
Guru pendamping menginstruksikan agar anak-anak berbaris rapi saat akan melewati gerbang pemeriksaan tiket. Demi kepraktisan, rombongan mendapat cap di tangan dari petugas jaga pintu masuk, sebagai legalitas pengunjung.
Berhubung masih pagi dan baru saja buka, suasana tempat wisata masih lengang. Anak-anak digiring menyusuri taman burung yang menyajikan berbagai jenis burung. Khusus anak IPA, guru biologi mengingatkan agar siswa mencatat semua jenis burung yang ada di tempat tersebut. Termasuk di taman rusa, dan diorama satwa. Masuk Planet Aquarium Toyoshuka, semua siswa_IPA dan IPS wajib mendokumentasikan berbagai jenis ikan yang mereka lihat.
Untung jamannya sudah serba canggih. Anak-anak tidak perlu repot mencatat pakai pulpen dan kertas. Kebanyakan dari mereka mengambil gambar dengan foto ikan yang berenang-renang dalam kaca, juga memotret keterangan yang menempel pada dinding kaca.
Saat menyaksikan ikon dari Aquarium Purbasari yaitu ikan Araipama Gigas yang berasal dari sungai Amazon, mereka tercengang. Padahal tadinya mereka pikir ini piknik kanak-kanak, dan seharusnya anak TK yang datang ke tempat ini. Tapi akhirnya mereka bisa menikmati berada di lokawisata Purbasari tersebut. Apalagi dalam aquarium terasa seperti sedang berada di bawah laut.
Waktu bebas selanjutnya mereka gunakan untuk berkeliaran ke wahana lain yang tersedia. Misal, waterboom atau kolam renang. Wisata air Telaga Fulus, yang mana mereka bisa bermain kano, perahu, dan sepeda air. Atau taman bermain, bisa menyewa sepeda untuk berkeliling kawasan wisata.Yang tidak suka jalan, enggan capek, terdapat gasebo untuk duduk-duduk manis sambil menikmati makanan yang tersedia di kantin.
Rombongan kecil Ilana, yang terdiri dari Meidi dan Ara menuju wahana air Telaga Fulus. Itu terjadi karena Bima dan Falah juga menuju ke tempat tersebut. Dua anak laki-laki itu hanya duduk di tepian wahana melihat kolam besar dengan pulau kecil di tengah. Mirip Danau Toba dengan Pulau Samosir. Bedanya danau mini ini penuh dengan bebek-bebekan sepeda air, perahu dan kano yang mengambang di atasnya.
Ara sempat menyeret Bima agar mau turun ke air. Antrian yang panjang berhasil meloloskan Bima dan Falah menuju arena bermain. Ara yang kehilangan Bima kontan langsung pasang muka cemberut.
__ADS_1
“Ih, Bima malah kabur.” keluh Ara yang matanya mengamati kelebat bayang Bima dan Falah. Tak lama kemudian tampak Bima memandang perahu yang memuat Ara. Tatapannya terus tertuju pada cewek yang selalu mengejarnya itu. Seringai kemenangan mengiringi gerak tangan Bima yang mengisyaratkan perpisahan. Dadah!
Ilana jadi tertawa. Tapi tak lama sebab Meidi telah mencubit lengan Ilana.
“Kamu beneran suka Bima?” tanya Ilana ketika perahu telah melaju pelan.
“Cinta pada pandangan pertama.” cetus Ara tanpa ragu-ragu.
“Oh...” tanggap Ilana. “Kok bisa?” Ilana sama sekali tidak mengerti bagian mana dari Bima yang menarik. Mungkin karena mereka sudah terbiasa bersama jadi tidak menyadari hal itu. Dalam pikiran Ilana, Bima adalah orang paling keras kepala yang pernah ditemuinya. Selalu merasa benar, dan kurang menghargai perempuan. Kalau secara fisik sih, yah, tubuhnya memang tinggi atletis. Alis tebal dan mata elangnya bisa jadi daya tarik tersendiri bagi para gadis. Tapi tidak bagi Ilana.
Ilana sudah hampir menyemburkan tawa lagi. Namun, ditahan. Mata Meidi telah menghunus pedang ke arahnya.
“Untung kamu enggak masuk rumah sakit.” sambar Ilana. “Itu bisa jadi indikasi kamu aslinya punya penyakit jantung.”
__ADS_1
“Ah masa, enggak mungkin!” bantah Ara.
“Ya deh, yang lagi jatuh cinta.” ucap Ilana mengakhiri candaannya. Ara sama sekali punya selera humor yang buruk.
Sebenarnya mereka bertiga tidak berkawan akrab. Selain beda kelas, tidak ada kesamaan visi antara mereka. Lagipula Ara selalu tampak jalan berdua dengan Meidi. Sedangkan Ilana, seringnya sendiri. Teman sebangkunya juga punya kawan dekat lain. Mau ikut gabung, takut tidak menyambung atau malah mengganggu. Paling kalau ada yang mengajaknya, dia akan dengan senang hati mengikuti.
Seringnya Ilana suka menggabungkan diri dengan Bima dan Falah. Tapi kalau mereka berdua sudah berkerumun dengan sesama teman laki-laki, Ilana memilih undur. Tipe introvert macam Ilana memang tidak suka bergabung dalam gerombolan besar. Dia lebih suka menikmati kesendirian dengan gadget atau buku. Membaca berbagai info penting, daripada bercakap dalam obrolan tidak jelas.
Tapi sejak kaki memijak kawasan wisata, tiba-tiba Ara mengajaknya bergabung jalan bareng. Ilana yang tahu maksud ajakan itu, tidak mau menelantarkan. Sesuai rencana dia memang ingin menguntit Bima dan Falah.
Sekali dayung dua-tiga pula terlampaui. Ara membuntuti Bima dalam rangka pendekatan. Ilana sendiri punya misi ingin mengetahui rencana di Nusakambangan secara jelas. Meski melalui siasat curi-curi dengar. Dalam hal ini sama-sama menguntungkan. Kecuali pihak Bima yang menderita kerugian, berupa kebebasan.
Mengenai Ilana yang langsung paham maksud tujuan Ara, tentu karena di sekolah, Ilana sudah kerap menjadi tukang pos salam Ara untuk Bima. Sayangnya, Bima menanggapi salam itu dengan tak acuh. Pada posisi Bima, Ilana bisa mengerti. Sobat berpetualangnya itu memang tidak suka diribetin oleh cewek. Kecuali dia tentu. Pembawaan Ilana yang kalem dan sedikit tomboy, membuat Bima merasa tidak terancam.
__ADS_1
Lepas dari tiga orang cewek yang mendadak nge-fans pada mereka, Bima dan Falah lalu menyewa sepeda berkeliling kawasan wisata. Lega rasanya berjalan tanpa mendengar celotehan dan rengekan cewek-cewek yang bikin bising kuping. Belum lagi permintaannya yang aneh-aneh termasuk hobi berfotoria. Bikin capek hati dan buang tenaga percuma. Mending keliling bersama teman cowok, bebas ketawa-ketiwi bahkan leluasa untuk menggodai cewek lain. Meski bagian kedua sama sekali bukan kegemaran Bima.