
Bima menarik sarung hingga telinga. Suara berisik di luar tenda sungguh mengganggu tidur lelap yang baru tercipta.
“Bima, Falah, bangun!” suara Ilana melengking mengalahkan teriakan monyet hutan. “Kalian pulang jam berapa? Kemana aja semalam. Bikin cemas orang, tau!”
“Ah, berisik banget sih!” erang Bima.
“Falah!” Ilana menepuk sekali lagi kaki Falah.
Seperti biasa refleks Falah memang pakem. Tepukan kedua Ilana berhasil menegakkan tubuh Falah meski matanya masih terpejam.
“Ada apa,Na?”
“Semalam apa kalian tersesat?” tanya Ilana sungguh penasaran.
“Apaan sih, pagi-pagi udah berisik.” Jesi tampak menggeliat keluar tenda.
Ilana tak mengacuhkan Jesi. Dia masih harus memburu jawaban dari Falah.
“Kami nggak tersesat, kami cuma menunggu hingga hujan reda.” mata Falah meski terpejam, mulutnya dapat menjawab pertanyaan Ilana. Selesai mengatakan itu dia merebahkan tubuh kembali.
“Bukannya hujan mulai turun jam sembilanan ya. Sebelum itu kalian ngapain? Fal!”
“Biarin aja, Na. Sepertinya mereka kelelahan.” Martin menghentikan interogasi Ilana yang menggebu.
“Iya ih, nggak pengertian banget.” imbuh Jesi. “Ayo Tin, kita turun ke pantai.” ajak Jesi kemudian.
Mendengar komentar dua orang itu, membuat Ilana beringsut membalik badan menghadap perapian. Tanpa berkata kata, Ilana lalu menyalakan api di bekas perapian semalam. Untuk menghabiskan kayu yang masih tersisa.
Falah terbangun ketika mencium aroma kopi menusuk hidung. Mata yang semula lengket perlahan membuka. Mengerjap-ngerjap, sambil hidungnya mencari sumber harum kafein. Begitu melihat target sasaran, tangannya segera meraih gelas berisi cairan hitam yang berdiri dekat Ilana.
“Ah, langsung terang benderang!” seru Falah.
“Ayo kita sarapan,” ajak Ilana bertepatan dengan kedatangan Martin dan Jesi.
Jesi segera merapat ke Ilana. Martin mendekat ke Falah yang sedang berusaha membangunkan Bima. Tanpa menunggu Bima terjaga, mereka memulai sarapan pagi berteman suara air yang memanjati daratan.
“Fal, bisa kamu ceritakan yang terjadi semalam?”
“Yah, perkiraan Bima agak meleset mencapai tempat sumber air. Mungkin karena hari udah gelap dan kami nggak tahu letaknya secara pasti. Kami mencari ke sana kemari. Itu yang lama.” Falah menyuap macaroni rebus dan mengunyahnya. “Setelah ketemu dan mengisi semua botol, hujan desar turun, kan. Berhubung kami nggak bawa mantel, makanya kami memutuskan menunggu hujan reda di gubug yang tak jauh dari sumber air tersebut. Dan ketiduran.” cengiran lebar tertampil di wajah Falah.
“Kalian sampai tenda jam berapa?” tanya Ilana.
“Sekitar jam duaan.” sahut Falah dengan mulut penuh makanan.
“Ilana benar-benar mencemaskan kalian.” kata Martin. “Takut kalian tersesat."
“Nggak mungkin kami tersesat.” cetus Bima sambil mengucek mata.
“Jangan sombong, Bim!” runtuk Ilana.
“Kami bawa kompas, tau!” balas Bima. “Arah tenda udah kami tandai.”
__ADS_1
“Iya, tapi nggak boleh berkata macam itu.”
“Macaroninya, Bim.” Falah langsung menyodorkan nesting yang masih tersisa untuk Bima.
“Cepat habiskan! Kita harus berkemas dan melanjutkan perjalanan.”
“Santai aja, Bray.” sambut Bima tak terpengaruh ucapan Ilana.
“Lebih cepat lebih baik sih, menurutku. Aku udah ingin pulang rumah.” kata Jesi kali ini membela Ilana.
Bima terdiam. Lupa kalau dia membawa dua orang yang tidak tergabung dalam tim penyusur pantai. Menurutnya agak merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin mengantar keduanya ke teluk penjemputan. Lagipula, keduanya juga ngotot ingin ikut.
Pukul delapan, mereka berlima mulai merayapi jalan yang semalam dilewati oleh Bima dan Falah. Mendekati sumber air ada jalan setapak terpampang lagi. Jalur yang mereka susuri tidak terlalu menanjak. Kanan-kiri berhias tanaman pandan berduri dan rerumputan jarum pendek.
Hingga tiba di gubuk dekat dengan sumber air. Bima dan Falah kembali mengisi botol-botol yang kosong. Sementara yang lain menunggu sambil leyeh-leyeh di gubuk.
Sepuluh menit kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalur menjadi datar, sepertinya mereka melewati satu puncakan bukit yang panjang. Makan siang digelar. Termasuk sholat dan istirahat agak lama.
Yang namanya di puncak bukit pasti ada saat naik dan turun. Kini langkah kelima menuruni punggungan yang terjal dan curam. Kalau biasanya Bima, Ilana dan Falah turun sambil berlari, saat mendaki gunung, semenjak ada pengikut Jesi juga Martin, ketiganya banyak menginjak rem. Berakibat perjalanan mereka sedikit memakan waktu.
Tidak sesuai dengan perkiraan Bima tiba di Solok Djewata tengah hari. Kenyataannya pukul dua nuansa kebiruan baru terjelang. Jadi tidak bisa ishoma bersama riuh ombak deh. Mereka terpaksa makan siang nyempil-nyempil di antara turunan.
Pantai Djewata juga memiliki pasir putih. Hamparan karang menyembul di antara riak yang bergulung-gulung. Mendekati ujung pantai sebelah timur terdapat gubuk kayu yang menampakkan siluet orang sedang berada di dalam.
Jesi menjadi girang. Tak dinyana dia telah berlari menyongsong si gubuk dan orang yang terdeteksi sebagai nelayan. Terlihat dari kesibukannya merangkai satu buah jaring berbentuk kotak.
Sapaan salam dari Jesi sedikit mengagetkan bapak setengah baya yang kulitnya legam. Dia memandang satu persatu rombongan dengan sorot mata heran campur tidak percaya. Sangat beda dari tatapan Jesi yang berbinar-binar.
“Palatar Agung.”
“Mana itu, Pak?” tanggap Jesi.
“Pangandaran.”
“Jauh amat!”
“Ke sini pakai perahu?” Jesi masih melakukan tanya jawab bak wartawan.
“Dari teluk sebelah Rancah. Ke sininya jalan.”
“Kapan Bapak pulang?” buru Jesi.
“Besok kalau dapat tangkapan banyak langsung pulang. Bisa juga lusa.”
“Balik besok aja ya, Pak. Kami ikut.” pinta Jesi dengan mimik memohon.
“Memangnya kalian sedang apa di sini?” tanya Hanta. Bapak nelayan yang menyebutkan namanya setelah mereka saling memperkenalkan diri.
Martin pun menjelaskan secara singkat. Dan Pak Hanta mengangguk seolah tahu tentang mereka.
“Saya dengar tentang kalian. Saya pikir, sudah ketemu. Ternyata belum. Sebenarnya dari sini ada jalan setapak sampai ke teluk penjemputan.”
__ADS_1
“Tapi kami nggak menemukan jalannya, Pak.” ujar Martin.
“Karena itu, Pak, tolong antar kami.” sambung Jesi masih pantang menyerah meminta bantuan pada Pak Hanta.
“Waduh, gimana ya?” Pak Hanta menggaruk pelipis kanannya. “Saya belum dapat tangkapan. Anak istri nanti makan apa?”
Jesi langsung lesu. Martin juga berwajah sendu. Hanya gerombolan Bima yang tampak tenang-tenang saja.
“Kita coba lihat besok? Saya bisa antar kalian atau tidak.”
“Beneran?”
“Setelah saya dapat tangkapan.”
“Syukurlah, Tin. Kita selamat.” Jesi meraih tangan Martin meremasnya kuat. “Berarti kita berkemah di sini!”
Bima, Ilana dan Falah saling pandang. Menurut mereka hari masih cukup siang untuk berkemah. Masih pukul setengah tiga. Jika jalan bisa dapat setidaknya satu kilometer, yah, minim limaratus meter lah, berhubung menggunakan patokan langkah kaki Jesi. Lumayan menghemat waktu tempuh hari berikutnya.
“Ya, deh.” tiba-tiba Bima mengambil keputusan di luar dugaan. “Tak ada salahnya hari ini kita beristirahat lebih lama. Tapi besok kita harus kebut, Na, Fal.”
“Siyap grak!” sahut Falah tak ada masalah.
“Terserah kamu aja.” kata Ilana akhirnya.
“Makasih, teman-teman.” kata Jesi tersenyum lebar. “Malam ini akan jadi malam perpisahan kita, ya.”
“Jadi cuma berdua yang mau ikut pulang?” tanya Pak Hanta yang sedari tadi menyimak percakapan anak-anak sambil memperbaiki jala dengan kerangka berbentuk kotak.
“Cari ikan apa Pak, pakai jala seperti ini?” tanya Falah yang sudah mulai merekam.
“Cari lobster.”
“Oh, pakai umpan juga.” Falah mendekatkan kamera pada jaring yang bagian tengahnya tergantung sesuatu. “Apa itu, Pak? Ikan?”
“Iya, ikan yang masih segar.”
“Terus ini pancingan apa?” tunjuk Falah pada pancingan berkail empat yang tergeletak tak jauh dari pak nelayan.
“Itu untuk mancing lobster juga.”
“Uwoh...” Falah terlihat sangat takjub.
Ilana sebenarnya ingin mempertanyakan perihal larangan penangkapan lobster secara asal macam ini. Namun, demi teringat bahwa bapak ini mencari nafkah dari mendulang lobster, untuk anak istrinya. Kata-kata yang akan meluncur tertahan di mulut.
Lagipula Falah sudah gantian jadi wartawan dadakan. Bima dan Ilana lalu menandai bakal area kemah mereka. Tepat di belakang gubug yang sedang Pak Hanta duduki sekarang.
Sekitar pukul tujuh, Pak Hanta berangkat menuju tempat penangkapan lobster di antara titian batu karang yang menghampar. Bima dan Falah turut serta karena penasaran. Belum lagi Pak Hanta dapat tangkapan, keduanya telah menyerah kembali ke tenda. Sedang Ilana, Martin dan Jesi terlibat percakapan yang menurut Ilana agak membosankan.
__ADS_1