Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Pantai Tanpa Pasir


__ADS_3

Keesokan paginya Pak Hanta sudah meringkuk di gubuk. Mendengar keriuhan anak-anak yang sedang berkemas membuatnya terjaga. Jesi langsung menyapa dan menanyakan perihal perjalanan pulang mereka.


“Maaf Neng, nampaknya saya tidak bisa mengantar. Perkiraan saya, tadi malam akan dapat satu atau dua lobster. Ternyata tidak dapat sama sekali. Tidak mungkin saya balik dengan tangan kosong.”


Mimik Jesi berubah seperti mau menangis. Martin yang paham pacarnya itu, menenangkan dengan menggenggam tangan Jesi. Keduanya memandang pada tiga sekawan Bima, Ilana dan Falah.


“Terserah sih, kalian masih bisa ikut kami, kok.” kata Bima memutuskan. “Mau menunggu Pak Hanta juga itu tergantung keputusan kalian.”


“Tin,” rengek Jesi merasa frustasi. Harapannya untuk pulang cepat karam.


“Kami ikut kalian aja.” kata Martin seakan tak ada pilihan lain.


Jesi juga sudah terlihat pasrah. Tidak mungkin mereka menunggu Pak Hanta. Iya, kalau nanti malam dapat. Jika nihil lagi, mereka akan semakin telantar.


“Baiklah, ayo kita berangkat.” ajak Bima.


Kelimanya berpamitan pada Pak Hanta. Tak lupa beliau juga mengucapkan permintaan maaf pada Jesi dan Martin.


Medan selanjutnya tidak terlalu terjal atau mendaki. Mereka lebih banyak melipir punggungan pada lintasan jalan setapak yang tersedia. Sebelah kanan mereka terdeteksi sebagai igir tebing yang berbatasan dengan laut langsung.


Tengah hari jalan yang mereka lalui mengarah turun ke bawah. Bima menduga mereka akan segera menemukan pantai lagi. Bukannya melaju pada lajur yang sudah tersedia, Bima mengarahkan jejak kaki anggota timnya semakin turun ke kanan.


“Kita lihat pantai dulu sebelum meneruskan perjalanan ya?” tawar Bima.

__ADS_1


“Pantai?” jengit Jesi. “Mampir ke pantai lagi. Jadi kapan kita akan sampai ke Permisan?”


“Mungkin, masih dua hari lagi. Kalau lancar.” jawab Bima.


“Kita udah tersesat berapa hari?”


“Kita sedang tidak tersesat.” ralat Ilana cepat. “Dan ini hari keempat.”


“Apalah itu, bagiku sama aja seperti kita sedang terdampar di suatu pulau tak berpenghuni.” Jesi mengutarakan pendapat. Matanya yang cekung menatap Ilana tajam.


“Sebaiknya kita bergegas. Pantai baru udah tercium baunya nih.” ucap Bima seakan tak terpengaruh ucapan Jesi.


Bima menyusur tanah tanpa setapak yang rimbun. Sesekali terdengar keluhan dari Jesi. Kenapa mereka tidak tetap pada jalan yang sudah tersedia. Sayang keluhannya serupa denging nyamuk nakal yang iseng melesat lewat kuping Bima, Ilana maupun Falah.


Nuansa sekitar yang memiliki tingkat terang nyaris sama tidak menyilaukan pandangan mereka. Batuan terjal menyapa terkadang melukai kaki Jesi yang terbuka. Bukan itu saja, secara tak terduga Jesi jatuh tergelincir hampir saja pantatnya mencium batuan kasar. Sebagai gantinya, tangan Jesi yang spontan menopang tubuh menghantam batuan hingga menimbulkan luka berdarah dan sensasi terkilir pada pergelangan tangan.


Ilana yang berjalan persis depan Jesi langsung memberi pertolongan dengan mengeluarkan kotak P3K. Air minumnya yang tinggal setengah harus dia relakan untuk membersihkan luka pada tangan Jesi sebelum terbubuhi antiseptik dan tutupan plester dan perban.


“Ayo kita lanjutkan.” kata Bima begitu Ilana telah mengemas perlengkapan P3K.


Jesi merengut tidak berdaya. Dengan bantuan Martin dia berdiri setengah limbung pada batuan yang memang tidak rata.


Debur ombak telah memenuhi gendang telinga. Sekejap kemudian tebing batu menjulang menghadang langkah para pencari pantai itu.

__ADS_1


Bima mengajak anggota timnya melipir sisi kanan tebing yang menyisakan celah sempit. Keluar dari lorong pendek, air yang membiru menyerbu retina mata. Alas kaki yang terpijak bukan berupa pasir melainkan batuan menyerupai lantai kasar yang membentang. Mirip penampang aspal yang telah rusak. Batu-batu karang tinggi menyelingi perairan mirip benteng pertahanan. Ombak yang menyalak-nyalak hanya sanggup menyentuh bibir tebing. Bila ada yang lolos naik, akhirnya ia terperangkap pada lantai batuan karang yang memiliki lubang-lubang.


Bima dan Falah telah berdiri di bibir batu karang. Merasakan pantai tanpa pasir yang ganas dan bisa menggila bila pasang tiba. Ilana memotret penampakan pantai. Sementara Falah tentu saja kamera perekam telah menangkap setiap detik ombak yang menghempas tak kenal lelah. Satu buah karang besar menjulang nyaris di tengah luapan air, membuat Ilana menduga tebing itu sebagai Nusa Bancak.


Saat mereka akan kembali naik ke atas, Bima memperhatikan lelehan air yang mengucur melalui celah batuan tebing yang menghadang langkah mereka saat masuk kemari. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia lalu mewadahi aliran air menggunakan kedua belah telapak tangan. Tanpa ragu-ragu dia lalu meminum air tersebut. Mengecap-kecap lama, menimbang rasa yang melumuri lidah.


“Tawar nih,” ucapnya. “Bisa buat air minum kita.”


Ilana yang kurang yakin dengan Bima ikut mencicip air tersebut. Sensasi segar menyerang tenggorokan Ilana.


“Iya kan, Na?”


“Ehem,” balas Ilana mengeluarkan botol kosong dari tas rangsel. Gerak selanjutnya dia sudah menahan curahan air yang turun menuju botol minum.


Falah dan Bima turut serta mengantri mengambil air dari air terjun kecil yang serupa leleran keringat deras. Masalahnya mereka masih belum tahu kapan akan bertemu dengan sumber air. Selagi ada air layak minum, bukan air payau. Harus dimanfaatkan.


Setelah semua botol terisi, kelimanya kembali mendaki lewat celah lain pada sisi kanan tebing. Masih seterjal jalur turun. Berkali-kali Ilana menyiapkan tangan membantu Jesi menaiki batuan yang kadang nongol menghalangi jalan. Hampir setengah jam mereka serasa memanjat tebing landai yang berhias tanaman pandan berduri atau daun sejenis nanas yang juga memiliki duri.


Ketika tanaman berduri menghilang, jalan telah berganti tanah. Semak-semak kini yang menemani kesunyian langkah yang meletih. Jalan setapak belum nampak melintang. Membuat Jesi dan Martin setengah frustasi menapak dengan enggan.


Kesabaran sejati memang selalu berbuah manis. Seperti dugaan Bima setelah tanjakan ketiga, berpindah punggungan hingga tiga kali, jalan setapak impian telah menanti. Mereka semua langsung terkapar di jalanan melintang seperti lajur rel kereta.


 

__ADS_1


 


__ADS_2