lapas Narkotika, Lapas Besi dan Lapas Batu sebelum sampai ke Pelabuhan Sodong.


Sayangnya, sebagai akibat lelah yang bertumpuk-tumpuk, sepanjang perjalanan mereka lewatkan dengan tidur. Apalagi pemandangan kiri-kanan hanya tumbuhan melulu. Baru mendekati pelabuhan, selepas Lapas Batu, Bima dan Ilana membuka mata melihat selat yang memisahkan antara daratan Pulau Nusakambangan dengan Cilacap.


Ilana melihat jam tangan begitu bus berhenti. Hampir tiga puluh lima menit, hasil hitungan Ilana dari angka jam mulai perjalanan. Satu-persatu mereka turun. Perahu yang akan membawa menyeberang telah siap di dermaga. Pak Solih yang akhirnya mengantar mereka menggiring ketiganya naik perahu yang cukup besar. Perahu yang bisa memuat orang dan kendaraan.


Pak Solih juga mengatakan kalau guru dan orang tua mereka telah menunggu di Pelabuhan Wijayapura tempat perahu akan berlabuh. Membayangkan hal itu, perasaan tidak enak menyelinap dalam hati Ilana. Pastilah, ulah mereka membuat seluruh sekolah heboh dan cemas. Entah apa yang akan dia katakan nanti. Tepatnya mereka dalihkan untuk meredam kekhawatiran semua pihak.


Lalu mengenai Martin dan Jesi. Sampai dengan mereka turun di Pelabuhan Sodong belum ada kabar tentang nasib  keduanya. Mengingat itu, rasa pilu kembali menghinggapi Ilana.


Dada Ilana semakin berdebar manakala dermaga telah nampak oleh mata. Dan ketika perahu merapat, langkah berat terayun mendesak haru, sesal juga rindu. Begitu kaki memijak daratan, rengkuhan lembut menyeret Ilana dari kerumun. Sang Ibunda tercinta mengisak memeluk putrinya yang kemarin masih dinyatakan hilang.

__ADS_1


“Maafin Ilana, Bu.” ucap Ilana kelu. Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.


Bima dan Falah juga menghadap orang tua masing-masing. Pancaran bahagia tertampil. Meski sorot angkara turut terselip. Yang pasti kelegaan bahwa anak-anak bisa kembali dengan selamat menutupi sebongkah kekesalan yang mengganjal.


Tiga orang guru yang menyertai orang tua si anak-anak hilang menggiring ke mobil yang telah menunggu. Tujuan mereka penginapan dekat Polres Cilacap. Besok pagi anak-anak harus melapor dan memberi keterangan tentang kejadian menghilang mereka di Nusakambangan juga tentang pertemuan dengan napi yang melarikan diri.


Malam ini ketiganya tidur pulas dalam dekapan orang tua masing-masing. Hingga pagi menjelang, ada perasaan enggan meninggalkan kasur yang selama enam hari kemarin tidak mereka rasai. Nyaman, meninggalkan mimpi mimpi petualangan yang tidak akan terlupakan.


Menurut info mereka tertangkap di rawa. Tersebab, buron menyadari ada yang tidak beres di teluk penjemputan. Karena itu mereka nekat menorobos rawa memindah titik penjemputan. Untunglah aparat telah bersiap-siap tentang kemungkinan tersebut.


Medan rawa yang ganas secara tidak langsung melumpuhkan mereka. Lumpur-lumpur dalam menjebak pelarian hingga tak bisa bergerak saat surut datang. Termasuk Martin dan Jesi yang akhirnya mereka tinggalkan karena Jesi sudah pasrah ketika tubuhnya terbenam lumpur hingga sepaha.


Selain aparat, tim SAR ikut terjun mengevakuasi Martin dan Jesi. Sekarang keduanya sedang mendapat perawatan di Rumah Sakit Cilacap. Bima, Ilana dan Falah langsung menjenguk teman setengah jalan mereka.

__ADS_1


Ilana terenyuh melihat kondisi Jesi yang terbaring lemah. Selang infus bahkan oksigen membelit tubuhnya. Jesi tampak seperti mawar merah yang layu dan memudar warnanya.


“Syukurlah, kamu selamat Jes.” kata Ilana dengan kelu. Tangannya menggenggam jari-jari Jesi yang masih terasa dingin. “Maaf, kami meninggalkanmu.”


Anggukan kecil berlanjut gelengan kepala dan balasan genggaman lemah dari Jesi, membuat Ilana semakin yakin bahwa Jesi akan baik-baik saja. Ilana pun dengan berat hati mengatakan akan meninggalkannya lagi. Dia harus pulang bersama orang tuanya. Bima dan Falah mengatakan hal yang sama seperti Ilana. Setelah menjenguk Martin di kamar sebelah. Ketiganya meninggalkan rumah sakit, untuk kemudian melaju ke rumah masing-masing di Semarang.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2