
Langit malam ini cukup meriah. Ilana bisa melihat beberapa kerlip bintang yang tidak terhalang dedaunan. Percakapan mengalun berteman nyala lentera.
“Aku penasaran, apa yang kalian cari dari semua kesulitan ini?” tanya Martin tiba-tiba.
“Bukan kesulitan. Lebih tepatnya tantangan.” Bima membenarkan pilihan kata Martin. “Karena aku bisa merasakan kenikmatan dari penderitaan dan kesegaran bahaya.”
“Estwick Evans.” sambung Ilana. “Itu kata-kata dari dia, kan?”
“Kok kamu tahu?” balas Bima.
“Dia kan, Ilana.” Falah malah yang menanggapi. “Cucunya Mbah Google.”
“Sembarangan!”
“Kalian benar-benar penyuka petualangan.” Martin tidak menghiraukan ledekan Falah pada Ilana.
“Kalau aku semua bermula dari Om Raka. Dia yang secara nggak langsung mengenalkan aku pada alam liar. Melalui cerita-ceritanya, aku jadi tergerak ingin menjajah apa yang pernah dia jelajahi.” tidak biasa Bima mau bercerita tentang awal mula ketertarikannya pada dunia kepecintaalaman. Bahkan Ilana dan Falah baru tahu sekarang.
“Om Raka pecinta alam?” perjelas Martin.
“Iya, dia seorang Mapala. Mantan Mapala, kalau sekarang.”
“Jadi ini semacam napak tilas?” ungkap Ilana memastikan.
“Bisa dibilang begitu.”
__ADS_1
“Pendakian gunung juga?” tanya Falah.
“Om Raka sangat gemar menuliskan semua rentetan perjalanannya. Selain mendengar ceritanya, aku juga membaca catatan kegiatannya selama berkelana di alam.”
“Keren bingits Om Raka.” sambung Falah. “Mau repot mendokumentasikan setiap perjalanan pakai tulisan. Kalau aku mana betah.”
“Tapi videomu oke juga kok, Fal.” ucap Bima mengganti posisi duduk memeluk lutut. “Bisa jadi dokumentasi kita.”
“Sayangnya, cuma setengah-setengah.” ujar Falah masih mengelap kameranya. “Moga baterai cukup sampai akhir.”
“Kamu bawa baterai cadangan, kan?” Ilana memastikan.
“Ada sih.”
“Kalau Ilana, kenapa suka main ke gunung?” tanya Martin.
“Jadi gunung seperti itu.” ucap Martin. “Kalau Falah?”
“Bermula dari suka nonton vlog dan video pendakian gunung. Jadi pengin bikin video macam itu.” Falah meringis. “Kapan-kapan tengok channel youtube-ku dong. Jangan lupa like dan subscribe. Cari di kotak pencarian Fall In Mountain.”
“Ngiklan dia,” cetus Bima.
Tawa kecil dari yang lain memburai.
“Kenapa nggak jadi vlogger?” tanya Martin.
__ADS_1
“Jadi youtuber ajah. Aku nggak pandai menulis. Biar Bima yang nge-blog. Justru, vlogger-nya tuh Bima.”
“Tapi konten videonya aku ambil dari link youtube Falah.” aku Bima.
“Sampai sekarang aku masih enggak ngerti apa asyiknya bermain di alam. Cuma capek, nafas ngos-ngosan, dan berakhir pegal-pegal. Belum lagi nyawa bisa jadi taruhan. Seperti tadi malam, rasanya aku mau mati. Jalan malam-malam, diguyur hujan, belum lagi medannya nanjak pakai licin. Mau menyerah aja.” Martin menggelengkan kepala, melepas memori semalam. “Untung Ilana mengingatkan agar jangan mati konyol di sini.”
Mendengar kata-kata terakhir dari Martin, Ilana merasa wajahnya memanas. Menyulut rona merah jambu di pipi. Tidak menyangka kata-kata ketusnya dan cenderung kejam, justru memicu semangat orang lain. Mematik akal sehat agar tidak mudah menyerah dalam kondisi tertekan. Apalagi orang yang mengatakan itu adalah Martin.
“Dia memang ratunya kata-kata pedas.” ucap Bima.
“Sambel kali, pedas.” sahut Ilana.
“Terus terang aku salut sama kalian.” kata Martin menunda hening yang akan tercipta. “Nekat tapi terarah.”
Bima, Ilana dan Falah menanggapi dengan tatapan antara senang, bangga, juga perasaan ingin merendah. Jatuhnya ekspresi yang keluar dari ketiganya berupa cengiran mirip kuda.
“Kenekatannya sama sekali nggak terarah.” tuding Ilana pada Bima memecah kesombongan yang bertahta.
“Siapa bilang!” bantah Bima. “Kalau aku pergi tanpa peta dan kompas serta perbekalan, itu baru langkah ngawur asal.”
“Terserahlah!” tukas Ilana segera beringsut masuk tenda. Merebahkan diri di samping Jesi yang mendengkur halus.
“Ah, aku penasaran dengan jalan yang akan kita lalui esok.” kata Bima sambil memandang Martin dan Falah. “Dan Pantai Besek.”
__ADS_1