
Ilana terbangun begitu mendengar bunyi cericip beberapa burung. Dia sama sekali lupa kalau tertidur hampir memeluk api unggun. Pada sisi lain Bima juga terkapar memunggungi pusat kehangatan. Kepala Bima hampir beradu dengan kakinya. Saat melihat Falah, Ilana baru menyadari kalau posisi tidur mereka mengelilingi perapian dengan membentuk bidang segitiga. Tidur melintang pada pintu tenda masing-masing. Adapun Jesi dan Martin, keduanya meringkuk dalam tenda Ilana dan Falah.
Berhasil mengatasi keadaan lingkup tenda, Ilana berganti mengedarkan pandangan ke sekitar. Pohon-pohon tinggi menaungi tenda mereka. Beberapa tumbuhan semak menjadi penambah semarak lingkungan hutan Nusakambangan yang terkenal liar.
Rasa haus menggerakkan Ilana meraih botol air mineral ukuran 600 ml yang tergolek dekat kepala Falah. Meneguknya, dan menyadari satu hal berkenaan dengan cadangan air yang tersisa. Dia pun segera bangkit memeriksa isi tas Falah dan Bima. Menghela nafas, setelah mengetahui air minum yang ada tinggal satu liter setengah.
“Apa sih?” Bima terduduk saat merasa ada sesuatu yang menyenggol kakinya. Kaki Ilana secara tidak sengaja menendang kaki Bima.
“Kita harus cari sumber air.” kata Ilana.
“Oh,” balas Bima kembali membaringkan tubuh. Rasa kantuk masih mengganduli matanya.
“Jangan cuma oh, kelangsungan hidup kita tergantung pada air.” sambar Ilana.
“Nanti kita cari.” erang Bima.
“Kamu tahu di mana?”
Tak ada sahutan dari Bima.
“Bim,” panggil Ilana. “Bima!”
“Ada apa?” Falah terbangun kaget mendengar lengkingan suara Ilana.
“Kamu lapar, Fal?” tanya Ilana.
Falah menguap lebar. “Yah, sedikit.”
“Bantu aku menyalakan api.” tunjuk Ilana pada perapian.
Demi menghemat bahan bakar, Ilana memanfaatkan bara yang masih nyala di api unggun semalam, tepatnya Subuh tadi.
“Siap!” sahut Falah menggeliat, lalu mengorek-korek bekas perapian membuang serpihan abu. Selanjutnya mulut Falah telah meniup-niup bara dengan sesekali mengipasinya dengan piring plastik milik Ilana.
__ADS_1
Nyala api memercik perlahan. Falah meletakkan dahan pohon agak besar sisa semalam sebagai penopang alat masak. Air yang telah siap di nesting segera Falah posisikan di atas perapian. Selagi menunggu air matang Ilana membagi dua sachet kopi susu ke dalam tiga gelas plastik.
Urusan minuman panas beres. Nesting berganti memasak havermut. Ilana cukup bersyukur, ada Falah yang bersedia membantunya menyiapkan sarapan. Setelah semua matang, keduanya langsung membangunkan yang lain.
“Apaan nih?” Jesi mengaduk-aduk isi piring yang Ilana pegang.
Keterbatasan alat makan, dan hanya Ilana yang membawa piring, membuat Ilana dan Jesi makan satu piring. Sedangkan kaum cowok, berhubung Bima dan Falah tidak membawa piring, mereka berdua termasuk Martin makan langsung dari nesting.
“Havermut, untuk tenaga jalan kita nanti.” terang Ilana.
Jesi mengerut jijik. “Kamu aja yang makan.”
“Terserah, kalau kamu mau kelaparan.” cetus Ilana langsung menghadapi piringnya sendiri.
“Makan aja Jes, cicipi dulu.” ucap Martin.
Jesi menatap Martin lama. Cowoknya memberi kode agar dia mau mencoba menyuap satu sendok. Ilana menyodorkan piring pada Jesi. Setengah terpaksa Jesi menyendok satu pucuk kecil bubur havermut lalu memasukkan dalam mulut. Reaksi tak terduga terjadi. Jesi memuntahkan havermut sebelum terjun ke lambung.
Ilana segera merebut sendok dari tangan Jesi. Selera makannya hampir hilang. Untung perutnya sedang lapar, hingga dia bisa mengabaikan aksi muntah Jesi.
“Boleh tuh,” Bima menyalak senang.
“Harusnya kamu bisa berhitung Bim, personel kita bertambah. Berarti hitungan jatah makan jadi berkurang. Belum tentu lusa kita sampai di Permisan. Kalau lebih, kita mau makan apa? Dan yang terpenting sekarang, persediaan air kita tinggal satu botol. Selama belum menemukan sumber air, kita harus hemat penggunaan air.”
“Tapi,”
“Membuat mie menggunakan air. Itu bisa mengurangi jatah minum juga.”
“Pelit amat!” desis Jesi setelah meneguk kopi susu hingga setengah. Terpaksa Ilana mengambil alih juga gelas kopi susu tersebut. Gawat abis! Bisa nggak kebagian jatah minum.
“Ini bukan di Mall, Tuan Puteri. Kalau lapar bisa langsung mampir ke salah satu tempat makan. Ini di hutan. Kalau nggak ada manajemen perjalanan yang baik, belum sampai tujuan kita bisa mati kelaparan.” jelas Ilana panjang lebar. “Dan lagi, apa kamu mau makan daun-daunan?” tuding Ilana pada Jesi yang merengut sebal.
Bima tampak menimbang perkataan Ilana. Dia juga paham benar perihal berkegiatan di alam bebas. Tidak boleh sembarangan, tidak boleh kalap, dan tidak boleh egois. Semua yang Ilana katakan menyangkut kelangsungan hidup tim. Bukan untuk kepentingan Ilana sendiri.
__ADS_1
“Emangnya ular, makan daun.” terdengar desisan Jesi.
“Sejak kapan ular makan daun?” jengit Ilana.
Belum sempat Jesi meralat kata-katanya Falah telah menimpali.
“Ularnya sedang sakit gigi kali, jadi semacam untuk pengobatan.” ucapnya dengan muka tanpa rasa bersalah.
“Dan sejak kapan ular punya gigi untuk mengunyah?”
“Sejak dia mengalami mutasi genetik, macam X-Men gitu deh.” mimik Falah masih sok datar bikin geregetan.
“Dasar Falah!” sungut Ilana. “Bisa serius nggak sih?”
“Masih mending mutasinya jadi punya seperangkat gigi, kalau punya tangan-kaki juga. Berarti ular naga dong ya, haha...”
“Terus aja situ, mengejekku.” sela Jesi. “Maksudku adalah koala.”
Ilana, Falah dan Martin menatap Jesi dengan takjub. Jauh amat mikirnya sampai Australia. Lagipula koala hanya doyan daun eucalyptus. Jesi melibas semua mata yang mengarah padanya. Hanya satu orang yang tidak tertarik dengan komentar fantastisnya. Bima tampak asyik mengamati peta.
“Baiklah, kembali ke piring. Ini enak juga kok.” kata Falah mengurai ketegangan. “Ayo, makan selagi hangat.”
Bima melipat peta menyuap satu sendok bubur havermut, lanjut Martin kemudian Falah lagi secara bergantian. Lain halnya dengan Jesi yang tetap memilih tidak makan.
Ilana memandang semua orang. Gerak selanjutnya dia sudah mengorek tasnya, “Nih,” Ilana menyodorkan roti sobek yang bentuknya penyok sana-sini pada Jesi.
Sejenak Jesi ragu.
“Nggak mau juga,” desah Ilana menahan kesal.
Tapi sebelum roti kembali masuk tas, Jesi merebut roti malang itu. Wajahnya bersungut-sungut saat menikmati roti yang rasanya sudah tidak karuan.
Selesai sarapan kelimanya membereskan area kemah. Termasuk memadamkan bara dengan cara dikencingi, ini khusus untuk anak cowok, mengingat tidak ada air. Dengan maksud agar bara yang ada tidak memicu kebakaran hutan.
__ADS_1