
Bima terbangun ketika mendengar gelegar petir yang memecah angkasa. Deru angin tak kalah ribut. Debur ombak berlari mendekat. Setelah mengumpulkan segenap nyawa, Bima bangkit melangkah menuju daratan pasir terbuka. Senter dia sorotkan mengawasi sekeliling. Hujan sontak menyambutnya. Seiring kaki yang menyentuh pasir berair.
Bima segera berbalik. Ilana telah berdiri di tengah-tengah ruang segitiga memandang penuh tanya.
“Kita harus naik ke atas lagi.” ucap Bima membuat Ilana tanggap lalu membangunkan Jesi yang masih terlelap.
Bima membangunkan Falah dengan satu tepukan keras di kaki. Teriakannya turut menggema mengalahkan keramaian marah angin bercampur murka ombak. Falah dan Martin terbangun bingung. Instruksi Bima selanjutnya agar mereka segera membongkar tenda dan membereskan area perkemahan menghapus kelinglungan keduanya.
Semua bergerak cepat. Martin akhirnya membantu Ilana merubuhkan tenda. Jesi sendiri berdiri gemetar dengan air mata yang telah jatuh mengalahkan tumpahan air hujan yang semakin menderas.
Mantel yang semula berfungsi sebagai tenda telah menyelubungi tubuh mereka. Kecuali Martin dan Jesi. Untung Ilana membawa jas hujan dari plastik yang langsung dia kasih ke Jesi dan Martin.
“Cepat kita naik ke sana.” tunjuk Bima ke arah kiri. “Fal, rintis jalan. Nih, golok.”
Tanpa banyak kata, Falah yang telah selesai mengepak barang ke tas mengambil golok dari tangan Bima lalu melangkah sesuai petunjuk kawannya.
“Tangkap, Tin!” Bima melempar senternya ke Martin. Dia sendiri menggunakan lentera yang juga berfungsi sebagai senter sebagai bekal penerangan.
Sebelum meninggalkan lokasi kemah yang terancam kena rob, Bima menyisir area tersebut. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal atau tercecer.
Falah menerobos rimbun pepohonan, sesekali tangannya menebas tanaman yang terlalu menghalangi jalan. Jalur rujukan Bima menanjak cukup terjal. Efek hujan membuat tanah menjadi licin. Jesi beberapa kali terjatuh, rengekannya acapkali menyela di antara hantaman angin dan air yang bersahut-sahutan.
__ADS_1
Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Kelimanya masih merayapi punggungan tanpa jeda dataran landai. Nafas Martin mulai tersengal, Jesi tak kalah putus-putus. Ilana berteriak memanggil Falah agar tidak jauh meninggalkan rombongan. Jesi mogok jalan. Kondisi mereka benar-benar seperti pasukan kalah perang.
Bima menukar mantelnya dengan jas hujan yang Martin pakai. Demi kepraktisan dan kelincahan gerak. Pikir Bima sebelum menyusul Falah yang telah tidak nampak lagi cahayanya. Sementara Ilana harus bersabar merayu Jesi agar mau melanjutkan perjalanan. Bagaimana pun berhenti ditanjakan bukan pilihan nikmat. Kaki jadi menegang menahan tubuh agar tetap tegak, serta ada resiko merosot ke bawah.
“Ayolah, Jes. Sebentar lagi kita sampai di tempat datar.” bujuk Ilana tak kenal menyerah. “Martin, lakukan sesuatu dong, biar dia mau jalan. Kalau terus begini, kita bisa kedinginan. Bisa kena hipotermia kita!”
Martin tergugu. Dia menatap Jesi yang duduk memeluk sebatang pohon agar tidak meluncur turun. Isak tangisnya menggaris pipinya yang kini memucat.
“Baiklah, kalau kalian berdua memang ingin mati konyol di sini. Aku tinggal.” gelegar Ilana menggugah kesadaran Martin.
“Jes, ayo!” Martin telah berdiri. Tangannya terulur pada Jesi.
Bersamaan dengan itu Falah muncul. Dia lalu turut membantu langkah Jesi yang tertatih. Melihat Jesi mau bergerak, Ilana mendesah lega segera menyusul Bima yang yang menunggu di depan.
Wajah Ilana berbalur tanah. Tak beda dari penampakan Jesi yang semakin tidak karuan. Rambutnya yang semula lembut tergerai, kini kusut menggimbal. Bolehlah seperti penampakan zombie. Hidup tapi mati.
Hujan tidak lagi merajalela menyisa rintik sendu. Ilana melihat jam tangan. Pukul 04.00 WIB. Kurang lebih tiga jam mereka menggaru tanah ke atas. Hingga kaki-kaki tak merasa mendaki lagi. Bima mengedarkan cahaya ke sekitar setelah menyuruh yang lain duduk beristirahat.
Badannya yang kuyup tak membuatnya berhenti berleha-leha. Justru dia harus banyak bergerak agar tubuhnya tidak menggigil kedinginan. Bima segera mencari tempat nyaman untuk membangun tenda kembali.
Kira-kira tiga meter dari tempat teman-temannya menunggu, Bima menemukan tempat teridamkan. Tas rangsel dia letakkan sambil menebas nafas. Selanjutnya dia memanggil yang lain agar merapat padanya.
__ADS_1
“Mantelnya, Tin.” Bima melucuti Martin yang terbungkus mantelnya.
Patok kecil yang masih tersangkut lengkap dengan talinya memudahkan pendirian tenda. Selesai membangun tenda, Bima meraih golok yang tergeletak dekat tas rangsel Falah.
Senter dia sorotkan pada lantai tanah. Mencari ranting kayu untuk bakal perapian. Tak mendapat banyak ranting, Bima terpaksa memotong satu dahan pohon yang melengkung ke bawah.
“Fal, tolong kamu kuliti ini.” kata Bima sembari meletakkan satu rengkuhan kayu dekat tendanya dan Falah.
“Siap!” Falah mencari pisau lipat.
“Biar aku bantu.” kata Ilana setelah menyalakan lilin di dalam tenda tempat Jesi bergelung kedinginan.
Materi survival yang pernah mereka dapat terpraktekkan di sini. Bima lalu menyerut kayu-kayu yang telah dikuliti. Setelah mendapat banyak, dia menyalakan satu lilin kecil yang dikitari potongan ranting kecil bersusun membentuk segiempat. Selanjutnya serutan kayu dia letakkan pada api lilin yang menyala. Ranting kecil dia tumpangkan di tengah-tengah penampang segiempat. Terus saling silang dari ranting yang kecil, ranting sedang terakhir jelas kayu yang besar.
Api telah melenggak-lenggok menghangatkan sekitar. Ilana menyuruh Jesi mendekat api unggun supaya tubuhnya menjadi hangat. Tak ada percakapan yang singgah. Semua terlalu lemah untuk menguntai kata. Hanya benak yang berkisah tentang kejadian beberapa jam lalu. Sebuah perjalanan yang menguras tenaga dan perasaan.
Akhirnya satu-persatu mereka jatuh tertidur. Bima yang tumbang terakhir sempat terpekur menatap api yang tinggal menyisakan bara. Dia sama sekali tidak menyangka pilihan jalannya mengarah pada medan yang menanjak tidak ada habis-habisnya. Apalagi tingkat kemiringan yang terasai berkisar 350.Penasaran dengan posisi mereka sekarang, Bima membuka peta. Menelusur mulai dari Pantai Rancah Babakan, lalu melipir punggungan menyeberang semenanjung. Seharusnya kalau langkah mereka tetap konstan, akan menghemat perjalanan menuju pantai berikutnya. Kenyataan yang ada, langkah meraba Bima semalam membawa rombongan terlalu ke kiri.
Bima terlalu penat berpikir. Dia pun membaringkan tubuh. Ingin sejenak melupakan perjalanan tak terduga dini hari tadi.
Ah, sudahlah. Yang penting kami semua selamat.Benak Bima berujar seiring senyum menguntai penuh kepuasan.
__ADS_1