Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Selamat Tinggal Permisan


__ADS_3

Tiba pada titik punggungan tertinggi hamparan pantai sepanjang kurang lebih satu kilo meter terpampang. Terasa menenangkan. Pikiran berkabut Ilana sontak tersibak. Gradasi alam yang mewarnai antara biru tua, biru muda, toska, putih, lalu keabuan, berseling hitam, serta semburat kemerahan menjauhkan dari kesan membosankan. Memang tak seputih cemerlang Pantai Rancah Babakan. Ratusan batu karang_ciri khas dari deretan pantai di selatan Nusakambangan masih menghiasi sela hamburan gelombang.


Bima menoleh pada Ilana yang berjalan di belakangnya persis. Senyum mengembang tanpa beban. Mungkin karena telah memandang pantai menawan sebagai akhir tujuan. Mungkin juga karena yakin keselamatan Martin dan Jesi terjamin oleh aparat. Ilana membalas senyum itu dan membaginya pada Falah di belakang.


“Yoi, Pantai Permisan.” tanggapnya sambil berusaha mengeluarkan kamera dari tas rangsel.


Pantai Permisan telah memanggil. Pantai yang juga bernama Pantai Kopassus menyambut ketiganya dengan tarian alun bertalu-talu. Tak sabar ingin segera menghambur turun.


Ilana memandangi pulau kecil dengan pisau komando tertancap di sana. Batu Syahrir. Ilana langsung mengenalinya dari hasil selancar bersama Mbah Google sebelum datang kemari. Menurut cerita, dulu ada seorang bernama Syahrir yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Indonesia yang berkunjung ke Permisan. Dia tertarik menyeberang ke pulau kecil saat sedang surut. Namun, tiba-tiba air menjadi pasang. Terjebaklah dia hingga beberapa jam. Nah, kejadian itu menjadikan batu karang besar tersebut memiliki nama sebagaimana orang yang pernah terjebak di sana. Untuk mengenang.


Mengenai pisau komando yang tertancap gagah di atasnya. Tentu karena pantai ini sering dipakai oleh Komando Pasukan Khusus untuk pembaretan_pelantikan anggota baru. Monumen Pisau Komando itu menjadi lambang kekokohan dan tekad prajurit dalam rangka membela nusa bangsa.


Menjejakkan kaki ke pasir hati semakin berdesir. Ilana berhenti melepas sepatunya. Demikian dengan Bima. Tak afdol rasanya bila berjalan di atas pasir tanpa membiarkan kaki terbisiki buliran pasir. Falah sendiri telah sibuk merekam.


Dua petugas yang mengiringi ketiganya membiarkan anak-anak berjalan mendekati ombak. Matahari yang telah miring ke barat tak menyurutkan Bima, Ilana dan Falah bercengkerama bermandi jarum cahaya pemanggang. Kalau kepiting, pasti mereka telah berubah warna menjadi merah dan siap makan.

__ADS_1


Semakin dekat ke karang berpisau komando, Bima menjadi sangat ingin mendaki karang tersebut. Sayangnya, waktu itu air sedang pasang. Tidak mungkin memaksa menerobos keliaran ombak yang menerjang sekeliling. Tubuh akan terhempas batu karang, terombang-ambing dan tenggelam. Nampaknya Om Raka dulu beruntung tiba saat air laut sedang surut. Tim mereka bisa bergaya dengan pisau komando raksasa.


 Sejenak Bima memandang berkeliling mencari-cari sesuatu. Gasebo tempat Om Raka berpose tujuh belas tahun yang lalu tidak terpindai radar mata. Bersisa tembok setinggi mata kaki yang telah rusak, entah sengaja dibongkar atau memang tergerus oleh si ombak ganas. Satu lagi, spot foto yang Bima ingini tak dia dapat.


“Kita ke timur yuk!” ajak Falah. “Ada monumen lain di sana. Itu yang mirip pohon. Jadi penasaran.”


“Sebaiknya kita minta ijin dulu.” kata Ilana.


“Oke,” Falah berlari kecil ke arah dua petugas yang jalannya mendekat hamparan rumput di sebelah kiri.


“Karena sedang pasang, kalian harus hati-hati saat melipir ke sana.” terang Pak Solih. Selama perjalanan menuju pantai, mereka sempat saling memperkenalkan diri.


Ombak masih setia menjilat-jilat kaki anak-anak yang telanjang. Pak Solih memilih menjaga jarak dari guliran air. Seakan tak ingin sepatunya menjadi basah. Semakin mendekati ujung timur batu karang memenuhi perairan seperti gundukan pulau-pulau. Malah ada bentukan laguna yang hampir terendam air seluruhnya. Ilana menduga bila sedang surut, kolam laguna itu bisa jadi tempat berenang yang asyik.


Pak Solih memandu Bima dkk, mendaki celah batu karang yang terjal. Tanaman khas pantai, nanas-nanasan menjulang di sebelah kiri mereka. Perjalanan berubah menjadi menurun dengan titian batuan karang yang tertanam acak. Air yang terhempas angin terkadang iseng memerciki kaki. Setelah melompati beberapa batuan rendah Pak Solih mengajak ketiganya mendaki undakan karang.

__ADS_1


Lima anak tangga dari material batu karang itu sendiri menghantar mereka ke landasan luas tertinggi. Sebongkah batu besar menjadi tempat tinggal semacam prasasti lambang Kemenkumham. Agak ngeri juga, karena ayunan ombak sesekali berani melocat tinggi menyentuh dasar pijakan.


Puas menikmati rasa berdebar. Pak Solih dan tiga anak yang dianggap hilang kembali ke pantai berpasir. Tidak mau buang waktu lagi, Pak Solih langsung menggiring ketiganya menuju kantor lapas Permisan.


Melintasi padang rumput yang terbelah paving, menyeberang jembatan yang sungainya kering, kemudian menembus gerbang masuk Pantai Permisan bertuliskan Komando. Bagi mereka ini merupakan gerbang untuk keluar.


Jalan beraspal tergelar. Petugas yang perutnya buncit telah bergabung dengan Bima dkk. Dia rela menunggu di bangunan mirip pos kampling berundak. Lingkungan sekitar cukup lengang. Hanya ada mereka berlima. Padahal saat Om Raka dulu kemari, ada banyak orang yang kemungkinan napi berkeliaran. Mereka malah sempat foto bersama. Bangunan pendopo tempat para napi menjajakan batu akik pun telah menghilang.


Perjalanan menuju Lapas Permisan kurang lebih memakan waktu sepuluh menit. Bima mengira jarak tempuhnya sekitar 700 meter dari gerbang Permisan. Mereka sempat melewati Lapas Pasir Putih, lapas dengan System Maximum Security (SMS). Lapas yang menampung narapidana *******. Mungkin karena alasan keamanan anak anak tidak dibawa ke sana.


Tiba di Lapas Permisan yang mirip satu kawasan desa. Pak Solih mempersilakan ketiganya melakukan bersih-bersih badan dan istirahat sebelum diinterogasi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2