Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Benteng Pendem Dan Lorong Misterius


__ADS_3

Pintu gerbang objek wisata Teluk Penyu dan Benteng Pendem menyambut rombongan bus wisata SMA Nusantara. Tiba di pertigaan, bus mengarah ke kanan menuju Benteng Pendem. Jarak yang harus ditempuh kurang lebih dua kilo meter dari tulisan Teluk Penyu. Mengambil waktu sekitar 6 menit.


Turun dari bus, gerbang Benteng Pendem yang kokoh berwarna merah siap menantang musuh. Terdapat dua pintu masuk dari besi bercat putih. Pintu sebelah kiri tertutup. Pengunjung harus melewati pintu yang terbuka sebelah kanan.


Benteng Pendem pada masa Belanda bernama Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap, artinya Baterai Pesisir Semenanjung Cilacap, atau ada juga yang mengartikan benteng di atas tanah dan menjorok ke laut menyerupai lidah.


Lalu kenapa ganti nama jadi Benteng Pendem, karena saat ditemukan benteng ini tertutup pasir. Bahkan sampai sekarang, masih ada bagian benteng yang masih belum tereksplor sempurna. Selain memang benteng ini sengaja dibangun terpendam, untuk mengecoh musuh.


Bima, Falah dan tiga gadis yang setia mengikuti menyusuri jalan ke arah kanan. Terdapat taman dengan kolam yang menyaji sebuah tulisan ‘Lokawisata Benteng Pendem’ yang sudah mulai berlumut. Beberapa anak tampak berfoto-foto dengan latar tulisan tersebut.


Perjalanan Bima dkk, berlanjut ke deretan Barak. Seperti halnya Lawang Sewu yang memiliki banyak pintu, barak prajurit yang terpampang pada sebelah kanan jalan memiliki setidaknya 14 pintu masuk dan 28 jendela, tanpa penutup. Sewaktu Bima melongok dalam barak, dia memperkirakan luas masing-masing ruang kurang lebih 3x4 meter.


Puas berfoto-foto, kelimanya melangkah lagi sambil sesekali melihat ke sisi kiri yang berupa gundukan bukit rendah dengan aneka pepohonan yang rimbun. Tak lama sebuah plang bertuliskan ‘Ruang Klinik’ memberi tanda panah ke kiri, lalu terowongan memanah ke kanan. Plang itu menjadi penunjuk kemana langkah akan menuju.


“Kita ke klinik dulu yuk, cek kesehatan.” celetuk Falah antara serius dan tidak serius.


“Masa ada kliniknya?” tanggap Ara serius. “Gratis atau bayar?”


“Gratis,” sahut Bima.


“Iya, yang meriksa suster ngesot.” Ilana menambahi.


“Serius ih,” Ara mendadak merinding. “Jangan ke sana kalau gitu.”

__ADS_1


Tapi Bima dan Falah sudah telanjur melangkah ke arah kiri. Ilana juga ikut melenggang meninggalkan Ara dan Meidi yang terpaku di tengah pertigaan.


Ara memanggil Bima. Tak ada reaksi, mau tak mau Ara lalu menyeret Meidi memasuki jalan menuju Ruang Klinik.


Ruang Klinik memiliki dua pintu terbuka. Di antara dua pintu terdapat gentong_tempat tampungan air dari tanah liat mirip guci yang mewadahi tetesan air dari atas. Nampaknya air tersebut sumber air bersih yang terus mengalir, buktinya tetesan itu terus memenuhi gentong hingga airnya meluber.


Rasa penasaran akan Ruang Klinik terobati. Bima dan Falah menentukan langkah kembali ke arah pertigaan. Mereka penasaran dengan terowongan yang konon salah satunya menghubungkan Benteng Pendem dengan Benteng Karang Bolong yang ada di Nusakambangan.


Dari pertigaan ke klinik mereka berjalan lagi kurang lebih sepuluh langkah, kemudian belok kanan melewati rimbun tumbuhan semak di kanan-kiri jalan. Tiba di pertigaan jalan buntu, ada gapura yang akan membawa mereka masuk ke aliran sungai. Semua melongok ke sungai yang menabrak terowongan sisi kiri.


Sebelum menemukan terowongan, mereka melewati Ruang Pengintaian. Ada beberapa anak tangga menuju teras pengintaian, dengan lubang berbentuk kotak. Bima menyadari satu hal, sungai yang tadi mereka lihat pastilah parit yang dulu sengaja dibuat untuk menghambat laju serangan musuh.


Akhirnya terowongan yang membuat Bima penasaran tampak di depan mata. Dia bergegas masuk. Falah dan Ilana mengikuti dari belakang. Seperti biasa Ara memilih menunggu di luar. Memasuki terowongan sejauh lima meter pada sisi kiri terdapat satu lorong yang terpagari besi. Bagian lorong lain yang berlawanan arah ternyata membawa ke lubang pengintaian.


“Apa mungkin lorong ini yang menuju ke Nusakambangan?” ujar Bima masih menatap lorong gelap di depan.


“Di sini banyak terowongan. Kalau ini mengarah ke sana, tidak mungkin dibiarkan terbuka.” balas Ilana. “Aku lebih menganggap terowongan yang tertutup besi, kemungkinan salah satunya menuju ke sana. Karena berbahaya makanya ditutup.”


“Seandainya kita bisa menelusurinya.” kata Bima.


“Bahaya, kan?” sambar Ilana. “Kalau benar ada terowongan ke sana pastilah udah rusak terendam air. Umurnya udah ratusan tahun lho. Efek air laut serta tekanan arus yang kuat bisa cepat meruntuhkan dinding penghubung.”


Bima menghela nafas sebelum akhirnya mereka bertiga keluar. Ara sudah pasang tampang kusut.

__ADS_1


Langkah kelimanya mengarah pada Ruang Penjara. Ilana mengintip pada satu ruang yang tertutup jeruji besi tua nan tebal. Ada sedikit kengerian kala membayangkan ruangan seluas 1x1,5 meter berisi manusia yang masih bernyawa. Pastilah rasa sesak, gelap dan dingin menggigiti kulit para tahanan.


“Tapi Na, besi-besi yang menutupi lorong tadi bukannya sudah tua, pasti udah ada sejak jaman Belanda. Pasti lorong tadi itu yang menuju ke Benteng Karang Bolong. Posisinya juga pas mengarah ke timur laut.”


“Beda Bim,” tanggap Ilana yang masih merasa bergidik merasakan aura mencekam dalam ruang penjara. “Lebih tebal besi ini,” Ilana mengetuk jeruji penjara dengan jarinya.


“Kali ini aku setuju denganmu, Na.” kata Falah menerbitkan senyum kecut dari bibir Bima.


“Yuk, kita segera jalan lagi. Berasa seram nih,” kata Ara.


“Iya, aku juga merinding.” tambah Meidi.


Selanjutnya mereka menyisir barisan benteng mirip barak dengan jendela kecil menganga. Ini merupakan Tembok Pertahanan. Meniti jembatan yang di bawahnya terdapat aliran air. Berbagi kesenangan dengan anak-anak kecil yang berada di kolam bawah jembatan. Mereka berenang-renang di kolam tersebut untuk mengambil koin uang yang dilempar penyeberang jembatan.


Bima ikutan melempar koin. Sementara Falah mencoba menge-zoom lensa kamera agar bisa melihat momen anak  anak kecil menyelam mengejar koin. Ara turut berseru heboh manakala salah satu anak berhasil menangkap koin tersebut.


Turun dari jembatan, kelimanya memasuki area taman dengan banyak gasebo mewarnai. Secara tidak sadar Bima dkk, telah mengelilingi areal benteng yang memiliki luas sekitar 6,5 ha.


Sesuai namanya Benteng Pendem\, yang terbenam di tanah. Kid jaman old bisa mengimajinasikan benteng pendem seperti bukit teletubies\, yang merupakan rumah bagi tubies. Iya\, rumah Tinky Winky\, Dipsy\, Lala dan Po_nama para tubies\, berada di dalam gundukan bukit. Falah yang sudah melihat rekaman video dengan menggunakan kamera terbang_drone, dapat membayangkan bentukan unik benteng pendem dari atas.


Tanpa sempat beristirahat, Bima, Falah dan tiga orang cewek yang menyertainya langsung keluar dari gerbang benteng menuju bus masing-masing. Padahal Falah dan Ara kompakan ingin menikmati segarnya air kelapa muda. Tapi apa boleh buat, pengeras suara telah berkoar mengabarkan rombongan wisata dari Semarang harus segera merapat ke pintu gerbang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2