
Bima menghentikan langkah. Matanya sedari tadi berkeliaran mencari-cari sesuatu di sebelah kirinya. Sesekali jam tangan dia pelototi. Jam menunjukkan pukul 17.45 WIB. Cahaya yang semula terang telah menjadi remang-remang.
Hari ini bisa dibilang mereka terlambat membangun perkemahan. Bila kemarin mereka nge-camp kepagian, maka hari ini sesuai jam keberangkatan yang molor menyebabkan waktu persiapan bermalam ikut tertunda.
Saat berhenti, mata Bima masih memindai satu kawasan yang agak datar. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Kita nge-camp di sini.” kata Bima kemudian.
Pasalnya sepanjang jalur yang terlewati, tanah halus dan rata sebagai tempat pijak kaki hanya seluas tiga puluh sentimeter saja. Tidak mungkin bisa untuk membangun tenda. Atau kanan atau kiri sudah merimbun tanaman semak atau rerumputan liar. Dan lagi, datarannya tidak memiliki ketinggian yang sama. Kadang lebih tinggi jalan, kadang tanah samping kanan-kiri sedikit membukit. Jadi perjalanan mereka saat ini seperti meniti jembatan gantung dengan alas lima batang bambu.
“Di tengah jalan?” Ilana mengedarkan pandangan pada area yang ditunjuk Bima sebagai tempat berkemah. Jangan bayangkan rata seperti jalanan kota. Rerumputan sudah pasti lebat mengisi ruangan. Tapi justru bisa jadi alas yang empuk.
“Iya, Na. Kita malah aman di sini. Aman dari binatang liar.”
“Binatang liar?” Jesi bergidik. “Misalnya?” Jesi merapat ke Martin memposisikan diri di tengah-tengah kerumun.
“Bisa **** hutan, harimau, ular, musang....”
“Fal!” potong Ilana begitu melihat bahasa tubuh Jesi mengkerut tengok kanan-kiri dan tangannya sudah menggamit lengan Martin.
“Apa?”
“Bantuin aku pasang tenda.” kata Ilana berbuah kerutan di kening Falah.
“Tumben,”
“Udah, tangan aja yang bekerja. Mulut kondisikan.”
Falah menurut, Bima senyum-senyum melihat sobat cowoknya menjadi budak Ilana. Lima belas menit kemudian, perkampungan kecil ala Indian terbangun. Demi menghemat kompor gas, Bima dan Falah mencari ranting-ranting sebagai bahan bakar. Lagipula, hujan rintik telah menemani aktivitas kemah mereka.
Saat Bima dan Falah sedang berusaha menyalakan api, tiga orang pria menjenguk kawasan tenda. Ketiganya berdiri pada setiap celah yang menganga seolah mengepung mereka.
“Berkemah di jalan bukan pilihan tepat.” desis Ilana.
Bima melirik Ilana sebelum berdiri untuk menghadapi tamu tak diundang lain. Berdasarkan pengamatan Ilana, mereka bertiga menempati tingkatan umur yang berbeda. Pria dengan tato di lengan berkisar 40-an. Si gondrong berkulit legam, bisa jadi berumur 30-an. Dan pria berkumis rapi sekitar 50 tahunan. Dari ketiga pria yang tiba-tiba menyergap perkemahan Bima, satu orang memiliki tatapan liar. Si pria bertato tampak mengutas senyum lapar saat melihat pada dua gadis. Terlebih Jesi.
“Maaf Pak, kalau kami menghalangi jalan.” kata Bima sebagai salam sapaan.
“Lagi kemping?” balas salah satu dari tiga orang yang melangkah ke arah berlawanan dengan rombongan Bima. “Boleh gabung?”
“Iya, Pak.” sahut Falah. “Silakan!”
Bapak berkumis memberi kode pada dua orang agar mendekat ke arahnya. Melangkah agak menjauh dan terdengar mendiskusikan sesuatu dengan suara nyaris tak terdengar.
Bapak dengan potongan rapi berkumis tipis dan berperut buncit muncul lagi. Tanpa ragu dia melangkah masuk melewati celah tenda Falah dan Bima. Lalu duduk di antara dua tenda.
“Bapak-Bapak ini dari mana?” tanya Martin.
“Kami nelayan.” jawab si Bapak tidak menjawab pertanyaan Martin secara langsung. “Kami baru saja mengirim pasokan ikan ke Permisan.”
“Oh,” Falah tampak manggut-manggut sambil memegang ranting untuk pasokan lidah api.
__ADS_1
Bima menatap si Bapak berkumis dengan tatapan curiga. Tapi dia berusaha menyimpan baik-baik rasa tidak percaya atas perkataan Bapak itu.
Ilana menegakkan tubuh melihat dua orang yang lain. Meski sorot matahari telah hilang, dan berteman gerimis. Gerak-gerik pria selain si Bapak yang ikut duduk di antara mereka terlihat oleh Ilana. Kebetulan tendanya mengarah ke timur. Dua orang itu tampak sibuk membongkar perbekalan. Tas rangsel yang dibawa oleh salah satu yang bertubuh kekar, si gondrong legam.
“Berarti bukan nelayan kecil ya,” tanggap Martin. “Bapak ini pasti Bos nelayan.”
“Yah, seperti itulah.” Bapak berkumis tertawa terkekeh. “Ngomong-ngomong, kalian ini sedang apa di sini?” Bapak itu memandang satu-persatu wajah anak-anak.
“Awalnya kami ketinggalan perahu, Pak.” Martin secara suka rela menjadi juru bicara. “Lalu badai menyerang kami, hingga di sinilah kami.”
“Tapi kelihatannya kalian sudah siap terdampar.” balas Bapak berkumis tertawa lagi.
“Iya, enggak juga.” sahut Martin menggantung. Matanya yang mengedar pada Bima melihat gelengan kepala samar. Martin paham. Dia tidak boleh banyak buka mulut tentang mereka.
“Kalian rombongan piknik dari mana?” tanya Bapak itu lagi.
“Semarang,”
“Oh, jauh juga.”
Percakapan terus berlanjut, hingga mie instan yang sedang Bima masak matang. Rupanya si Bapak paham keterbatasan mie dalam nesting.
“Silakan, makan saja. Kami juga bawa perbekalan sendiri.”
Anak-anak saling pandang. Tapi piring Ilana telah tersodor ke Bima oleh Jesi.
“Makan saja. Jangan sungkan.” si Bapak menoleh ke arah tenda yang telah berdiri di belakangnya. “Masakan saya, belum matang nampaknya.”
Martin segera merapat ke Bima dan Falah. Perut lapar membuat mereka tak malu lagi melahap makan malam yang terbatas.
“Permisan.” sahut Falah yang bebas dari ******* mie.
“Kenapa tidak ikut kami saja. Lebih dekat kalau kembali ke Rancah, kan?” kata si Bapak membuat mata Jesi langsung penuh bintang.
“Beneran, Pak?”
“Iya, nanti kapal kami akan menjemput. Sekalian kalian ikut nggak apa.”
“Tin, kita selamat!” jerit Jesi tertahan. Senyum lebar menghias wajah Jesi yang selama ini bersaput mega kelabu.
Ilana menatap Bima. Seolah dia bicara tentang keputusan tersebut. Gelengan kepala tertahan disertai desahan nafas, sedikit banyak menjawab pertanyaan lewat mata Ilana. Bima tidak setuju Martin dan Jesi ikut rombongan tidak dikenal itu.
Martin tampak bimbang.
“Gimana jalurnya?” tanya Martin.
“Seperti jalan yang sedang kita lalui ini, terus sampai teluk penjemputan setelah Rancah.”
“Benar, Pak?”
“Iya, kata Toto demikian.” sahut si Bapak. “To, jalan ke Rancah seperti setapak ini kan?” tanyanya memaling ke belakang.
__ADS_1
Orang bernama Toto mendekat sebelum menjawab pertanyaan dengan beberapa penjelasan singkat. Martin mengangguk mantap. Entah kenapa dia merasa bisa cepat pulang bila ikut dengan rombongan tiga orang ini.
“Kita ikut mereka ya, Tin.” rayu Jesi.
“Iya, Jes.”
Hampir saja Jesi melonjak dari duduk bersila. Melihat situasi yang tidak memungkinkan dia hanya menggerak-gerakkan lututnya naik turun dengan ritme cepat. Seakan tidak sabar pagi menjemput kepulangan mereka.
“Nah, sudah pasti kalian ikut ya.” kata Bapak berkumis lalu berdiri. “Sepertinya makan malam saya sudah matang. Saya ke tenda sana dulu.” pamitnya.
“Aku ada firasat enggak enak.” ucap Ilana lirih. “Mereka bukan orang biasa.”
“Maksud kamu apa?” tukas Jesi.
Belum lagi Ilana menyahut sanggahan Jesi, seseorang muncul dari celah antar tenda Bima dan Falah. Pria bertato mengulurkan satu bungkusan pada Martin yang terjangkau olehnya.
“Makanan buat kalian.” kata pria bertato sambil menguntai senyum menggoda yang tertuju pada Jesi.
“Makasih, Pak.” sahut anak-anak hampir bersamaan.
Pria bertato berlalu. Martin membuka bungkusan plastik yang isinya udang goreng tepung. Mata kelimanya seperti kucing yang mengincar ikan asin di atas meja. Makanan mewah bergizi pertama sejak mereka meninggalkan peradaban kini berada di tangan salah satu anggota tim.
Martin meletakkan udang goreng tepung di tengah-tengah agar dapat terjangkau semua tangan. Tanpa banyak komentar mereka menikmati udang tersebut tanpa bersuara. Seakan, bila berbicara hilanglah kesempatan mengunyah lebih banyak udang.
“Alhamdulillah, hari ini kita dapat banyak asupan protein.” kata Falah setelah melahap udang terakhir. “Sepertinya kita bisa jalan ngebut nih, besok.”
“Jadi kalian mau tetap lanjut?” tanya Martin pada Bima.
“Tinggal sejengkal lagi, kalau aku jelas lanjut.” balas Bima. “Entah yang lain.”
“Bima pergi, aku pergi.” Falah menyahut.
“Kepalang basah, tanggung.” tanggap Ilana.
“Baiklah, berarti cuma aku dan Jesi yang kembali bersama Bapak-Bapak tadi.” kata Martin menyimpulkan.
“Kamu nggak merasa aneh dengan mereka?” Ilana menatap Martin tidak mengerti dengan keputusan cowok di depannya.
“Jangan menilai orang dari penampilan.” sambar Jesi.
“Tapi mereka mencurigakan.” tambah Bima. “Dia terlalu bersih untuk jadi seorang nelayan, bahkan bos nelayan.”
“Namanya aja Bos, menurutku tampilan bos ya, seperti itu.” Falah ikutan menimpali.
“Kalian lihat orang yang bertato? Senyumnya mengancam dalam tanda kutip pada Jesi.” Ilana mengungkapkan firasat tidak enak.
“Kamu pasti terlalu banyak nonton film kriminal.” cetus Jesi. “Udah ah, aku mau tidur. Besok tinggal jalan pulang. Jalan pulang yang pasti dan aman.”
“Daripada kamu kebanyakan nonton sinetron.” cibir Ilana tak mendapat tanggapan dari Jesi yang sudah bergelung dengan sarung.
Bima sudah membuka peta. Dia lalu mengira-ngira jarak perjalanan mereka hingga sampai Permisan. Paling tidak masih dua hari lagi. Tatapannya seketika menghunus pada Ilana yang mulai mengantuk, juga Falah yang tengah bergerak menuju tendanya. Dalam hati Bima berpikir, untung dia punya teman-teman setia.
__ADS_1