
Bima mengitari area perkemahan. Peta tersanding di tangan. Seperti dugaan sebelum dia terlelap buai mimpi, mereka terlalu melangkah ke kiri. Posisi pasti memang belum bisa terdeteksi. Bima hanya meraba melalui garis kontur yang ada di peta. Hal tersebut terjadi karena tidak ada titik-titik yang bisa digunakan sebagai tujuan penembakan kompas. Kemungkinan besar karena mereka berada di atas sebuah puncakan bukit itu sendiri.
Salah satu cara mengetahui posisi seseorang di hutan adalah dengan menandai dua titik permanen, misal bukit, sungai atau pantai. Nah, dari tempat berdiri, dua bukit yang terlihat diambil sudut derajadnya menggunakan kompas. Setelah itu nilai derajad yang terambil, lalu tempelkan pada peta dengan menggunakan busur hingga menemukan titik perpotongan. Persilangan dua garis itulah posisi kita di peta. Tinggal menyamakan dengan posisi asli di medan.
“Kita terlalu ke kiri?” tanya Ilana ikut memperhatikan peta yang Bima pegang.
“Iya, perkiraan posisi kita di sini.” sahut Bima mengetuk satu tempat di peta. “Awalannya udah benar. Tapi ketika sampai sini,” Bima menunjuk satu kontur yang rapat. “Terlalu curam, aku menduga mengarah ke sungai. Sebenarnya kalau langsung menyeberang sungai, akan mengurangi jarak tempuh. Yah, mau gimana lagi. Ombak saja hampir menyerang perkemahan kita. Aku khawatir, sungainya juga meluap. Bahaya. Apalagi kondisi gelap, kita bisa tergelincir masuk jurang. Lebih aman kalau tetap melipir naik. Cuma enggak nyangka aja, akan jadi sejauh ini.”
Ilana manggut-manggut. “Berarti, selanjutnya kita tembak pantai ini? Solok Besek.”
“Baiklah, mari kita ukur berapa sudutnya.” Bima mengeluarkan busur dari tas kecilnya. Menandai sudut ke pantai sebagai acuan bidikan kompas nanti. “Empat puluh.”
Ilana yang mengambil alih kompas membidikkan kompas mencari sudut 40 derajad. “Ke sana!” tunjuk Ilana ke arah barat daya.
“Kita berjalan ke sana nih?” tanya Falah yang memegang kamera dan sudah mendekat pada Bima dan Ilana yang memisahkan diri berdiskusi mengenai langkah selanjutnya. Kamera Falah menyorot ke arah bakal jalan mereka.
“Yoi,” sahut Bima.
“Terus mereka gimana?” Falah mempertanyakan tentang Martin dan Jesi.
Bima dan Ilana saling pandang. Tanpa kode keduanya telah berjalan mendekati tamu tak diundang semalam.
“Kita berpisah di sini.” Bima mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Martin.
“Tin, kita nggak mungkin kembali ke sana sendiri kan. Kita nggak tahu kemana harus jalan.” Jesi mencengkeram lengan Martin. “Nggak ada jalan yang jelas, semua terlihat sama, kita bisa tersesat.”
Martin mendesah. “Tenanglah.” Martin menggenggam tangan Jesi. Matanya menatap kekasihnya untuk meredakan kecemasan yang melanda.
__ADS_1
Melihat adegan mesra macam itu membuat Ilana bingung menentukan arah pandangan. Kompas sudah dia berikan pada Bima, kalau masih ada, lumayan bisa buat mainan. Akhirnya Ilana mengaduk-aduk dedaunan mati yang menebar di atas tanah dengan ujung kaki.
“Kami ikut kalian, Bim.” ucap Martin pasrah. “Nggak mungkin kami merintis jalan ke sana sendiri.”
Bima yang sedang memperhatikan kompas, saat terjadi aksi mirip film roman picisan menegakkan kepala. “Boleh, asal jangan merepotkan.”
“Dan, tolong patuhi semua arahan dari kami.” imbuh Ilana.
“Wah, asyik nih, jadi tambah ramai.” Falah nyengir lebar. “Hayuklah, kita jalan. Udah semakin siang nih.”
Bima memimpin jalan. Sebelum memastikan kembali dengan kompas kemana kaki akan melaju. Belakang Bima ada Ilana, kemudian Jesi, Martin dan sebagai penyapu Falah.
Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika kelimanya mulai merayapi punggungan dengan alur cenderung menurun. Kadang melompati punggungan yang menyerupai jurang kecil.
Nafas Jesi pada perjalanan kali ini bisa terkendali. Hanya terkait alas kaki yang tidak memadai membuatnya sering nyaris jatuh. Dan terkadang kerepotan menjejak tanah yang gembur basah. Berharap saja sepatu sandalnya tidak rusak sebelum sampai tujuan.
Meski demikian Jesi masih belum bisa mengendalikan diri. Saat botol terulur ke arahnya beberapa teguk langsung masuk kerongkongan. Melihat hal itu Ilana jelas tidak tinggal diam. Dia meraih paksa botol yang masih menempel di mulut.
“Udah kubilang jangan kalap!” tandas Ilana. “Masih juga nggak ngerti.”
“Tenang, Na. Kata Bima ada sungai yang bisa jadi sumber air kita.” Falah menengahi.
“Iya, tapi masih jauh kan?”
Falah menatap Bima minta jawaban pasti. Tak ada reaksi dari Bima, dia malah terus melangkah mengikuti arahan dari kompas.
Menjelang tengah hari kala langkah kaki semakin menuntun turun mengejangkan lutut. Mereka sampai di sebuah aliran sungai. Bima memutuskan mereka ishoma di tempat tersebut, meski datarannya sama sekali tidak rata. Demi kepraktisan saat pengambilan air untuk memasak, urusan cuci-mencuci atau wudlu dan segala yang berkaitan dengan air.
__ADS_1
Melihat sebongkah batu besar Ilana langsung menunjuk tempat tersebut sebagai tempat masak. Kebetulan meski bentuknya bulat, bagian atas batu terdapat ruang mendatar.
Ilana meminta mie instan dari tas rangsel Falah. Kompor gas kali ini berperan. Nesting telah mendidihkan air siap untuk mematangkan mie kuah rasa soto ayam. Aroma setelah mie dan bumbu menyatu menguar membuat perut yang lapar tidak sabar ingin segera menyantap hidangan siang.
Pembagian jatah makan masih sama. Ilana sepiring dengan Jesi. Sementara tiga cowok langsung makan dari alat masak.
Satu jam waktu istirahat Bima anggap cukup. Pukul satu lebih mereka berderap kembali.
Mereka menyeberang sungai. Memotong alur pasti ke pantai. Menurut Bima bila tetap menyusur sungai hingga menemukan perpotongan sungai, langkah kaki mereka akan otomatis menuju ke pantai. Tapi itu akan memakan waktu lama, mengingat jalan yang akan tertempuh memutar.
Sudut kompas hasil bidikan Bima mengarah pada mendaki punggungan. Jesi sudah mengeluhkan rute jalan yang akan membuat nafasnya kehabisan. Bima tidak menghiraukan protes Jesi. Tapi Ilana yang merasa risih menangkis keluhan Jesi dengan manis.
“Seharusnya kalian merintis jalan sendiri kembali ke Rancah Babakan.”
Mendengar itu, Jesi langsung diam.
Untunglah, punggungan yang mereka rintas tidak terlalu lebat vegetasinya. Hanya cukup membuat lutut linu, karena terus menanjak. Tepat pukul tiga mereka sampai di puncakan punggungan. Istirahat melepas lelah sembari ngemil biskuit yang Ilana bagi, seorang satu buah.
Perjalanan berlanjut. Setelah mendapat jalan datar, Bima mengajak yang lain menuruni lereng lagi. Tidak terlalu curam, bahkan hanya memakan waktu setengah jam hingga mereka tiba di celah antar dua bukit yang landai. Dengusan samar Jesi terdengar manakala leader mengajak rombongan menaiki punggungan kembali. Apalagi tanjakan yang tersaji menukik tajam.
Dua jam kemudian mereka sampai pada puncakan bukit yang sempit. Jesi yang tersengal-sengal mendesah lega ketika Ilana mengatakan, bahwa mereka harus berkemah di tempat tersebut. Bagaimanapun matahari hampir tenggelam. Tidak mungkin memaksa lanjut hingga ke pantai tujuan.
Semua bahu-membahu membangun tenda kecuali Jesi. Seperti biasa, Jesi hanya mengawasi pekerjaan teman temannya. Bersandar pada satu pohon besar dengan wajah tergambar memilukan. Setelah tenda berdiri. Tanpa sungkan Jesi masuk tenda Ilana dan terkapar di sana.
__ADS_1