
Jalur masih lumayan landai, apalagi melewati jalan setapak mempercepat laju langkah
kaki. Target nge-camp kali ini di Solok Bokong. Pukul setengah enam, kelimanya menyosong pantai pasir putih lagi. Pantai yang penampangnya lebih luas dari Solok Besek. Pantai yang bentuk lengkungannya menyerupai pantat.
Mereka memutuskan berkemah tak jauh dari titik turun, pada kawasan berpasir. Sekilas pandang ujung dari pantai ini menjorok tebing-tebing karang yang menghalangi perjalanan ke pantai berikutnya.
Ilana lalu teringat satu hal. Air! Persediaan air mereka menipis. Hanya cukup untuk memasak satu kali mie instan dan minum seteguk per anak. Tapi Bima menenangkan dengan mengatakan kalau dia tahu tempat mengambil air. Usai mendirikan tenda, Bima mengajak Falah mendaki punggungan landai sebelah kanan mereka.
“Jauh nggak?” tanya Ilana. “Udah bawa senter?” Ilana mengingatkan.
“Perkiraan lima belas menit perjalanan.” sahut Bima. “Siap, termasuk peta dan kompas.”
Ilana menghembus nafas lega.
“Hati-hati.” pesan Ilana pada Bima dan Falah.
Falah yang membawa tas rangsel yang berisi botol-botol kosong tersenyum dengan mengacungkan ibu jari.
“Baiklah, daripada kita bengong. Bisa bantu aku cari ranting-ranting kering?” pinta Ilana sambil menunjuk kawasan berpasir yang sesekali nampak potongan kayu atau ranting terdampar. Ilana berniat membuat api unggun sebagai bahan bakar demi menghemat gas.
“Aku nggak mau!” Jesi menolak keras.
Mata Ilana memaling pada Martin yang kemudian bergerak berdiri.
“Aku yang cari rantingnya, biar Jesi menunggu tenda.”
Tanpa mau berdebat, Ilana segera meninggalkan area tenda. Dia mulai menyisir sebelah kanan tenda di antara tumbuhan semak-semak juga pohon kelapa satu-satunya. Sementara itu Martin telah berjalan-jalan di daerah berpasir. Saat Ilana melihat ke arahnya, Jesi telah mengiringi langkah cowok cantik itu.
Desahan pendek menghembus seiring langkah menyaruk Ilana. Dan sepatunya seketika menumbuk sesuatu yang keras. Ilana berjongkok memastikan benda yang terantuk ujung kakinya. Sebuah batok kelapa menyembul dari timbunan pasir bercampur dedaunan. Tangan Ilana langsung mengorek batok kelapa itu. Lumayan bisa buat bahan bakar tambahan.
Tapi begitu melihat secara keseluruhan batok tersebut, pikirannya menjadi berubah. Batok kelapa yang sudah tak berkulit dan tinggal separuh serta berlubang memberi ide lain. Ilana segera mengumpulkan ranting kayu dengan cepat lalu meletakkan di sebelah tenda. Selanjutnya dia sudah berlari menuju ombak yang selalu menyisa buih di akhir hempasan. Mencuci batok kelapa sampai bersih. Kembali ke kemah, bersiap menyalakan api dari kayu-kayu kering yang telah terkumpul.
Martin dan Jesi masih belum kembali ke tenda. Mereka masih berkeliaran di pinggiran pantai seolah sedang berpiknik berdua. Ilana tak mau ambil pusing. Ada hal yang harus dia lakukan. Sebagai antisipasi bila Bima tak mendapat sumber air. Desalinasi memisahkan kandungan garam, menyuling air laut yang asin menjadi air tawar perlu dicoba.
Ilana mencari-cari kaleng sarden yang berbaur dengan barang-barang Bima yang berserakan di tenda. Dasar Bima, tanpa basa-basi dia menumpahkan segala isi tas ke dalam tenda. Tas selanjutnya Falah sandang untuk tempat botol air. Terpaksa Ilana menculik salah satu kaleng sarden. Ini darurat, demi kelangsungan hidup. Selain sardennya bisa dimakan, bekas kaleng sarden mau Ilana manfaatkan.
Martin dan Jesi kembali ke perkemahan. Ilana yang telah membuka kaleng sarden dan memindahkan isinya ke piring langsung bangkit keluar sambil membawa kaleng bekas sarden dan satu nesting.
“Mau kemana, Na?” tanya Martin.
“Ambil air.” tunjuk Ilana ke arah lautan yang warnanya tak lagi kebiruan segar. Biru pekat mewarnai seiring cahaya menghilang.
__ADS_1
“Buat apa?”
“Praktikum kecil-kecilan.” ucap Ilana sebelum bergegas menyongsong ombak.
Ilana masuk ke air cukup jauh. Dengan maksud mendapatkan air laut yang bebas pasir. Yah, memang tidak bisa murni bebas pasir, tapi setidaknya terminimalisir. Nanti tinggal menyaring lagi pakai syal yang bersih. Tak lupa mencuci bekas kaleng sarden berulang kali.
Kembali ke perkemahan, api telah menyala hebat. Terpaksa Ilana mengurangi asupan kayu agar api tidak mengganas. Gerak selanjutnya dia mulai menyaring air laut ke dalam nesting lain. Memasang dua buah ranting yang agak besar sebagai penyangga. Meletakkan nesting berisi air laut yang telah tersaring dari pasir. Menaruh bekas kaleng sarden di tengah nesting menutup kaleng dengan batok kelapa dalam posisi menengadah ke atas, terakhir menutup keseluruhan rebusan dengan tutup nesting.
“Distilasi?” tanya Martin kembali.
“Mari kita lihat hasilnya.” senyum lebar tergambar di bibir Ilana.
“Apinya nggak boleh terlalu besar lho.” ujar Martin seraya mengambil kayu yang mempunyai nyala api tinggi.
“He.... iya,”
“Apa itu akan berhasil?” cemooh Jesi.
“Yang penting usaha, kan?”
Hening. Seperti biasa yang terdengar hanya nyanyian ombak, tersela derak kayu kering yang terbakar.
“Ilana, apa kamu punya pacar?” tanya Jesi tiba-tiba.
“Udah kuduga?”
“Kenapa?” Ilana mengerutkan kening.
“Pasti pacarmu nggak suka kamu berkegiatan macam ini.”
“Kalau pun punya, nggak ada hubungannya lagi. Suka-suka aku mau melakukan apa? Dia bukan ortuku atau waliku.”
“Gimana dengan mama-papamu? Apa dia tahu kamu menyesatkan diri di sini?”
“Em, itu…” Ilana tak langsung menjawab pertanyaan Jesi. Dia malah menyibukkan diri mengangkat tutup nesting untuk mengecek tetesan air yang berhasil masuk ke kaleng. Tak banyak, dan air itu Ilana gunakan untuk membilas kaleng sarden agar bebas dari sisa cucian air laut tadi. “Ayah-ibu tidak tahu.”
“Kalian benar-benar berniat minggat ya?”
Ilana terhenyak. Benar juga. Kali ini dia berkegiatan di alam tanpa restu mereka. Pasti Ayah-Ibu cemas, begitu mendapat kabar anaknya hilang di Pantai Rancah Babakan. Rasa bersalah segera mengurung jiwa Ilana.
“Ngomong-ngomong, Bima dan Falah kok belum balik, Na?” Martin mengingatkan tentang dua sejoli yang tadi pamit mencari air.
__ADS_1
Ilana spontan bangkit. Berdiri memandang ke arah Bima dan Falah menghilang.
“Aku cek keluar dulu.” kata Ilana mengambil senter lalu melangkah melewati sela tenda antara Falah dan Bima. Berjalan sampai batas terakhir ruang lapang tanpa rimbun semak belukar.
Saat kembali ke tenda, Martin telah mengisi gelas plastik dengan air hasil penyulingan. Baru dapat seperempat gelas. Keterbatasan alat, mungkin menjadi sebab jumlah embun yang menetes ke batok kelapa lalu ke kaleng tidak maksimal. Dan lagi, menurut Jesi ada aroma amis sarden menguar.
Ilana mendengus menanggapi komentar Jesi. Malas rasanya berdebat dalam kondisi meresah. Pikirannya kini penuh tertuju pada Bima dan Falah.
“Semoga mereka baik-baik saja.”
Ilana menggigiti bibir bawah. Penunjuk waktu yang telah menandai pukul sembilan malam. Api hampir mati, seiring tubuh Jesi yang telah rebah tumbang.
“Aku mau mencari ranting lagi.” putus Ilana. Dia tak mau hanya duduk-duduk menantikan kabar temannya tanpa melakukan sesuatu.
“Aku temani,” kata Martin turut bangkit dari duduk bersila.
“Jesi?”
“Dia toh, sedang tidur. Dia aman, kan di sini?”
Ilana mengangguk ragu. Dengan bantuan cahaya senter, keduanya melangkah ke arah kanan tenda. Mencari-cari ranting yang mungkin iseng melintang di tanah. Pergerakan Ilana semakin mengarah ke jalan yang Bima dan Falah tempuhi. Rasanya ingin menyusul keduanya, tapi dia tak tahu kemana arah langkah mereka. Bisa-bisa dia malah yang tersesat sendiri.
Tiba di sepertiga punggungan Ilana berteriak lantang. Dua nama dia kumandangkan. Berharap suaranya dapat mengalahkan deru ombak, dan terdengar oleh Bima dan Falah. Siapa tahu suaranya dapat menjadi petunjuk arah perkemahan mereka.
“Ilana!” panggil Martin yang terpisah dari Ilana. “Berbaliklah, nanti kamu tersesat!”
Martin menghela nafas lega, manakala seutas wajah terlihat kembali oleh radar matanya.
“Kita balik ke tenda.” ajak Martin.
Ilana hendak mengangguk ketika merasakan ada tetes air mengenai hidungnya. Tangan kirinya yang bebas lalu menengadah memastikan apakah tetesan air itu merupakan air hujan. Benar saja, dalam hitungan detik jumlah air yang menghujam ke sekitar semakin ramai. Ilana dan Martin berlarian menuju tenda.
Ilana segera membersihkan nesting dari kerak garam yang tercipta dari proses distilasi. Membersihkan nesting satunya dari mie instan jatah makan Bima dan Falah, dengan memindahkan isinya ke piring. Kemudian menengadahkan semua perangkat nesting untuk mewadahi tetesan air hujan yang lumayan lebat. Sementara payung yang semula berfungsi menepis angin dari belakang tenda Ilana, kini telah memayungi bara api yang masih merah. Lumayan sebagai penghangat.
Malam semakin larut. Berteman hujan yang masih setia membasahi bahkan memenuhi nesting dengan airnya. Bima dan Falah masih belum ada tanda kedatangan. Meski rasa cemas menguar, tapi rasa lelah yang menggantungi badan, membuat Ilana jatuh tertidur sembari duduk memeluk lutut. Hingga sebuah tangan menyentuh bahunya membangunkan agar dia tidur semestinya.
“Bima?” Ilana mendongak antara percaya dan tidak percaya. Hanya berharap itu bukan mimpi.
“Tidur yang benar! Sakit punggungmu nanti.”
Ilana yang masih merasa mengantuk, menurut saja. Dia langsung meringkuk di samping Jesi yang tiba-tiba mengigau tidak jelas.
__ADS_1