
Bima, Falah dan Ilana tampak duduk santai di bawah patung cangkang penyu yang bentuknya masih utuh. Menikmati aroma lautan yang selalu membawa efek lengket di kulit. Memandang laut lepas yang terbelah pemecah ombak. Tak bisa terbayang bila tidak ada beton menggalur menjorok ke tengah, pasti ombak yang menerjang lebih ganas saat menyerang daratan.
Tengah hari yang terik membuat ketiganya enggan berkeliaran di bibir pantai. Apalagi perut habis diisi, jadi ada efek mengantuk menggantungi kelopak mata. Sebenarnya tadi ingin leyeh-leyeh dulu di mushola. Tapi suasana terlalu riuh orang berlalu-lalang ingin menjalankan ibadah. Bima pun lalu mengajak Falah menuju ujung timur pantai melewati tulisan raksasa ‘Teluk Penyu’. Ilana yang melihat kelebat dua orang sobatnya segera menyusul, meninggalkan Ara dan Meidi yang masih mengantri mukena.
“Mana penyu-nya?” kata Falah.
“Kamu nggak lihat, penyunya udah jadi cangkang batu dan sekarang sedang menaungi kita.” sahut Bima menjawab pertanyaan Falah.
“Setahuku, teluk ini dulu rumah bertelur penyu-penyu.” terang Ilana lebih masuk akal. “Dahulu kala sekali, sebelum kilang minyak dibangun, sebelum kapal-kapal tanker berkeliaran di sekitar.” Ilana menunjuk satu kapal tanker yang tengah mengambang tak jauh dari pandangan.
“Mereka tergusur ya?”
“Seperti itulah, kasihan.”
“Mereka pergi kemana ya?” ujar Falah.
“Denger-denger sih, migrasi ke Pulau Bali dan Lombok.” sahut Ilana.
“Pintar mereka, milih pantai yang indah.”
“Aku yakin dulu pantai ini menawan. Sekarang juga masih ada jejak keindahannya. Pemandangan Pulau Nusakambangan yang eksotik dan misterius jadi daya tarik tersendiri.”
“Iya sih,” Falah memandang ke arah bangunan kilang minyak yang menjulang. “Jadi gara-gara ada sumber minyak, pasir besi, batu bara.” gumam Falah kemudian.
“Manusia itu mahluk yang paling rakus.” komentar Bima. “Pantai ini buktinya. Banyak hewan yang menjadi langka, bukti lainnya. Bahkan tak sedikit yang telah punah. Kenapa, karena manusia memburu mereka. Untuk makan, untuk uang, untuk kesenangan.”
“Bicaramu, sok bingits, Bim.” lontar Ilana.
“Aku bicara fakta.” tanggap Bima yang kemudian memilih duduk lesehan dari pada duduk di bangku buatan yang terbuat dari beton. “Basic instinct,” lanjut Bima. “Insting dasar manusia memang untuk menjadi predator bagi yang lain.”
“Insting dasar, kalau dibarengi pengetahuan yang benar bisa menyelaraskan.”
“Kalian pada ngomong apaan sih?” Falah menyela obrolan yang tidak dimengertinya.
“Aku pikir, insting dasar kalau diimbangi pengetahuan dan agama akan membawa kelestarian dan kesejahteraan.”
“Itu hanya teori,” bantah Bima. “Justru semakin pintar orang, semakin pandai pula dia mencari celah agar dapat meloloskan diri dari tanggung jawab.”
__ADS_1
“Tergantung karakter masing-masing orang,” bantah Ilana lagi.
“Nah\, akhirnya ketemu!” secara tak terduga Ara dan Meidi telah berdiri menutupi pemandangan laut biru di depan. Bahasa tubuh keduanya serupa Sailor Moon_pahlawan penumpas kejahatan di film kartun Jepang_anime jadul\, yang berhasil memergoki penjahat. Tangan kanan teracung ke depan\, kedua belah kaki terbuka lebar. Sementara tangan kiri menopang pinggang.
“Dia lagi,” keluh Bima lirih namun pasti terdengar oleh Ilana dan Falah. Gerak selanjutnya Bima berdiri dan keluar dari cangkang yang memayungi. Arah tujuannya ke beton pemecah ombak.
Ara mengikuti Bima.
“Cewek itu pantang menyerah ya?” lontar Falah dalam posisi duduk bersila mirip petapa.
“Ara memang begitu,” sahut Meidi.
“Bagiku itu menggelikan.” ucap Ilana.
“Menggelikan apanya?”
“Gerak-gerik keduanya yang lucu-lucu gimana gitu.”
“Gitu,” Falah mengelus dagu sambil terus mengawasi Bima dan Ara yang semakin dekat beton pemecah ombak. Bima malah sudah meniti sisi kanan penampangnya. “Aku mau ke jembatan juga, ah. Kayaknya seru.”
Ilana membiarkan Falah meninggalkannya berdua dengan Meidi. Matanya jadi memperhatikan Ara yang tidak bergerak di salah satu ujung pemecah ombak yang tertimbun pasir. Sementara itu Bima telah mencapai tengah pemecah ombak yang bawahnya air laut bergejolak hebat di sela kaki-kaki beton penyangga.
“Ternyata serem banget meniti jembatan itu.” kata Ara. “Bima nggak mau nungguin aku sih.”
“Kayaknya dia khawatir kamu bakal minta gendong lagi.” Ilana tersenyum menanggapi.
“Masa segitunya,”
“Aku kan, pernah bilang Bima itu alergi cewek.”
“Beneran itu?” Meidi setengah tidak percaya.
“Kok sama kamu dia baik-baik aja.” tuding Ara.
“Dia nggak nganggep aku cewek kali,” kata Ilana enteng sembari bangkit dari duduk. “Aku menyusul mereka,” pamit Ilana kemudian.
“Uh, dasar cewek gatel!” runtuk Ara pelan yang sempat terdengar oleh Ilana.
__ADS_1
Ilana tak acuhkan. Biarin saja, mereka mau bilang apa? Toh, kenyataannya aku nggak seperti itu.
Melihat Bima dan Falah tampak asyik duduk di ujung pemecah ombak, membuat Ilana ingin merasakan sensasi yang sama. Dia pun berlari kecil menyongsong pangkal jembatan penghalau deburan air.
Ilana mengamati bentukan beton pemecah ombak yang mirip jembatan. Bedanya jembatan laut ini mempunyai penampang berlubang-lubang mirip anak tangga yang direbahkan. Kalau lewat tengah jembatan berarti harus melompat-lompat satu langkah orang dewasa untuk memijak penampang lintang berikutnya. Demi keamanan banyak yang memilih meniti samping kanan atau kiri jembatan.
Satu tapak, dua tapak. Tanah berpasir masih nampak, sebelum sesekali tertutup gelombang air. Semakin ke tengah, Ilana merasa gamang. Air yang berlarian di bawah membuatnya hampir hilang keseimbangan. Ilana mendongakkan kepala memandang jauh ke depan. Menarik nafas, lalu mencoba fokus pada titian tempat kaki menapak.
Berhasil, perlahan tapi pasti Ilana semakin dekat ke ujung. Mendapat sambutan cengiran lebar dari Bima yang kebetulan menoleh ke belakang.
“Sambil mancing asyik nih,” ucap Falah yang tidak sadar kedatangan Ilana yang sudah duduk di sebelah Bima.
“Asal jangan mancing keributan.” balas Ilana.
“Wow, Bro! Sampai sini juga.”
“Sis! Masa perempuan kamu panggil Bro,” protes Ilana.
“Kalau kamu nggak pakai jilbab, memang pantas dipanggi seperti itu.”
“Ara nggak ikutan?” tanya Falah tak menanggapi komplen Ilana dan celoteh Bima.
“Kalian berdua mau gendong dia lagi?”
“Ogah!” sambar Bima cepat.
“Bisa nyebur bareng kita,” ucap Falah demi teringat kejadian di jembatan gantung.
Ilana tertawa. Matanya lalu beredar melihat pemandangan sekitar. Ada perahu melaju ke arah kanan. Pemandangan lain berupa kapal tanker milik pertamina mengapung tak jauh dari kilang minyak. Jauh di sebelah kiri tampak menjorok dermaga panjang untuk mengangkut batubara.
Angin mulai bertiup kencang menerpa ketiganya. Pancaran panas sang surya jadi sedikit teredam oleh hembusan segar si bayu. Mereka kembali menikmati ketenangan dari birunya samudera. Tak terpengaruh gemuruh air yang berkejaran di kaki-kaki penyangga.
Syahdu, hingga bunyi nada dering dari gawai Bima bernyanyi merdu memecah hening yang tercipta. Ara menelpon. Bima enggan mengangkat. Tapi Ilana segera tanggap begitu melihat jam tangannya.
Pukul satu tepat. Waktu di Teluk Penyu telah habis. Saatnya merapat ke tepian untuk melaju ke hutan bakau di Kampung Laut.
__ADS_1