
Satu semester berlalu dengan lamban. Setidaknya itu yang Bima, Ilana dan Falah rasakan. Tanpa angan, rencana melakukan perjalanan yang menumbuhkan semangat ingin segera menghabiskan hari. Tanpa adrenalin yang mengentak-entak menerbitkan asa baru. Terlalu monoton cenderung membosankan. Pergi sekolah, pulang, mendekam di rumah, tidur, bangun, ke sekolah lagi. Apalagi akhir pekan menjadi terasa semakin suram.
Tapi minggu ini setelah UAS berakhir, bertepatan dengan selesainya hukuman tak boleh pergi ke alam bebas. Bima mengundang Ilana dan Falah ke rumahnya.
Di teras Bima langsung menyambut keduanya dengan senyum lebar. Mempersilakan Ilana dan Falah masuk ke ruang tamu yang di mejanya telah tersaji minuman beserta camilan. Selain itu di lantai beralas karpet nampak bertumpuk-tumpuk buku agenda yang terlihat sudah usang.
Ruang tamu Bima yang luas dengan kursi dudukan tinggi membuat Ilana dan Falah segan memasukinya. Pada sudut ruangan terdapat tanaman monstera dalam pot. Tanaman berdaun lebar dengan aksen lubang-lubang mirip sobekan. Sementara buffet yang menjadi pembatas ruang sebelah berderet tanaman jenis sukulen sansiviera atau lidah mertua dalam mangkuk warna-warni. Ada sensasi segar begitu masuk ruangan meski tanpa hembusan AC. Bagi Ilana dan Falah ini merupakan pengalaman pertama bertandang ke rumah Bima.
“Aku nggak nyangka kamu anak orang kaya, Bim.” cetus Falah begitu meletakkan pantat di kursi. Matanya masih berkeliaran melihat situasi rumah Bima yang terkesan mewah.
“Orang tuamu mana, Bim? Kok sepi.” tanya Ilana yang mengambil duduk berseberangan dengan Bima.
“Mereka sedang menghadiri resepsi pernikahan teman kantor papa.”
“Terus yang nyiapin ini, ART?”
“Mamaku sebelum berangkat. Silakan minum dulu, atau makan apa yang kalian suka.” kata Bima untuk mengurai kecanggungan dua temannya.
“Kamu benar-benar seperti pangeran pewaris tahta satu-satunya.” celetuk Falah yang akhirnya berdiri melongok-longok bagian dalam rumah Bima yang memang besar.
“Bukan itu intinya. Aku sengaja mengundang kalian ingin memamerkan sesuatu yang lebih berharga dari yang kalian lihat.” Bima menepuk tumpukan buku agenda yang tepat berada di depannya.
“Buku agenda siapa?” tanya Ilana langsung.
“Om Raka.” sahut Bima bangga.
“Terus?” Ilana menuntut penjelasan lebih lanjut.
“Pe-er kita masih banyak. Buku agenda ini akan menjadi penuntun langkah kita.”
“Banyak banget.” Falah sudah duduk di karpet seolah ingin merengkuh semua buku. “Berapa lama kita akan menyelesaikannya?”
“Dua tahun tersisa nggak akan cukup.” lontar Ilana. “Libur kita terbatas.”
“Stay woles Bray, kita selesaikan satu-satu semampu kita.” kata Bima. “Yang penting ada kesepakatan kalau kita akan menjelajahinya bersama. Meski sampai kita sudah jadi mahasiswa.” jeda sejenak. Bima memandang pada Ilana dan Falah. “Aku ingin kita menjadi Tim Palas Raka.”
“Apaan tuh?” balas Falah cepat.
“Tim Napak Tilas Raka Blantara.” ucap Bima mirip orang baca UUD 45.
Ilana tersenyum beraroma geli. Falah, mengerjap-ngerjap meresapi untaian kata Bima yang bak mantra baginya.
__ADS_1
“Kita akan menapaki setiap jejak langkah yang pernah Om Raka ukir di sana.”
“Woke, kedengarannya keren.” Falah akhirnya menyetujui usul Bima.
Mata Bima menelisik Ilana. Menanti sebuah jawaban darinya. Dia sangat berharap kawan ceweknya ini akan setuju. Terlebih Ilana sudah telanjur dia sebutkan dalam setiap catatan perjalanannya di blog Palas Raka.
“Boleh juga,”
“Yosh!” Bima mengepalkan tangan kanan setinggi dagu. Selanjutnya dia mengulurkan tangan kiri dengan telapak tangan menghadap atas pada Falah, yang masih lesehan sambil mengamati buku, dan tangan kanan dia Falah segera menyambut uluran tangan itu dengan menepuk keras telapak tangan Bima seperti orang melakukan toas. Melihat gerakan Falah, Ilana yang duduknya agak jauh dari Bima beringsut mendekat melakukan hal yang sama.
“Selanjutnya apa rencana kita?” tanya Falah.
“Menyelesaikan penjelajahan di Nusakambangan.” lagi-lagi Bima sok berpuisi. “Nusakambangan sisi timur telah menanti kita.” Bima mengangkat satu buku agenda lalu menyodorkan ke Falah.
“Woa... sepertinya bakal seru nih.”
Ilana tidak berkomentar. Dia malah mengambil buku agenda lain yang berada di bawah buku yang kini berada di tangan Falah. Judulnya ‘Ekspedisi Pantai Nusakambangan 2’. Membuka lembar demi lembar dan menemukan perjalanan mencekam Om Raka sewaktu terjebak di rawa.
Membaca kalimat menuju paragraf membuat Ilana seakan merasakan kesulitan yang Jesi dan Martin rasakan. Pasti berat. Apalagi mereka bukan pecinta alam. Tidak ada persiapan fisik sebelum terjun ke sana. Om Raka saja yang sudah menyiapkan fisik dan mental kocar-kacir, pastilah Jesi benar-benar berasa telah mendekati mati.
“Untung kita nggak masuk rawa.” ucap Ilana sembari mendesah panjang.
“Justru aku ingin masuk ke sana.” tanggap Bima.
“Menurutku, timing mereka saat mencebur ke rawa kurang tepat.”
“Maksudmu?”
“Kalau Om Raka menjelajah saat pasang pasti tidak akan sesulit itu. Air akan membantu pergerakan. Pada bagian itu aku nggak ngerti, apa memang karena mengejar target waktu hingga mereka nekat menerobos lumpur saat surut. Entahlah, yang pasti penjelajahan rawa memang tidak harus dengan beban berat. Perbekalan dimuat di perahu. Jadi memang ada semacam tim pendukung yang membantu tim penjelajah.”
“Kenapa nggak kamu tanyakan pada Om Raka?” buru Ilana.
“Itu karena...”
“Kapan-kapan mau coba ke rawa?” potong Falah tiba-tiba.
“Di Puri Maerokoco aja.” sahut Ilana.
“Baiklah, liburan nanti mari kita invasi Nusakambangan sisi timur.” ucap Bima mantap memutus pembicaraan yang melenceng dari topik utama.
“Kamu yakin kita akan dapat ijin ke sana?” sangsi Ilana. “Dari orang tua kita maksudku. Yah, mengingat kejadian yang telah kita timbulkan waktu itu.”
__ADS_1
“Tenang Na, kemujuran selalu berpihak pada kita.” sorot mata Bima menyala. “Kebetulan, papaku liburan besok ada acara di Nusakambangan. Jadi mentor pelatihan kantornya. Sempurna bukan. Papaku bisa memintakan ijin pada orang tua kalian.”
“Tapi…”
“Yang pasti,” potong Bima cepat sebelum Ilana nyerocos menyanggah. “Kita akan melakukan penelusuran pantai di sana setingkat ekspedisi. Maksudnya dengan peralatan dan perbekalan yang standar. Pakai tenda dome misalnya, dan makanan dengan perhitungan kalori yang cukup. Tidak asal seperti penjelajahan kita sebelumnya.” Bima mengambil nafas. “Dan, kita nanti nggak sendiri. Ada yang akan memandu kita. Dijamin aman.”
“Siapa?” tanya Ilana.
“Itu rahasia.”
“Om Raka?” tebak Ilana.
Bima hanya tersenyum simpul. Sementara itu Falah manggut-manggut seolah tahu siapa orang yang akan memandu mereka.
“Deal?” Bima mengacungkan tangannya ke depan dalam posisi terbuka. Tangan kanan Falah langsung menyambut tanpa ragu. Sedangkan tangan kirinya masih menyangga buku agenda bertuliskan Ekspedisi Pantai Nusakambangan 1.
Ilana masih belum bisa memutuskan. Dia hanya diam menghela nafas menatap secara bergantian antara Bima dengan Falah.
**
Epilog
Salam Palas Raka!
Temans, kalian pernah dengar tentang Pantai Karang Pandan, atau Pantai Kencana yang kata orang molek nian? Ya, dua pantai itu merupakan salah dua pantai yang berada di Nusakambangan sebelah timur.
Jauh sebelum orang tahu mengenai keindahan pantai di Nusakambangan, Om Raka telah meninggalkan jejaknya di sana. Bukan hanya dua pantai tersebut yang menawan dari sisi timur. Ganasnya pantai selatan juga menyaji pantai-pantai pasir putih nan jernih.
Karena itu temans, aku, Falah dan Ilana, liburan nanti ingin menjenguk jejak-jejak yang pernah Om Raka tinggalkan. Melihat lewat lensa mata sendiri keindahan dari pantai-pantai yang berada pada sisi timur Nusakambangan bagian selatan.
So, nantikan petualangan kami pada bulan berikutnya.
Bima
2019
__ADS_1