Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Tenda dari tiga buah mantel yang membentuk segitiga telah berdiri. Satu buah mantel untuk satu orang, yang mana salah satu ujungnya menghadap tenda lain, membentuk bidang segitiga. Sementara ujung satunya menganga ke arah luar. Guna menutupi sisi yang terbuka, Bima secara sukarela menebas beberapa ranting berdaun lalu menanamnya sebagai pagar pembatas atau penutup.


Ilana dibuat terheran-heran dengan isi tas rangsel Bima yang padat muatan. Selain satu stel pakaian ganti, alat masak, alat makan, webbing, karpet lipat dan tentu saja mie instan, dia juga membawa barang yang tidak ada dalam daftar catatan. Seperti golok kecil, lilin, dan lentera. Untuk kompor, jatahnya Falah yang bawa.


“Kamu benar-benar siap jiwa raga rupanya,” sindir Ilana saat mengintip isi tas Bima. “Perbekalanmu nggak tanggung-tanggung.”


“Jelas, aku nggak mau mati konyol.” ucap Bima. “Kamu sendiri?”


“Lengkap. Sesuai catatan yang kamu kasih ke Falah. Kecuali alat masak dan kompor.” lapor Ilana. “Malahan aku menambah bekal ransum. Biar kita nggak mabuk makan mie instan.”


“Apaan, Na?”


“Havermut,” sahut Ilana sambil menunjukan satu kantong sedang oat instan layaknya model iklan.


“Kayak bayi,” komentar Bima.


“Dibanding mie instan, kalori havermut tinggi lho. Bergizi pula.”


“Iya tahu,”


“Makanya jangan komplen.”


“Siapa yang komplen?” sergah Bima.


“Tadi bilang kayak bayi,”


“Cuma ngomong aja, nggak ada maksud menolak.” Bima masih tidak mau kalah.


“Kalau nggak doyan, nggak usah ikut makan.”


“Gaes, kalian nggak pada lapar?” Falah memutus perdebatan yang bakal berlangsung tiga hari tiga malam.


“Aku juga bawa pasta, makaroni dan agar-agar.” Ilana menambahkan informasi. Tak mengacuhkan Falah.


“Asyik,” tanggap Falah yang tangannya mulai membuka bungkusan nasi dari dalam rangsel.


Ilana pun ikutan mengambil bungkusan makannya. Bima tak mau ketinggalan. Ketiganya lalu duduk pada pintu tenda masing-masing. Tangan mereka memegang bungkusan yang berisi nasi yang sengaja dibeli tadi siang sewaktu di Teluk Penyu. Lentera tenaga surya yang berada di tengah-tengah menerangi kegelapan. Setelah membaca doa bersama, tiga anak pelarian itu menikmati makan malam berteman bayang-bayang gelap.


Baru saja mereka dapat tiga suap, satu titik cahaya menerangi mereka dari arah sela tenda Ilana dan Bima. Falah yang menghadap langsung pada cahaya tersebut memicingkan mata.


“Syukurlah, ketemu.” suara halus seorang anak perempuan membuat Bima tercekat.


Ilana tak kalah kaget. Sementara Falah melihat dua sosok yang menyembul dari sela tenda seperti melihat hantu.


“Kalian sedang apa?” tanya Bima setelah berhasil menguasai keadaan.


Dalam pikirannya terbersit apa mungkin dua orang ini melakukan pencarian terhadap mereka. Meski terkesan ganjil, tidak mungkin guru pendamping melepas murid-muridnya turut serta dalam pencarian. Lagipula ini kan sudah malam.


“Kami juga ingin menanyakan hal yang sama pada kalian.” balas suara kedua yang nge-bas. “Boleh kami gabung?” pintanya.

__ADS_1


“Oh, silakan.” Falah menanggapi cepat.


Sepasang cowok-cewek yang terdeteksi oleh Bima sebagai salah satu siswa SMA-nya melangkah memasuki ruang segitiga yang tidak terlalu luas. Falah menggeser posisi duduknya agar si cowok duduk bergabung dengannya. Demikian juga Ilana menawari yang cewek duduk di sisinya.


“Kamu udah makan?” tanya Ilana ketika melihat cewek berambut panjang melirik bungkusan yang ada di tangannya.


Cewek berhidung tinggi, dengan bibir merona itu menggeleng pelan. Bias malu terpancar dari matanya yang berhias bulu lentik.


Ilana tersenyum, “Mau?”


Tanpa ragu cewek yang Ilana tahu bernama Jesi menerima uluran nasi bungkus yang tinggal separuh. Falah ternyata melakukan hal yang sama pada Martin. Cowok itu juga langsung Ilana ketahui namanya.


Martin, siapa sih yang tidak tahu cowok itu? Cowok terpopuler di sekolah. Meski masih kelas satu tapi ke-ngeclingan wajahnya telah merambah hingga ke tingkat tiga, para kakak kelas dua belas. Kulitnya yang putih bersih, postur tubuh tinggi, Bima sampai kalah tinggi. Bentukan hidung yang menjulang sempurna bersanding manis dengan senyum bak rembulan menyabit. Garis wajah dan rahang yang halus bertolak belakang dengan Bima yang memiliki bentukan wajah tegas. Bolehlah, para penggemar drakor menyebutnya sebagai cowok cantik.


“Jadi, kenapa kalian berdua ada di sini?” tanya Bima lagi setelah nasi bungkusnya kandas. “Kalau kami, terus terang ingin mencari pantai putih lain di pulau ini.”


“Kami ketinggalan perahu.” jawab Martin dengan mulut penuh makanan. Cara makan cowok itu pun masih memancarkan pesona di mata Ilana.


“Kok bisa?” selidik Ilana. Seketika ada sorot curiga terpancar dari matanya. Keterpesonaannya sirna. “Makanya kalau pacaran jangan mojok sendiri.”


“Kamu ngomong apa, Na?” tegur Bima.


 “Yah, seperti itu. Serasa dunia milik berdua.”


Martin dan Jesi saling pandang, lalu menekuri kembali nasi yang masih bersisa. Sementara Bima dan Ilana sudah saling serang kata-kata.


“Baterai HP kami lobet.” sahut Martin.


“Atau kami bisa pinjam HP kalian?” ujar Jesi penuh harap.


“Terus terang punyaku juga habis. Mungkin punya Ilana atau Bima?” tunjuk Falah pada dua sobatnya yang masih adu argumen. “Halu, Bima? Ilana?”


“Limit.” tandas Ilana tanpa basa-basi setelah debat kusir dengan Bima tidak ada yang menang.


“Lagipula di sini nggak ada sinyal. Percuma aja.” kata Bima.


 “Nah,” Falah memutus kecanggungan. “Gimana kalau kita pergi tidur.”


Semua mata memandang Falah. Tatapan mengancam. Makan saja belum selesai. Masa ngajak tidur.


“Yah, mengingat besok, kita harus melakukan perjalanan panjang.” kata Falah salah tingkah.


“Jadi apa rencanamu besok, mm, siapa namamu?” tanya Bima pada si cowok pendatang.


“Martin,” sahut Ilana dan Martin bersamaan.


Spontan kepala Bima dan Martin memaling pada Ilana.


“Dan dia ini Jesi,” tunjuk Ilana untuk menghilangkan jejak curiga. “Kalian berdua pasti enggak tahu.”

__ADS_1


“Aku tahu.” cetus Falah. “Baiklah, mari kita rekam tamu yang datang malam ini.” Falah menyiapkan kameranya. Kemudian dia menyorot pada Jesi, sembari memberi kode agar Jesi memperkenalkan diri. Kamera beralih ke Martin, lambaian tangan dan sepatah kata berwujud nama terlontar.


Falah juga menanyakan kenapa mereka sampai tertinggal perahu. Martin menjawab, kalau mereka sedang asyik menyisir pantai sampai lupa waktu. Itu semua karena pemandangan pantai yang begitu mempesona.


Sanggahan Ilana kenapa dia dan kawannya tak melihat mereka berdua, terjawab manis oleh Jesi.


“Saat kalian lewat kami sedang berteduh di bawah pepohonan.”


“Oke, lalu, kok kalian tahu kami di sini?” tanya Ilana.


“Kami melihat kalian berjalan ke ujung timur pantai. Kalian terlalu asyik bermain-main dengan air, jadi tak melihat kami. Lalu, yah, intinya kami ketinggalan perahu. Penasaran karena nggak melihat kalian berbalik, kami pun menelusur kemari. Dan satu titik cahaya di antara semak-semak menuntun langkah kami menemukan kalian.” terang Martin.


“Besok kami mau ke pantai berikutnya. Kalau kalian, saranku tunggu aja di sini. Besok pasti akan ada yang mencari.” kata Bima.


“Itu memang rencanaku.” ucap Martin meremas bungkus nasi. “Makasih, makan malamnya.”


“Tin, gimana kalau kita ikut mereka aja.”


“Kamu nggak mau pulang?”


“Mau, tapi... kalau cuma berdua aja, serem.”


“Siang hari apanya yang ditakuti.” sergah Ilana.


“Iya, kalau mereka datang. Kalau enggak?”


“Mereka pasti akan mencari. Enggak mungkin mereka lepas tanggung jawab.” jelas Bima.


“Iya, Jes. Tenang aja. Besok kita langsung ke teluk penjemputan.”


“Nah, udah ada kesepakatan bukan? Mari kita tidur.” Falah yang sudah menutup kameranya setelah alasan dari Martin teruntai, mengompori lagi agar mereka segera merebahkan badan. “Ngantuk nih,”


“Kita belum melakukan koordinasi buat besok.” cegah Bima.


“Aku juga mau tidur.” kata Ilana, tubuhnya lalu beringsut menuju tengah tenda menyisakan kaki yang menjulur. “Aku ikut aja, Bim.” lanjut Ilana sambil menyodorkan kain sarung pada Jesi yang terlihat ragu-ragu meletakkan punggung ke karpet alas tidur. Matanya berkali-kali melihat lubang yang menyisa dari tanaman semak dan payung yang Ilana pasang untuk menangkal desiran angin malam.


“Idem, dah!” seru Falah. “Silakan kalau mau tidur.” ucapnya kemudian pada Martin.


Bima mendengus, melihat dua temannya terkapar mau tak mau dia segera merebahkan tubuh. Pikirannya melayang akan perjalanan esok hari.


Tiba-tiba terdengar suara. Bisikan-bisikan halus yang membuat Bima menutup telinga. Suara itu berasal dari tenda sebelah kanannya.


Jesi mengeluh tentang ketidaknyamanan tidur dalam tenda setengah terbuka. Beberapa detik kemudian suara Jesi sudah memanggil-manggil mamanya sesekali menyeru pada Martin.


Bima yang menutup telinga masih merasa terganggu dengan kerewelan cewek bernama Jesi. Dia jadi berpikir, kok bisa Ilana tidur nyenyak dengan kebisingan macam itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2