
Rombongan bus yang membawa siswa dari SMA Nusantara menuju dermaga Sleko. Salah satu pelabuhan yang ada di Cilacap. Pelabuhan tempat penyeberangan menuju Kampung Laut.
Sebagai kota pinggir laut, Cilacap memiliki banyak dermaga atau pelabuhan besar dan kecil. Di antara pelabuhan besar yang terkenal adalah Pelabuhan Tanjung Intan, pelabuhan utama di kota Cilacap. Kemudian, Pelabuhan Batubara untuk mengangkut hasil pengolahan batubara, Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Pelabuhan Wijayapura tempat penyeberangan ke Pulau Nusakambangan dan Pelabuhan Sleko.
Perahu compreng yang akan membawa para wisatawan dari SMA Nusantara Semarang telah siap di dermaga. Terdapat empat buah kapal compreng yang telah menanti. Masing-masing kapal hanya mampu memuat 35 orang. Kapal yang telah penuh langsung berangkat.
Rombongan kecil Bima berada pada urutan pertama keberangkatan. Musababnya Bima harus kejar-kejaran dengan Ara. Sebisa mungkin Bima ingin menghilang dari Ara, dengan cara cepat meninggalkan bus. Berjalan paling depan mendahului rombongan lain. Tapi nyatanya, gadis itu selalu bisa mengejar Bima.
Perahu melayari perairan Segara Anakan. Sebuah selat yang memisahkan daratan Cilacap dengan Pulau Nusakambangan. Bagi anak-anak pelayaran ini berasa menyusuri sungai besar, karena kanan kiri masih terlihat daratan. Sebelah kiri terpampang Pulau Nusakambangan, Alcatraz-nya Indonesia yang menyaji rimbun pepohonan dengan terkesan misterius. Malahan Penjara Lapas Batu yang berhias nyiur melambai_kelapa terlihat dari perahu yang sedang mereka tumpangi. Sedangkan sisi kanan perahu membentang daratan ujung Cilacap.
Sepanjang perjalanan seolah tidak ada kebosanan menghinggapi. Selain, penampakan Nusakambangan nan pongah, pemandangan lain, menyajikan pertemuan dengan perahu jukung nelayan dan jaring-jaring dengan pengapung di air.
Semakin jauh meninggalkan dermaga, pemandangan memukau memanjakan mata. Deretan hutan bakau menghiasi sepanjang perjalanan berikut. Hutan-hutan tersebut membentuk beberapa gerumbul mirip pulau. Seperti gambaran kepulauan negeri kita tercinta. Kalau Indonesia dibuat miniaturnya kita seolah sedang menjelajah pulau nusantara melalui lautnya dari Sabang hingga Merauke.
“Yang kudengar, hutan bakau di Laguna Segara Anakan terluas se-Asia Tenggara.” kata Ilana tiba-tiba pada Falah yang duduknya bersebelahan dengannya.
Mata Falah saat itu tampak terkagum-kagum dengan nuansa hutan di wilayah pesisir dekat lautan. Sangat beda dengan hutan yang ada di dataran pegunungan. Menurut Falah mirip hutan yang sedang kebanjiran.
“Ada kehidupan enggak ya, di sana?” ucap Falah.
“Banyak. Di mana-mana yang namanya hutan jadi tempat tinggal teraman bagi hewan. Habitat buaya tuh di rawa. Termasuk biawak, bermacam burung, ikan, bahkan berang-berang dan monyet juga ada.” terang Bima.
“Bilang monyetnya biasa aja kali.” protes Falah ketika Bima mengatakan monyet sambil matanya menghunus ke Falah.
“Tahu juga kau rupanya!” Ilana sedikit heran Bima mengetahui perihal rawa lebih banyak darinya.
“Aku membaca catatan kegiatan Om Raka yang pernah ke rawa.”
“Trus tidurnya gimana?” tanya Falah penasaran.
“Pakai hammock, itu lho jaring tidur yang dipasang antar dua batang pohon.” jawab Bima.
__ADS_1
“Repot juga ya,” komentar Ilana. “Berarti harus tahu pasang surut air laut.”
“Iya, memang harus bawa tabel pasang surut. Penting untuk punya tabel pasang surut saat berkegiatan jelajah rawa. Khususnya guna mengantisipasi kapan saat pasang tertinggi. Kalau tahu kan, jadi siap-siap pasang hammock di pohon bakau yang tinggi. Jangan sampai lagi tidur, tubuh kita tiba-tiba terendam air.”
“Jadi Om Raka pernah mengalami itu, terendam air saat tidur.” Falah mengambil kesimpulan asal.
“Ya gitu deh, sejak kejadian itu katanya jadi bahan olok-olokan lelucon sepanjang masa.”
Falah tak menduga ucapannya benar. Dia lalu menggosok-gosok hidung bagian bawah. “Kelihatannya seru ya, main ke rawa. Jadi cepat pengin sampai di objek berikutnya.”
Tak terasa satu setengah jam terlalui. Pada sisi sebelah kanan telah terlihat gerbang pintu masuk yang berdiri di atas beton. Bolehlah, kalau disebut dermaga kecil untuk menaikkan penumpang. Kalau terminal ‘menurunkan’ penumpang, maka dermaga terbalik jadi ‘menaikkan’ penumpang ke daratan.
Dua orang terlihat menunggu seakan menyambut kedatangan tamu rombongan wisata. Mungkin penjaga objek wisata hutan mangrove. Salah satu dari mereka memegang anjungan perahu, menjaga posisi perahu agar tetap merapat ke tepian teras beton.
Satu persatu penumpang naik. Melanjutkan menyusur jembatan kayu panjang membelah hutan bakau. Matahari masih saja terik membakar. Pada pertengahan jalan, ketikaada jembatan yang kayunya melesak beberapa anak memilih berbalik arah. Seorang guru pendamping rupanya turut mengompori agar tidak meneruskan langkah ke tengah hutan. Alasan pertama panas membara, kedua karena memang barisan kayu yang menjadi jalan sudah banyak yang rusak. Mereka yang tidak meneruskan menyusur jembatan, langsung menuju Pantai Rancah Babakan.
Bima, Ilana dan Falah tetap meneruskan perjalanan. Rengekan Ara lagi-lagi tak berpengaruh pada ketiganya. Menyerah karena tidak tahan panasnya, Ara menarik tangan Meidi berbalik arah.
Sensasi petualanganlah yang menyebabkan Bima dan dua rekannya bergeming tetap menetap tak peduli dengan panasnya cuaca siang menjelang sore hari itu. Namun Ilana tak hilang akal, dia teringat akan payung yang ada di tasnya.
“Insting dasar perempuan, Bim.” seru Ilana menyeringai lebar.
Mendekati pertigaan, ketiganya melihat menara menjulang. Bima membelokkan langkah menuju menara yang merupakan gardu pandang, diikuti Falah. Ilana sendiri terus melangkah lurus hingga tiba di persimpangan empat arah.
Bima mendaki menara hingga sampai puncaknya yang beratap. Memandang pucuk-pucuk hutan bakau yang merimbun, tak jauh beda dengan penampakan hutan dari atas puncak gunung. Wawasan Bima menjadi terbuka. Hanya ada hijau segar dan biru menenangkan yang melatari.
“Penasaran sama yang namanya pohon bakau. Yang mana ya?” tanya Falah pada dirinya sendiri sementara tangannya tak lepas dari kamera untuk merekam.
“Itu yang pohonnya tinggi menjulang. Daunnya mengilat, dan kalau dari bawah, kamu bisa menandai dari akarnya menjuntai-juntai keluar. Kalau yang seperti pohon kelapa itu, nipah.” tunjuk Bima pada penampakan daun yang menjari-jari.
“Kalau yang baru saja kita lalui tadi, yang ujung-ujung daunnya berduri?”
__ADS_1
“Jeruju.”
“Gimana melewati jeruju kalau ketemu itu pas penjelajahan?” gumam Falah tampak berpikir.
“Terabas, Mang!” lontar Bima.
“Durinya?”
“Tebas-tebas dikit, lalu hajar pakai kaki.”
Falah melongo setengah tidak percaya.
“Menurut Om Raka begitu,”
“Oh...” Falah manggut-manggut.
Sebuah seruan mengalihkan laju pandang keduanya pada satu titik berwarna merah di persimpangan empat. Ilana melambaikan tangan sambil berseru minta difotokan dari tempat dia dan Falah berada.
Falah lebih dulu menyatakan kesanggupan. Ilana telah berpose dengan berbagai gaya. Sambil mengabadikan gambar penampakan hutan bakau dari atas, Bima ikutan mengambil satu pose Ilana.
Puas dengan berbagai gaya yang dia peragakan, Ilana berlari kecil menuju ke gardu pandang. Di kaki menara, Ilana lalu berteriak siapa tahu Bima dan Falah ingin berfoto di tempat dia foto tadi.
Falah antusias, sementara Bima terkesan ogah-ogahan. Tapi Bima tetap menurut mengikuti arahan Ilana.
Ilana sesaat terpana menyaksikan pemandangan hutan bakau melalui pucuk-pucuk daunnya. Begitu pula galur jembatan buatan manusia menambah apik lukisan dalam kanvas nyata.
Falah berteriak-teriak manakala Ilana malah mengarahkan kamera gawai ke arah lain. Lambaian tangan Ilana berhasil membungkam aksi protes dari bawah. Apalagi setelah beberapa jepretan berhasil masuk dalam memori ponselnya. Nanti tinggal tukar kirim via WA saja.
Tak lama Ilana telah bergabung lagi dengan Bima dan Falah. Ketiganya memilih berbalik, karena sekitar mereka mulai lengang. Tampaknya banyak yang sudah undur diri melaju ke Rancah Babakan. Bagi Bima justru ini kesempatan bagus, agar kedatangannya tidak terdeteksi di pantai.
Rencana menghilang di Rancah Babakan akan berjalan gemilang. Ketidakteraturan keberangkatan ke pantai pasir putih di ujung barat Nusakambangan menjadi kemujuran bagi rencana Bima.
__ADS_1