Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Rancah Babakan = Gerbang Petualangan


__ADS_3

Perahu compreng bermesin diesel melaju memecah ombak. Ada kengerian, sebab air begitu dekat dengan bibir perahu. Apalagi tak ada fasilitas pelampung bagi penumpang. Bila ombak besar menelan perahu itu, entah bagaimana nasib penumpang yang tidak bisa berenang. Meski Ilana bisa berenang, dia tetap merasa khawatir kemungkinan tersebut akan menimpa.


Pelayaran kembali menyusur tepian Nusakambangan dengan hutan mangrove pada sisi kiri dan jauh sebelah kanan gambaran pegunungan Indralaya menghampar. Nun di sana gulungan ombak putih seperti segaris pita yang membatasi dua warna biru yang berbeda. Hijau toska bercumbu dengan biru kelabu di bawahnya.


Hampir satu setengah jam kemudian beberapa bentukan karang mewarnai kelengangan arus air. Satu buah karang tinggi menyambut bak gerbang masuk ke Samudera Hindia. Tonggak karang itu mengingatkan Ilana pada perjalanan Bilbo, Hobbit yang melakukan perjalanan dalam cerita The Lord of The Ring, saat menyusur sungai lalu bertemu dengan dua tebing tinggi dengan patung berbentuk wajah menghiasi puncaknya.


Bedanya, karang yang dilihat oleh Ilana cuma satu dan kepala tebing rimbun oleh tumbuhan semak sekaligus sebagai tempat sarang burung. Dan bila disandingkan dengan daratan pulau yang menjorok dalam bentuk tebing, sungguh terasa akan melewati sebuah pintu masuk ke suatu tempat. Menurut nahkoda perahu compreng, tempat tersebut disebut Pelawangan. Dari kata lawang; bahasa jawa yang berarti pintu.


Sayangnya, perahu compreng yang membawa rombongan Ilana tidak melewati Pelawangan. Perahu telah berbelok masuk teluk kecil di sebelah kiri. Malah mereka harus berpindah ke perahu kecil_jukung agar bisa turun ke bibir pantai.


Ketika Bima menanyakan apakah telah tiba di Rancah Babakan, pengemudi perahu bilang, kalau mereka harus jalan kaki dulu untuk sampai ke pantai tersebut. Mengenai alasan, kenapa rombongan tidak langsung diturunkan di Rancah Babakan. Menurut bapak nahkoda, pertama karena tidak ada dermaga penurunan. Kedua, banyak karang-karang yang bisa menggores lambung perahu. Ketiga, ombak besar dari samudera lepas akan mudah menghempas perahu kecil yang sekarang mereka tumpangi.


Bima mengangguk paham. Satu persatu penumpang turun di pantai kecil untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Seorang guru pendamping menyertai rombongan terakhir. Jalan setapak menjadi petunjuk langkah kaki berteman tetumbuhan yang rimbun.


Mereka melipir perbukitan yang menjulang di sebelah kanan, sementara sebelah kiri terdapat areal persawahan. Perlahan tapi pasti jalan yang tertempuh mengajak rombongan mendaki bukit kecil. Di puncakan bukit, pemandangan pantai Rancah Babakan terlihat laksana surga dunia. Biru, lalu kehijauan berpadu putih. Pada alun yang membuih. Pada pasir yang bersih.


Medan menuruni bukit lumayan terjal. Harus berhati-hati, atau bisa berpegangan pada pagar pembatas dari bambu yang melintang panjang. Sepuluh menit berjalan. Semakin turun butiran pasir mulai membisiki kaki. Tak sabar rasanya ingin segera melepas alas kaki, lalu mengejar ombak yang bergulung-gulung riuh.


Jarak antara pohon terakhir dengan deburan ombak cukup dekat. Tempat yang rindang membuat anak-anak yang malas kena sinar matahari bisa berteduh sambil memandangi lautan yang selalu memberi efek menenangkan. Bima memberi kode pada Falah agar menjauh dari kerumunan. Melangkah ke arah timur yang lebih lengang dan punya hamparan pasir lebih luas dari sisi pantai tempat mereka keluar dari perbukitan.


Tiba di tempat yang memiliki pasir luas, Bima dan Falah, serta Ilana yang tanpa terduga mengikuti langkah keduanya duduk menikmati jilatan ombak yang jauh dari batas pepohonan. Sungguh ini merupakan panorama ciptaan Sang Pencipta yang tanpa cela.


“Nanti kita berjalan hingga ujung sana.” tunjuk Bima pada ujung lengkungan sebelah timur.


“Kamu ikut, Na?” tanya Falah.


“Bisa iya, bisa tidak.”


“Plin-plan.” tuduh Bima.


“Ara mana ya?” tiba-tiba Falah merasa ada yang kurang.

__ADS_1


“Kau ini, mau cari masalah.” gertak Bima.


“Habis biasanya dia selalu bersama kita, toh? Berasa ada yang kurang. Kecuali di hutan bakau tadi.”


“Udah, ayo kita segera menuju pantai berikutnya.” Bima langsung berdiri.


Mau tak mau dua pengikutnya melakukan gerakan yang sama. Setelah mengambil beberapa foto, ketiganya berjalan beriringan masih tanpa mengenakan alas kaki. Menikmati cubitan ombak yang terkadang menggerus lapisan pasir hingga telapak kaki terasa mendesir.


Saat mengukur panjang teluk Rancah Babakan, Bima mendapat angka pada sentimeter ke lima. Itu berarti lingkar teluk dalam kenyataan sekitar dua setengah kilometer. Lumayan panjang alias jauh. Tapi kalau masing-masing pantai dibagi dua seperti tercantum dalam peta, yang mana Pantai Rancah berdiri sendiri dan Pantai Babakan punya lokasi tertandai. Maka jarak 2,5 kilometer bisa menjadi satu kilo meter lebih sedikit untuk setiap pantai.


Sesekali Bima berjalan mundur menikmati paparan pantai sebelah barat dari timur. Dia pun berpikir, tak perlu harus ke Pantai Sanur atau Kuta jika ingin menikmati sensasi pantai pasir putih. Di Jawa Tengah pun ada. Apalagi pantai yang sekarang dia jajaki lebih terasa alami.


“Yoo, mari kita jadi anak pantai!” Bima meninju tangannya ke atas.


Falah yang membawa kamera sibuk merekam sekeliling pantai. Juga aksi dari Bima yang berlari-lari kecil di antara buih ombak.


Matahari semakin malu menampakkan kegarangan. Biasnya yang sayu justru mempercantik bentangan alam yang tertampil di depan. Bima, Ilana dan Falah telah sampai di ujung Pantai Rancah Babakan. Pembatas berupa tebing terjal beradu langsung dengan lautan tak menyisakan butir pasir di dasarnya. Batuan karang yang garanglah menjadi pijakan kaki-kaki air.


“Luar biasa nih,” kata Falah yang sedang merekam detik-detik matahari perlahan menghilang. “Sayangnya tempat indah ini masih belum dikelola dengan baik.”


“Justru aku suka yang seperti ini. Semakin banyak yang datang, resmi jadi tempat wisata, pantai ini akan rusak hilang keasliannya.” ujar Bima.


“Aku pikir, akan tetap seperti ini. Mengingat, menimbang Nusakambangan pulau bui. Departemen Kehakiman si pemilik pulau pasti akan berpikir tiga kali menjadikan pantainya murni komersil. Terkait keamanan.” imbuh Ilana.


“Aku harap begitu.”


“Tapi tetap disayangkan,” desah Falah. “Padahal Nusakambangan bertebaran pantai pasir putih.”


“Boleh, jadi tempat wisata tapi tetap terarah. Tidak bisa sembarangan, harus ada ijin. Mungkin itu solusinya.”


“Bukannya sekarang juga udah begitu.” balas Bima.

__ADS_1


“Maksudku harus terus seperti itu.”


“Tumben kalian punya pikiran sejalan.” lontar Falah memandang dua temannya secara bergantian.


“Namanya aja pecinta. Harus peduli sama yang dicinta dong.” sahut Bima.


”Kamu cinta sama Ilana?” tuding Falah.


Bima dan Ilana saling pandang lalu berekspresi seperti melihat kotoran kambing, sapi dan binatang mamalia lainnya.


“Mana mungkin,” balas Ilana.


“Kamu dapat rumus dari mana?” Bima mendorong kepala Falah bagian pelipis dengan menggunakan jari telunjuk. “Alam, Fal, alam objek cintanya.” seru Bima di telinga Falah yang duduk di sebelahnya persis.


Falah kontan menutup kuping, “Biasa aja keles, aku nggak tuli.” selanjutnya terdengar gumaman, “Lagian, kupingku bukan corong toa.”


“Nah, baiklah, malam ini kita bermalam di sini.” kata Bima sambil berdiri.


“Sebaiknya agak naik ke sana Bim, di balik pepohonan itu.” usul Ilana.


“Enakan di sini, Bro.” cetus Falah.


“Kita nggak tahu air pasang sampai mana lho,” kata Ilana. “Bisa kebanjiran kalau malam ini terjadi pasang tertinggi.”


“Masuk akal juga usulmu, Na.” Bima menyetujui. “Lagian kita nggak bawa tenda doom. Cuma pakai mantel untuk bikin tenda.”


“Yuk, kita cari tempat buat nge-camp.” kata Ilana sambil beranjak dari duduk. Bima dan Falah mengikuti.


Ketiganya lalu menerobos pepohonan dan semak mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Tempat yang setidaknya agak luas dan datar. Tempat yang akan jadi ruang bernaung mereka malam ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2