Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Viral Jejak Perjalanan Dan Sanksi


__ADS_3

Benar dugaan Ilana, sekolah benar-benar gempar terkait kasus menghilangnya mereka bertiga. Begitu kaki Ilana menginjak pelataran sekolah bisik-bisik menguar menghunus padanya. Ada yang bernada simpati, ada pula yang menyayangkan, bahkan yang menghujat pun tak sedikit.


“Itu tuh, salah satu anak yang hilang di Nusakambangan.”


“Kasihan.” bisik suara lain.


Atau ada pula yang mencibir. Dan berbagai gosip lain yang tidak benar.


“Kurang kerjaan banget, kabur ke Nusakambangan. Mau pada mati kali.”


“Mereka pikir artis, bikin sensasi seheboh itu.”


“Menyusahkan semua orang saja.”


Dan berbagai desingan kata-kata lain memenuhi ruang udara sekolah. Itu belum termasuk yang tersiar lewat status WA.


Ilana melangkah dengan cuek. Terserah saja apa kata mereka. Yang jelas dia, Bima dan Falah sudah mengaku salah. Dan pengalaman bertualang di ujung selatan Nusakambangan, baginya sungguh menyenangkan. Berbagai rasa silih berganti mengisi relung jiwa. Menyemarakkan warna kehidupan SMA yang sebagian besar berkisar pada putih abu-abu saja.


Senang, manakala menemukan pantai idaman. Frustasi manakala jalur yang harus tertebas tak ada habisnya. Ketegangan, saat melarikan diri dari narapidana yang kabur dan bermaksud menyandera. Pilu, kala harus berpisah dari kawan sejalan seperjuangan. Bahkan, rasa tak berdaya ketika ular besar memeluk tidur nyenyak yang bisa jadi tidur panjang mereka. Mengingat itu semua membuat Ilana merasa menang. Tak kalah dari isu yang melanda dunia sekolahnya.


Memasuki ruang kelas, beberapa teman perempuan langsung mengerubunginya. Aneka pertanyaan terlontar. Ilana sampai kewalahan menjawab satu persatu.


“Kamu baik-baik aja, Na?”


“Apa benar itu udah direncanakan?”


“Syukur kalian selamat. Kalian makan apa di sana?”

__ADS_1


“Napinya serem banget ya? Kok mereka bisa kabur dari penjara?”


“Dengar-dengar kalian ketemu ular, ketemu macan dan **** hutan. Untung kalian nggak dimakan.”


“Kalian kok nggak tersesat sih? Nusakambangan kan hutannya masih lebat.”


“Trus kalian tidurnya gimana?”


Ilana hanya tersenyum melaju pelan ke tempat duduknya. Sekilas dia melihat Bima dan Falah juga sedang mendongeng tentang petualangan mereka.


“Aku rasa ceritanya sama kayak Bima dan Falah.” kata Ilana sambil duduk.


“Ayolah, Na. Cerita sedikit.” rayu Hani teman sebangkunya.


Ilana menghela nafas sambil memandang beberapa teman perempuan yang mengelilinginya. Wajah mereka menyiratkan penasaran.


“Ciyus, ada jalan setapaknya?” komentar salah satu teman. Dia Yeni.


“Dan napinya seperti bapak-bapak biasa, cuma satu sih, yang nampak seram.”


Teman sekelas Ilana yang perempuan mengangguk-angguk. Berbagai celoteh kembali bersahut-sahutan. Untunglah, bel tanda pelajaran mulai berbunyi. Ilana menghembus nafas lega. Mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing saat guru mapel pertama masuk ke kelas.


“Bima, Ilana, Falah, hadir?” tanya Bu Utari guru Bahasa Indonesia sebelum memulai pelajaran.


“Ya Bu,”


“Kalian bertiga silakan keluar. Pak Kepala sekolah ingin bertemu dengan kalian.”

__ADS_1


Begitu beranjak dari tempat duduk. Guru BK telah menjemput ketiganya.


Ilana sedikit bergetar. Melihat air muka Bima dan Falah yang biasa tak nampak cemas, takut atau gentar, membuatnya berpikir bahwa semua pasti akan baik-baik saja.


Pak Tohar, Kepala Sekolah SMA Nusantara menyambut mereka dengan senyum lebar. Mempersilakan ketiganya duduk diapit dua guru BK.


“Nah, terus terang saya senang kalian selamat.” katanya kemudian. “Tapi tindakan kalian yang sengaja keluar dari rombongan sungguh sangat tidak bisa kami tolerir.”


“Maaf, Pak.” sahut Bima mewakili dua temannya.


“Baiklah. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi. Hanya saya ingin memberi sanksi pada kalian. Jadi selama enam bulan ke depan, kalian dilarang berkegiatan bersama PPAN. Selain itu, kami bersama orang tua kalian memutuskan selama tiga bulan ini kalian tidak boleh keluar rumah kecuali berangkat ke sekolah. Orang tua kalian masing-masing akan mengantar jemput setiap hari.”


Bima, Ilana dan Falah menghembus nafas tertahan. Mau bagaimana lagi. Sepertinya ini menjadi impas dengan akibat yang telah mereka timbulkan. Membuat cemas orang tua. Meninggalkan masalah bagi sekolah dengan hujatan teledor mengawasi anak-anak, yang berarti mencoreng nama baik sekolah. Dan juga telah merepotkan berbagai pihak mulai kepolisian, tim SAR dan petugas lapas.


Keluar dari ruang kepala sekolah ketiganya melangkah tanpa berkata-kata hingga belokan menuju kelas mereka. Masing-masing berpikir mengenai hukuman yang akan mereka terima nanti. Tidak buruk juga sih. Masih beruntung tidak dikeluarkan.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2