Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Pantai Harapan Baru


__ADS_3

Arah bidikan kompas mengarah menuruni lereng curam. Kemiringannya mirip perosotan sehingga Jesi menggunakan pantat saat melaluinya. Tidak peduli pantatnya menjadi kebas. Padahal Ilana sudah memperingatkan agar berjalan dengan kaki bukan dengan cara merosot. Dan Falah siap sedia menuntunnya dari depan, sedangkan Martin siaga di belakang. Jesi bergeming. Kengeriannya melupakan akibat dari jalan ngesot macam itu. Selain kebas, rawan terluka bila tak sengaja terkena akar yang mencuat menggores kain yang melapisi atau kulit daging.


Jalan ala perosotan akhirnya menemui ujung. Jesi pun berdiri menepuk-nepuk pantatnya yang mulai terasa pegal. Bima memberi waktu anggota tim untuk menghela nafas.


Selanjutnya mereka kembali menuruni dataran landai yang membawa kelimanya pada sungai dengan aliran kecil. Di sini persediaan air langsung diisi. Sebelum melangkah lagi mengikuti arah sungai menurun.


Lumayan terjal, dengan batu-batu sebagai pijakan kaki. Salah melangkah, kaki bisa melesat menggerus lumut yang setia menyelubungi batuan. Atau malah kaki menapak antar celah batu yang menyebabkannya terjepit.


Sekitaran sungai terasa lembab. Matahari hanya sedikit memberi sinar karena rimbun pepohonan memayungi dengan sempurna. Ilana sedikit khawatir, lintah akan menggerayangi kakinya. Dan sebaiknya dia tidak mengatakan apa pun tentang kecurigaannya itu. Bisa heboh Jesi kalau tahu.


Namun beberapa tapak kemudian sesuatu yang terang di depan mengangakan kelima anak yang mulai bosan dengan jalan berbatu. Gemerisik suara air pun turut mengisi gendang telinga yang semula berteman sepi.


Sungai semakin lebar. Bebatuan tak lagi mewarnai. Mereka memilih tepian sungai sebagai pijakan, meski sungai tampak dangkal. Bima menduga ini sebagai muara. Tempat pertemuan antara air laut dengan air tawar daratan. Rasa yang terkecap perairan di situ tentu ada asin-asinnya.


Bima segera berlari menghambur ke arah cahaya. Menyulut gerakan sama dari Ilana dan Falah. Ketiganya telah menyongsong sang lautan yang menghampar di depan.


Teluk yang baru saja mereka temukan, tak memiliki hamparan pasir luas. Secara serempak mereka berteriak seakan ingin mengalahkan gemuruh ombak. Puas melampiaskan kegembiraan, Falah mengambil tasnya yang tergeletak di pasir putih keabuan. Kamera langsung dia nyalakan, untuk merekam suasana Solok Besek, sebagaimana nama yang tertera di peta yang Bima bawa.


Sementara Ilana setelah ikutan menghambur ke pantai, dia merebahkan tubuh telentang di atas pasir. Seluruh penat seolah meluruh membaur menjadi butiran halus yang mengalasi.

__ADS_1


Di sisi lain, Jesi membersihkan diri di muara sungai bersama dengan Martin. Kemudian keduanya memilih berjemur tak jauh dari Ilana yang masih telentang.


Bola siang semakin berkuasa. Puas memanggang diri, Ilana mencari tempat teduh untuk memasak makan siang mereka. Tak biasanya Jesi mau mendekat menawarkan diri membantu Ilana.


“Seru ya?” kata Jesi memandang tiga cowok yang sibuk berkeliaran di antara batu karang. Tak lama kemudian mereka menyisir muara. Dari gerak tubuh, ketiganya tampak sedang mencari sesuatu.


“Memang.” jawab Ilana singkat.


Falah tiba-tiba berlari ke arah dua gadis. “Bungkus mie-nya, Na!”


“Buat apa?” tanya Jesi.


“Serius?” tanggap Ilana dengan mata berbinar. Tangannya mengulurkan beberapa bungkus mie instan sebagai wadah bakal ikan yang tertangkap.


“Aku mau melihat mereka.” kata Jesi sudah berdiri lalu menguntit langkah Falah.


Ilana tidak memberi reaksi. Fokus pada pasta yang terlihat hampir matang. Sembari menunggu pasta enak makan, Ilana mengecek persediaan perbekalan mereka. Mie instan tersisa 7, bihun instan masih ada 8, havermut tinggal dua kali makan, pasta 3 bungkus, dan syukur masih banyak stok agar-agar dan jeli. Kalau memperhitungkan jumlah kali makan, setidaknya mereka bisa bertahan sampai 2 hari lagi. Sisa hari semisal belum sampai Permisan, mereka harus survival.


Tapi Ilana sedikit lega, di tas Bima ada 2 kaleng sarden. Nah, itu bisa untuk hari penghabisan, selain makan jeli atau agar. Dan yang pasti hari ini mereka dapat asupan protein hewani, bila Bima, Falah dan Martin berhasil menangkap banyak ikan. Bukan cuma satu.

__ADS_1


Waktu ishoma kali ini lebih panjang dari biasanya. Mereka nampaknya ingin menikmati pemandangan lepas, tidak terkungkung oleh rimbun pepohonan. Apalagi ada acara bakar ikan. Setidaknya anggota cowok berhasil menangkap lima ekor ikan. Sesuai jumlah anggota tim. Dan, kebanyakan berkat usaha pantang menyerah Falah. Mereka tak sadar jika waktu terus berjalan.


Setengah dua, rombongan mulai menaiki pinggir tebing yang menyisakan tanah agak landai. Tidak mungkin mereka melipir pantai yang sepanjang penglihatan Bima berpagar batu karang.


Bima masih memimpin jalan. Kali ini panduan dia bukan lagi kompas melainkan menggunakan kontur punggungan. Pokoknya mengarah ke timur. Kompas sesekali hanya untuk mengecek bahwa langkah mereka tidak terlalu melenceng ke timur laut atau malah utara.


Selama hampir tiga jam mereka berkutat menerobos di antara semak belukar yang lumayan rapat. Siapa sangka, langkah kaki yang terseok penuh peluh, bertemu dengan sebuah jalur setapak buatan manusia. Hampir mirip jalur-jalur untuk menapaki gunung namun lebih rapi dan terbuka. Tepatnya seperti jalan saat akan menuju ke Rancah Babakan dari teluk kecil.


Bima mendesah lega. Ilana menatap seakan tidak percaya. Falah berdecak kagum. Sementara Jesi dan Martin menguntai senyum gembira.


“Kita akan lewat jalan setapak ini kan?” tanya Jesi penuh harap.


“Iya, jalur ini yang akhirnya Om Raka susuri.” sahut Bima. “Yuk, kita lanjut.”


“Ah, syukurlah.” terdengar Jesi bergumam lega.


Falah, tentu saja tidak ingin melepas begitu saja memori pertemuan dengan jalan setapak tersebut. Dia menyempatkan merekam. Setengah berlari, Falah menyusul rombongan yang telah berjalan lima meter darinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2