
Waktu bebas di Baturaden sampai dengan pukul 13.00 WIB. Bima dan Falah yang terpisah sewaktu di bus langsung bergabung begitu tiba di tempat wisata. Keduanya berjalan sambil berdiskusi mengenai rencana di pantai Rancah Babakan nanti. Secara tak terduga Ilana dan dua orang teman cewek masih setia mengikuti langkah keduanya. Padahal Bima pikir dia sudah lepas dari tiga cewek yang sejak di Aquarium Purbasari rajin membuntuti.
Pucuk cinta ulam pun tiba. Berkat Ara, Ilana mendapat kesempatan untuk mencuri dengar percakapan antara Bima dan Falah. Bukan bermaksud ingin melapor, tapi dia penasaran terkait rencana menghilang keduanya. Dalam hati, nada setitik ingin turut serta. Tapi lihat situasi dan kondisi nanti. Meski secara de facto Ilana diam-diam telah menyiapkan peralatan serupa.
“Bima, kita melintas jembatan itu yuk!” tunjuk Ara tiba-tiba mencegat langkah Bima.
“Hah,” Bima kaget tidak sadar Ilana dan dua gadis telah berada di belakangnya.
“Ayo,” Ara menyeret Bima yang malah kebingungan. Saat itu langkah mereka sedang turun menuju tepian sungai. Niatnya Bima ingin duduk-duduk lesehan sambil makan mendoan dan pecel seperti pengunjung lain.
Bima melihat ke atas jauh pada jembatan yang melintang di atas sungai dengan batuan terjal. Tapi isyarat perut menuntunnya mengarah ke tepian sungai yang jernih syahdu.
Ilana tersenyum geli. Pemandangan ganjil tersaji di depan mata. Yang satu tampak menggebu-gebu dalam tatapan penuh harap. Yang satunya menatap enggan, cenderung jijik seolah ada kotoran yang menempel di lengan baju yang ditarik-tarik oleh Ara.
“Lepasin, Ra!” sergah Bima.
“Aku lepas, tapi kita ke sana.” tunjuk Ara mulai merajuk mirip anak kecil.
Bima memandang Falah yang cuma meringis. Tak dapat tanggapan memuaskan Bima lalu meminta pendapat Ilana juga melalui isyarat mata.
“Enggak ada salahnya mencoba,” komentar Ilana seraya membetulkan kerudung.
Bima berdehem, lalu melihat ke arah jembatan gantung. Senyum jahil yang tertampil beserta anggukan, justru membuat Ara bahagia.
Kelimanya berbalik arah. Naik lagi ke atas menuju jembatan beton untuk selanjutnya mengarah pada jembatan gantung yang berada jauh di seberang.
Kali ini Falah merasa tersisihkan. Dia jadi tidak enak hati berjalan antara Ara dengan Bima. Akhirnya dia memilih menyamai langkah Meidi yang kebetulan berjalan sendiri di belakang. Kalau Ilana dia telah memimpin jalan.
Tiba di ambang jembatan, Ara mencengkeram lengan Bima kuat. Bima berusaha menepis pegangan tersebut. Rencana jahilnya bisa gagal kalau gitu. Dia bermaksud menggedor jembatan dengan kuat agar Ara ketakutan dan menyesal tujuh langit karena telah mengajaknya kemari.
“Aku takut, Bim.”
“Kalau takut kenapa ngajak ke sini?” runtuk Bima menahan kesal dan masih berusaha melepas pegangan Ara. Tapi tangan kecil itu menempel bagai lintah. Hampir saja dia mengeluarkan korek api gas yang selalu dia bawa selain senter mini dalam bentuk gantungan kunci, untuk mengusir tangan Ara.
“Kita menghalangi jalan orang lho,” kata Falah, yang langsung menepi. Saat menyadari mereka berempat menyulut umpatan pejalan lain.
Ilana sendiri tak menyadari kalau teman-temannya masih terjebak di gerbang jembatan. Dia terus melenggang sampai tengah jembatan.
“Ilana, woi!” panggil Bima segera.
Wajah terkejut Ilana langsung terpampang begitu tahu Bima dan lainnya masih maju-mundur untuk melangkah. Tawa tak bisa tertahankan.
“Malah ketawa dia,” dengus Bima yang masih belum bisa melepaskan jeratan tangan Ara.
Sebuah isyarat agar mengatasi Ara, berhasil menggerakkan langkah Ilana kembali.
“Kamu alergi cewek?” tanya Ilana. Tanpa menunggu jawaban dari Bima, tangannya sudah terulur pada Ara. “Yuk, Ra. Bima suka gatal-gatal kalau bersentuhan sama cewek.”
Ara memperhatikan wajah Bima yang saat itu tampak kemerahan. Perlahan dengan enggan dia melepaskan pegangan tangannya pada Bima. Muka memerah Bima sebenarnya bukan karena alergi, tapi tersebab malu. Habis banyak mata yang mengarahkan pandangan padanya. Ini gara-gara ucapan Ilana.
“Ayok, jalan!” perintah Falah ke Bima yang masih terdiam.
“Kamu jalan duluan aja.” sahut Bima.
__ADS_1
“Jangan bilang kamu takut jembatan gantung.” ucap Meidi melewati Bima yang menghembuskan udara dari mulut.
Melihat ketakutan Ara, mengurungkan niat jahil Bima. Ilana masih memimpin jalan sambil menggandeng tangan Ara. Selanjutnya secara berurutan disusul Falah, Meidi terakhir Bima.
Ara melirik samping kiri yang berbatasan langsung dengan sisi jembatan. Batuan besar siap menadah tangan bila jembatan yang mereka titi tersebut putus. Membayangkan itu membuat Ara tidak berani melangkah lagi. Saat itu mereka telah berada di tengah jembatan.
“Aku udah bilang kan, jangan liat bawah!” kata Ilana setelah rayuannya gagal membuat Ara lepas dari keterpakuan.
“Kakiku membatu sendiri,” ujar Ara hampir menangis. Tangan kiri mencengkeram pembatas jembatan sementara tangan kanan melekat pada tangan Ilana.
“Nggak apa, jembatan ini aman.” Meidi mencoba menenangkan Ara.
“Sebaiknya Ara berjalan di tengah. Kalian berdua membimbingnya.” Bima memberi masukan.
Meidi berusaha mencerabut pegangan tangan Ara pada pembatas jembatan. Cukup susah. Harus pakai acara rayu-merayu tingkat dewa gombal. Setelah tangan Ara berpindah mencengkeram tangan Meidi, pe-er berikutnya adalah membuat kaki Ara bergerak.
Dalam gemetar sangat, Ara dengan berurai air mata mencoba melangkah. Tapi baru dapat dua tapak, tremor tubuhnya semakin hebat. Apalagi runtukan dari pejalan lain yang menghujat Ara semakin membuatnya tak berdaya.
“Kalau takut seharusnya jangan maksa naik kemari!”
“Menghalangi jalan aja nih,”
Kira-kira seperti itu berbagai cuitan yang tertuju pada rombongan Bima. Falah terpaksa meminta maaf pada orang-orang yang merasa terhambat laju langkahnya.
“Gimana nih?” ujar Meidi.
“Ayolah, Ra. Bayangin kamu sedang jalan di taman bunga.” ucap Ilana.
Bima tersenyum geli menatap Ilana yang memutar bola mata menahan kesal.
“Kamu merem aja, nanti kami bimbing.” saran Ilana lagi.
Ara menurut, satu tapak berhasil terpijak. Dan berhenti seketika. Teman-temannya menghela nafas bersamaan.
“Kalau begini terus bisa sampai malam kita terjebak di sini.” komentar Bima.
“Ada satu cara agar kita bisa keluar dari jembatan.” ucap Ilana. “Tapi tergantung Bima dan Falah.”
“Kok aku?” protes Bima.
“Kenapa aku jadi ikut-ikutan?”
“Kalian berdua harus gendong Ara sampai ujung jembatan.” Ilana berkata seolah itu pekerjaan yang mudah.
Bima dan Falah saling pandang.
“Badanku, kecil lho. Nggak bakalan kuat gendong dia.” kata Falah sambil melirik rekan cowoknya, Bima yang berpostur atletis.
“Kau gendong carrier 90 liter kuat, masa gendong Ara nggak kuat. Paling berat dia cuma 50 kilogram.”
“Enak aja! Beratku 45 kg, tahu.” semprot Ara sempat-sempatnya ingat berat badan sendiri, saat dalam posisi terjepit.
Falah nyengir kuda hampir meringkik.
__ADS_1
“Cepetan, keburu waktu habis.” kata Ilana.
“Kamu dulu,” tunjuk Bima pada Falah.
“Ayo Ra, aku gendong.” Falah mempersiapkan diri. Jiwa raga.
Ragu-ragu dengan tubuh yang masih gemetaran Ara naik ke punggung Falah. Agak ngeri juga, apalagi tubuh Falah sedikit oleng ketika melangkah.
“Turun, aku mau turun!” teriak Ara panik.
Tanpa menunggu teriakan kedua kali, Falah segera menurunkan Ara. Senang rasanya bisa bebas dari beban yang menghimpit badan. Falah melakukan peregangan agar punggungnya kembali berdiri normal.
“Kamu jalannya yang benar dong!” runtuk Ilana. “Bikin Ara tambah takut tuh! Bim, giliranmu.”
“Tapi bukannya dia malah tambah takut.”
“Itu karena Falah jalannya kayak ketiup angin.”
Tak mau berdebat lama, mengingat mereka bakal jadi viral. Bima mengalah, langsung menggendong Ara.
“Kamu pejamkan mata aja, biar nggak melihat jembatan.” kata Bima memberi arahan.
Ara menurut. Dan sepertinya dia merasa nyaman berada di punggung Bima. Ilana jadi geleng-geleng kepala. Jangan-jangan ini modus agar bisa digendong Bima lebih lama.
Tiba di ujung jembatan, Bima melepaskan beban beratnya. Mengambil nafas dan mengambil botol air yang berada dalam tasnya. Tapi belum sampai botol air mineral terteguk di mulut, Ara sudah merebut dan meminumnya. Botol air minum dari Ilana yang tertuju pada Ara menggantung di udara.
Bima memandang botol air minumnya yang langsung habis oleh Ara. Terpaksa dia menyerobot air mineral milik Ilana yang masih menunggu tuannya.
Selepas jembatan, mereka menuju air mancur yang menjatuhi taman menawan. Ilana ingin foto di sana, tapi Ara bilang malas basah. Akhirnya mereka hanya mengambil foto di tengah-tengah tangga yang menuju ke sana. Itu pun bias percikan air masih terasa membasahi badan.
Terakhir, mereka berlima menuju ke arah pintu keluar. Melihat ada pesawat terbang parkir dekat pintu masuk, rombongan yang terbentuk secara tak sengaja itu bersepakat menjenguk dalam pesawat yang iseng nongkrong di situ.
Seorang petugas mempersilakan mereka masuk. Si petugas ramah juga menawari bagi yang ingin foto di cockpit pesawat. Saling rebut terjadi. Dengan sabar Mas Penjaga pesawat menyuruh anak-anak agar mengantri. Puas berswa-foto berlagak bak pilot, kelimanya lalu disuguhi menu tontonan film dari layar yang ada di belakang ruang kemudi pesawat.
Banyak pilihan film. Tapi film yang tersaji semua berupa film dokumenter. Diskusi panjang terjadi saat penentuan tontonan. Setelah ambil suara terpilihlah film dokumenter berjudul Erupsi Gunung Merapi.
Hampir satu jam Bima, Falah dan tiga orang gadis menyaksikan film yang membuat Ara mengantuk. Keluar dari pesawat, waktu kunjungan di lokawisata Baturaden berakhir. Otomatis mereka segera kembali ke bus masing-masing.
Kunjungan selanjutnya adalah Small World. Taman kecil berisi bermacam miniatur bangunan populer dunia, seperti Menara Eifel, Kincir Angin Belanda, Menara Tokyo, Patung Merlion, Opera House Sidney dan lain-lain. Selain itu terdapat juga Small Garden. Rumah adat Indonesia juga turut mewarnai tempat wisata ini. Bagi yang ingin foto dengan menggunakan baju sesuai tempat foto, tersedia penyewaan baju khas dari beberapa negara. Ada kimono, klederdracht_baju tradisional Belanda, dan hanbok.
Small World menjadi tempat wisata terakhir di kawasan Baturaden. Selanjutnya sesuai rencana mereka menginap di salah satu hotel terdekat. Lega rasanya bisa segera membersihkan badan lalu merebahkan tubuh ke ranjang.
Sebagaimana Bima yang memilih tidur awal. Mungkin efek menggendong Ara, dia jadi merasa perlu merebahkan punggung lebih lama. Apalagi perjalanan sesungguhnya akan dimulai besok. Perjalanan yang pasti bakal menguras banyak tenaga, pikiran dan mental.
Tidak dengan teman-teman lain yang masih betah terjaga hingga malam. Padahal guru pendamping yang berpatroli sudah mengingatkan agar mereka lekas memejamkan mata. Mengingat besok harus bangun pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap. Bima sama sekali tidak terpengaruh dengan peringatan itu. Dia bisa langsung mengkondisikan diri.
__ADS_1