Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Terciduk


__ADS_3

“Hoi, kalian!” suara laki-laki seiring derap langkah kaki mengagetkan Bima, Ilana dan Falah yang baru selesai berkemas. Ketiganya spontan menoleh pada sumber suara. Beberapa lelaki langsung mengepung.


“Kalian anak-anak yang tersesat?” tanya seorang Bapak bertopi rimba cokelat.


“Dari SMA Nusantara Semarang?” belum sempat menjawab, berondong pertanyaan lain memburu tiga anak seperti pencuri yang tertangkap.


“Iya, Pak.” sahut Ilana cepat. “Dan dua teman kami yang lain sangat perlu pertolongan.”


“Kenapa?”


“Di mana?”


“Mereka bersama dua orang yang nampaknya pelarian dari salah satu lapas.” terang Bima.


“Oh, kalian bertemu mereka? Di mana? Kapan?”


“Dekat Nusa Bancak. Sehari yang lalu. Benar ada tiga, Pak, yang melarikan diri?” Bima memastikan.


“Menurut data hanya dua orang.”


“Maaf, apa mereka berdua napi tindak pidana korupsi dan terpidana mati karena kasus narkoba?” Falah bertanya.


“Benar,” sahut Bapak bertopi rimba.

__ADS_1


“Lalu yang satunya lagi siapa?” gumam Falah.


“Mungkin penjemput mereka.” sahut Bapak yang lain.


“Jadi sudah direncanakan rupanya.” kata Bapak yang mengenakan kaos dimasukkan rapi. Dari potongan rambut dan tubuh nampaknya anggota polisi. Dia tampak menggeram.


“Itu juga membuat kami heran. Mereka punya tenda untuk bermalam. Termasuk perbekalan.” Bima menambahkan informasi.


“Kami pikir mereka beneran nelayan, seperti pengakuan salah satunya. Ah, ternyata.” dengus Falah.


“Sejak awal aku sih, udah curiga.” Ilana menyahut. “Lalu dua teman kami....” mata Ilana mulai berkaca-kaca.


“Tenang, orang-orang kami sedang mengejar mereka.” kata Bapak itu lagi. “Kami tim penyisir kedua. Tim yang menyisir jalan setapak. Ternyata mereka berani lewat jalan ini.”


Bapak itu mengangguk. “Kami juga melakukan penghadangan di teluk sebelah Rancah. Hanya itu satu-satunya jalan keluar mudah. Kecuali mereka mau masuk rawa, maka tim kami pun melakukan patroli ke sungai-sungainya.”


“Kira-kira sudah terkejar belum, Pak?” Ilana memberanikan diri bertanya. Lidahnya terasa kelu. “Semoga mereka berdua baik-baik aja?”


“Kami sedang mengupayakan. Tim pencarian sudah dikerahkan sejak mereka menghilang. Termasuk mencari keberadaan kalian.”


“Kalian baik-baik aja?” tanya Bapak bertopi rimba lagi.


“Alhamdulillah, Pak.” sahut Falah berbarengan dengan anggukan kepala dari Bima dan Ilana.

__ADS_1


“Syukurlah,”


“Gimana ceritanya kalian sampai ketinggalan perahu?” tanya seorang yang mengenakan celana pendak taktikal. “Dan, keadaan kalian nampak baik-baik saja.”


Bima, Ilana dan Falah saling pandang. Ada rasa enggan ingin menjelaskan. Mereka terlalu lelah untuk mengulang kata tentang perjalanan yang di luar perkiraan.


“Sebaiknya langsung bawa mereka ke Permisan,” kata Bapak yang terduga polisi. “Kita bisa menanyai mereka di sana. Dan, sebaiknya kalian melanjutkan menyapu jalur lagi.”


“Siap, Pak.” jawab Bapak bertopi rimba. “Ayo, kita jalan ke sana.” ajaknya mengarahkan Bima dan dua temannya pada jalan yang baru saja mereka lalui.


Ketiga anak itu menurut saja setelah menghempas nafas lega. Setidaknya berilah kami waktu untuk sekedar menghirup aroma aman.


“Kalian sudah makan?” seorang Bapak bertubuh tambun bertanya. Dia yang memimpin jalan.


“Sudah, Pak.” sahut ketiganya.


“Jangan sampai pada pingsan.” ujarnya lagi mencoba berkelakar.


Bapak bertubuh tambun menuntun langkah anak-anak melewati lereng landai dengan jalan setapak jelas. Pepohonan tinggi menaungi lamat-lamat. Sinar sore kadang lebih terasa membakar. Kurang lebih dua puluh menit kemudian mereka sampai di Pantai Permisan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2