
Dini hari pukul satu rombongan study tour harus sudah kumpul di sekolah. Perkiraan jam setengah delapan mereka sampai di tujuan wisata pertama Aquarium Purbasari Purbalingga. Perjalanan tersebut setidaknya akan memakan waktu kurang lebih lima jam.
Bima mengedarkan pandangan mencari seseorang. Dalam sekejap radar matanya menangkap sosok yang sedang dia cari. Falah tampak mengobrol dengan anak lain di salah satu sudut koridor kelas. Sebuah tas rangsel tergeletak sisi kaki kanannya. Senyum simpul terlepas sebelum dia menghampiri Falah.
“Ready, Bro!” tanya Bima sambil matanya mengarah pada tas rangsel Falah.
“Woke!” balas Falah mengacungkan ibu jari ke atas.
“Sesuai list yang aku beri? Nggak ada yang terlewat?”
Falah menanggapi dengan menyodorkan dua ibu jari ke arah Bima. Tiga hari sebelum keberangkatan, Bima memberi daftar catatan barang-barang yang harus dibawa saat piknik nanti. Antara lain; senter beserta baterai cadangan, mantel atau jas hujan model kelelawar, baju ganti satu setel, perbekalan ransum secukupnya, korek api, lilin dan kompor gas. Perlengkapan kemping siap saji, pokoknya.
__ADS_1
Suara pengumuman dari corong toa terdengar mengabarkan anak-anak supaya kumpul terlebih dahulu depan gedung utama. Gedung yang berisi ruang guru dan tata usaha. Apalagi kalau bukan briefing persiapan berangkat berisi pesan-pesan yang kemudian diakhiri doa bersama agar perjalanan aman, selamat sampai tujuan.
Peserta study tour terbagi menjadi tiga bus. Setelah briefing siswa-siswi berduyun-duyun mengantri masuk pada bus yang memuat nama mereka. Guru pendamping lalu mengabsen peserta sesuai tempat duduk.
Bukan orang Indonesia kalau tidak memakai jam karet. Terjadwal berangkat jam satu, pukul dua kurang sepuluh menit bus baru mulai melaju.
Canda riuh terdengar dari dalam kendaraan yang membawa rombongan salah satu SMA swasta di Semarang. Rasa kantuk seolah hilang meski sekitar masih gelap gulita. Namun, setengah jalan kemudian, akhirnya satu-persatu jatuh tertidur juga.
“Bima serius?” tanya Ilana. Kebetulan bus mereka berdua terpisah dari bus Bima. Jadi Ilana bisa bertanya langsung pada Falah.
“Gitu deh,” balas Falah. “Perlengkapan udah siap!”
__ADS_1
Ilana menghembus nafas sambil memutar matanya ke atas. Detik selanjutnya dia sudah berjalan kembali ke tempat duduknya. Tepat saat bus berhenti di tempat transit. Di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Mulai dari sini mereka memasuki zona ngapak, daerah dengan bahasa Jawa dominan huruf vokal ‘a’ maksudnya ‘a’ tetap dibaca ‘a’. Misal: jam pira? (jam berapa), tetap dibaca sesuai hurufnya. Beda dengan wilayah Semarang atau Jawa Tengah bagian timur yang mengganti ‘a’ dengan ‘o’. Jam pira dibaca jam piro.
Team leader bus menginformasikan pada anggota bus kalau mereka istirahat di tempat itu. Melaksanakan sholat Subuh, mandi dan sarapan pagi. Jadi nanti begitu tiba di Aquarium Purbasari, tinggal masuk menikmati suasana lokawisata di sana. Satu persatu penumpang menggeliat turun. Perjalanan selama hampir empat jam lumayan bikin badan pegal-pegal.
Setelah sarapan pukul setengah tujuh, bus rombongan wisata meninggalkan tempat transit. Melaju terus hingga tiba di pertigaan Klampok mengambil kanan, menuju Purbalingga. Sebenarnya bisa saja mengambil lurus. Hingga ketemu pertigaan besar lagi di wilayah Banyumas, ke kiri arah Cilacap sementara kanan menuju Purwokerto lanjut Baturaden. Berhubung tujuan awal mereka Purbalingga, maka rombongan bus langsung melintas Purbalingga.
Satu setengah jam kemudian rombongan SMA Nusantara Semarang tiba di tempat parkir Aquarium Purbasari Pancuran Mas. Bias wajah lega terpancar. Udara segar menyambut peserta study tour. Segera mereka berjalan menuju pintu masuk yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari tempat parkir.
Selamat datang di Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas.
__ADS_1