
Begitu bel istirahat berdentang, Bima segera meloncat keluar dari bangku. Di pintu kelas dia sejenak mengawasi keadaan. Sosok yang selama ini sedang dia hindari tak menampakkan seruan melengkingnya. Aman. Bima beringsut hati-hati menempel tembok kelas menuju belakang gedung kelas, menuju arah kantin. Sebelum masuk kantin, dia mengintip mencorongkan radar mata memastikan lokasi juga bersih dari “kuman”.
Segera dia mengambil minuman botol dan roti lalu melesat ke belakang kantin. Tepatnya pada area parkir motor. Tumpukan kursi-kursi rusak pada sudut lain menjadi tempat sempurna untuk bersembunyi. Bima dibantu Falah kala itu membuat satu ruang kosong di balik tumpukan kursi lalu mencari kursi yang masih layak pakai sebagai tempat duduk.
Tak lama kemudian Falah muncul. Senyum lebar terkembang. Antara geli dan senang.
“Beneran di sini, kau!” ujarnya lalu duduk membentuk leter L dengan Bima. Minuman botol dia letakkan di samping kiri yang terdapat tumpukan kursi kayu terbalik. “Ara mencari kamu tuh.”
“Ah, lagu lama.” erang Bima.
“Yang dapat sial Ilana. Dia dikuntit terus sama Ara. Dia pasti mengira Ilana bisa membawanya ke tempatmu, Bim.”
“Semoga Ilana nggak beneran membawa dia kemari.”
Jeda diam. Bima sibuk menikmati roti sambil memandang buah markisa yang bergelantungan di atasnya. Falah sendiri mengecek akun youtube-nya.
“Sepuluh ribu like. Wow!” seru Falah tertawa ngikik. “Baru kali ini bisa tembus segitu. Paling banter tiga ribu. Komen-komennya juga banyak.”
“Nah, kan. Perjalanan kita waktu itu memang menakjubkan.” komentar Bima. “Juga pengeditannya bagus.”
Falah menggosok hidungnya senang. Tangannya sudah sibuk membalas setiap komen yang masuk. “Mereka menantikan petualangan kita berikutnya, Bim.”
“Selama kita masih dipenjara di rumah. Dan masa hukuman tak boleh berkegiatan di luar belum kelar, mustahil ada petualangan.”
“Enam bulan.” Falah mendongak ke atas. “Masih masih empat bulan lagi. Dan bersisa satu bulan jadi tahanan rumah.”
“Lamaaa!” seru Bima.
“Benar, aku juga jadi nggak bisa melakukan apa-apa kalau di rumah terus.” keluh Falah. “Chanel youtube-ku jadi mandul, nggak ada video baru.”
“Blog-ku juga ganggur.” timpal Bima. “Masa mau nulis kegiatan sehari-hari dari bangun tidur sampai tidur lagi. Nggak asyik.”
“Kenapa nggak kamu tulis aja aksi kucing-kucinganmu dengan Ara. Lumayan kocak tuh.”
“Ngaco, melenceng dari tema, Pa-al!” Bima kalau sedang kesal memang memanggil Falah dengan sebutan Pa-al. “Blog-ku isinya tentang petualangan dan dunia kepecintaalaman. Masa mendadak melambai-lambai gitu.”
Falah meringis ngikik. “Atau aku buat video-nya aja ya.”
“Awas, kalau berani.” kepalan tangan mengarah ke Falah.
Falah tambah tertawa. Dia lalu berdiri, karena memang jam istirahat telah usai. Bima mengikutinya dengan enggan.
**
__ADS_1
Ilana melihat kelebat Bima yang langsung kabur dari kelas begitu bel istirahat berbunyi. Dia bisa menduga, pasti Bima mendekam di tempat rahasia mereka. Parahnya kemarin waktu dia hendak menyusul Falah, Ara terlebih dulu mempergokinya. Dan yang paling menyebalkan adalah, Falah melambaikan tangan seolah mengejek sebab dirinya terjebak dengan Ara.
Sebenarnya dia bisa saja mengajak Ara ke Bima. Tapi, Ilana sendiri tidak suka kalau tempat rahasia mereka ketahuan orang lain. Di sana biasanya mereka merencanakan hendak kemana pada akhir pekan nanti. Tidak melulu ke gunung sih. Kadang mereka hanya hiking, atau mencari tempat wisata alam yang masih alami. Dengan adanya Ara, bisa tidak asyik ruang pertemuan mereka nanti. Meski saat ini tak ada rencana untuk melakukan kegiatan tersebut.
Sama seperti Bima dan Falah. Ilana merasa hari-harinya di rumah dan sekolah terasa membosankan. Instagramnya juga mati suri dari postingan. Bukan gambar diri yang suka Ilana umbar di sosmed tersebut. Dia lebih suka menampilkan foto pemandangan alam yang menawan. Sementara ini stok foto dari Nusakambangan sudah habis. Tidak mungkin dia tiba-tiba memajang foto selfi bernarsis diri. Itu sama sekali tidak mencerminkan seorang Ilana Sang Pendaki. Nama instagramnya.
Baru aja Ilana beranjak dari duduk setelah membereskan buku-buku, Ara sudah muncul kembali. Tanpa basa-basi dia langsung tanya tentang Bima lagi.
“Na, Bima kemana sih? Beneran kamu nggak tahu kemana dia ngilang kalau jam istirahat.” tanya Ara menyelidik.
“Aku bukan baby sitter-nya kali.” ucap Ilana dengan kesal.
“Ya udah, nggak usah pakai nyolot dong!” tanggap Ara lalu berbalik dan pergi bersama Meidi.
Ilana menghembus nafas lega. Hari ini dia bisa lepas dari Ara. Bisa ikut kumpul bareng Bima dan Falah. Tapi tetap harus waspada.
Ilana melenggang keluar setelah memastikan arah langkah Ara. Berarti dia harus mengambil jalan lain agar tidak tepergok penggemar berat Bima. Agak jauh memang, karenaharus memutar.
Menyisir kelas IPS terkadang membuat Ilana enggan. Anak-anak kelas sosial selalu berisik dan kadang menggoda anak perempuan yang lewat. Sebenarnya Ilana tak terlalu merisaukan bakal digodai. Dia sadar diri kok, penampilannya tak mungkin menyulut mulut para cowok bersuit-suit. Tapi tetap saja risih. Kali ini demi keamanan semesta, lewati saja.
“Ilana!” sebuah seruan membuat Ilana memalingkan muka.
Jesi dan Martin, sejoli yang paling tenar di sekolah melambaikan tangan. Mereka duduk berdua memisahkan diri dari gerombolan anak lain. Pemandangan macam itu terus terang membuat Ilana gerah. Bukan karena iri atau cemburu apalah. Lebih pada menyayangkan waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk pacaran. Bukankah masa muda seharusnya untuk melihat dunia secara luas, tidak terkungkung oleh satu orang. Mempelajari banyak hal, menimba berbagai pengalaman tidak hanya mengenal cara berkasih-kasih dengan orang yang bukan mahromnya.
Mungkin itu hanya idealisme Ilana. Satu pemikiran yang bagi teman-teman sebaya bakal terdengar konyol dan kolot. Biar saja. Toh yang akan rugi mereka sendiri nanti. Bantah benak Ilana sewaktu bisikan lain datang mencemooh.
Jesi memberi isyarat agar Ilana mendekat. Keduanya sedang duduk berdua di bangku beton bawah pohon tak jauh dari teras koridor tempatnya berdiri. Tinggal melompat pembatas teras sudah sampai. Berhubung Ilana memakai rok panjang, hal itu tidak mungkin dia lakukan. Ilana mencari celah keluar dan dengan enggan menghampiri Jesi dan Martin.
“Mau kemana?” tanya Jesi. “Sini duduk sini.”
“Ada apa ya?” Ilana masih berdiri memandang keduanya secara bergantian. Saat matanya bertemu dengan Martin, satu detak tak wajar menghajarnya. Ilana segera memaling pada Jesi.
“Kami belum sempat mengucapkan terimakasih sama kamu, Bima, trus satu lagi yang pakai kacamata, badannya kurus kering, siapa?”
“Falah,”
“Oh ya, Falah.”
“Terimakasih untuk apa? Seharusnya kami yang minta maaf karena telah membuat kalian terlibat masalah.”
“Ayo duduk dulu.” Jesi menarik tangan Ilana hingga duduk tepat samping kirinya. “Yah, meski rasanya membuat habis jiwa raga, tapi itu memberi pengalaman hidup baru. Ya kan, Martin?” Jesi menoleh pada Martin yang berada di sisi kanannya. “Berkat kalian, kami memiliki satu titik di mana cinta kami benar-benar teruji.”
“Oh syukurlah. Kupikir kamu bakal trauma.” ucap Ilana hampir tersedak ludah sendiri. “Kami sungguh menyesal karena dulu meninggalkan kalian.”
“Itu pilihan yang benar.” sahut Martin. “Setidaknya aparat akan siap dengan kemungkinan adanya kami. Kalian segera melapor bukan?”
__ADS_1
Ilana mengangguk.
“Oh ya, boleh aku minta nomor WA-mu.” pinta Jesi.
Setengah ragu Ilana mengeluarkan gawainya. Mereka berdua pun bertukar nomor WA dan sosmed yang lain. Dan sejak saat itu, Jesi sering sekali menyapa Ilana lewat WA. Atau tiba-tiba menyambangi kelasnya dan mengajak makan bersama di kantin. Iyaa, kalau dia datang sendiri. Masalahnya, Jesi selalu datang dengan Martin. Membuat hati Ilana semakin tidak bisa terkondisikan.
Mendengar itu, Bima dan Falah menanggapi dengan acungan ibu jari ke atas.
“Baguslah, kamu jadi punya teman cewek.” kata Bima.
“Martin?” dengus Ilana.
“Harusnya kamu senang ada dia, kan?” tanggap Falah. “Bukannya kamu suka sama dia?”
Mata Ilana sontak melotot. Mata Bima juga spontan memandang Ilana menyelidik. Ada sinar keterkejutan di sana.
“Sok tahu kau!” runtuk Ilana yang berasa panas mukanya.
“Matamu yang mengatakan itu.” ucap Falah santai.
“Jadi seleramu ayam sayur, Na. Yang pucat lemah nggak bertenaga macam itu?” tuding Bima mencibir.
“Memang kenapa?”
“Nggak apa. Heran aja.”
“Nah, nah, ngaku sendiri kan, kalau suka.” telunjuk Falah berputar-putar ke arah Ilana.
“Dia udah punya pacar lho, pacarnya cantik pula. Amat sangat jauh dari kamu, seperti bunga dengan jamur.” cerocos Bima mengingatkan.
“Kok bunga sama jamur?” tanya Falah.
“Yah, dia itu mirip jamur beracun. Sama sekali nggak menarik.”
“Bukannya jamur beracun justru punya warna menarik perhatian, yak.” Falah ingin membenarkan perumpamaan Bima.
“Pokoknya nggak bisa dibandingkan.” sahut Bima cepat.
“Ah, kalian berisik banget, sih. Suka-suka aku dong!” tukas Ilana beranjak meninggalkan Bima dan Falah.
“Marah dia!” cetus Bima. “Dasar cewek pemarah!”
__ADS_1