Nusakambangan, Kami Datang!

Nusakambangan, Kami Datang!
Terjun Ke Pantai Kehampaan


__ADS_3

Falah mengusulkan agar bertanya pada para penebang mengenai jalan tercepat menuju Permisan. Bima menyetujui saja, tampak malas menegakkan ego yang biasanya bertahta.


Pada dasarnya penduduk lokal memang ramah-ramah. Tak pelit memberi informasi jalur yang biasa mereka lalui hingga mencapai percabangan setapak ke Permisan. Selain itu mereka juga memberi Falah ketela rebus sebagai bekal.


Ucapan terimakasih terlantun dari mulut Falah dan Ilana. Para penebang pun berpesan agar mereka berhati-hati tetap mengikuti jalan setapak, jangan sekali-kali masuk melesak dalam hutan lagi.


Ketiganya meninggalkan gubuk di atas puncakan bukit lalu mulai menelusur terobosan menuju jalan setapak. Rerumputan lebat sedikit menyingkir pada lintasan tersebut. Menurut penebang, tidak sampai satu jam mereka akan menemukan percabangan.


Jalur tidak terlalu sulit. Mereka melipir punggungan landai yang panjang. Sesuai kata Bapak penebang, sebelum keringat mengucur deras, mereka telah sampai pada persimpangan setapak yang bisa membawa mereka ke pantai berikutnya.


Bima memimpin dengan ritme langkah cepat. Maklum jalanan yang mereka titi tidak mempunyai tanjakan berarti. Terlalu landai, terlalu damai. Bima pikir bila berjalan dengan santai kantuk justru akan menyerang. Lagipula mereka harus bergegas mengingat keselamatan Martin dan Jesi.


Mendekati Ashar deburan halus memanggil jiwa yang gersang. Sesekali wawasan biru nampak di antara sela dedaunan. Bima semakin mempercepat langkah. Ilana sampai tidak bisa mengikutinya. Turunan yang kini tersaji ramai oleh batuan. Harus seksama memilih mana batuan yang aman terpijak.


Muara sungai kecil menanti mereka di bawah. Tiba di tepian sungai, ketiganya melepas sepatu lalu menyeberanginya dengan enggan. Masih dengan menenteng sepatu Bima menemui kejaran kawanan buih putih tanpa teriakan. Dia lalu duduk memegang lutut sambil memandang kilau biru merata di depan hingga batas kilaunya hilang menebar menjadi dasar kaki langit.


Seharusnya ini bukan perjalanan melelahkan. Namun entah mengapa, ini menjadi terasa berat. Ada sesuatu yang mengganduli hati. Ilana pun langsung duduk terenyak di atas pasir putih. Hanya Falah yang masih bisa mengontrol emosi, tetap dapat menikmati keindahan pantai dengan kameranya.

__ADS_1


Bima telah berdiri lalu meneruskan langkah. Ilana mengikuti segaris diagonal. Pantai putih nan bersih tak menimbulkan decak kagum berlebih. Bukan karena mulai terbiasa bertandang di pantai Nusakambangan. Melainkan, buncahan euforia telah tertutupi selubung kejadian-kejadian yang di luar perkiraan. Kehilangan teman jalan secara paksa menjadi pukulan berat bagi ketiganya. Mungkin semacam rasa menyesal mengapa mereka tidak tetap tinggal, malah memilih berlari. Mencari keselamatan diri, dengan dalih mencari pertolongan.


“Ah,” desah Ilana.


Kala memikirkan Jesi, mendadak Ilana teringat kata-katanya yang menuduh bahwa dia telah minggat. Inikah imbas dari pergi tanpa pamit. Berkegiatan tanpa memohon doa restu. Menyebabkan perjalanan mereka tidak selancar biasanya.


Sekali lagi Ilana mendesah. Desahan yang keras hingga terdengar oleh Falah saat mereka beristirahat sebelum mendaki perbukitan yang memisahkan Pantai Wlahar dengan Pantai Permisan.


“Ada apa?”


“Gimana kabar Jesi ya? Apa dia baik-baik aja.” kata Ilana tak sadar telah menghancurkan agar-agar dengan sendoknya.


“Eh,” Ilana mengangkat sendoknya. Falah segera mengambil alih nesting yang berisi agar-agar yang setengahnya telah hancur.


“Tenang, meski mereka napi, kelihatannya baik. Buktinya kasih kita makanan.” Falah mencoba meredam pikiran buruk Ilana.


“Itu semacam sogokan agar kita turut serta dengan mereka. Kalau situasi nggak aman, mereka bisa mengumpankan kita.” terang Bima. “Aku nggak mungkin salah dengar, Fal. Mereka memang merencanakan menggunakan kita sebagai tameng.”

__ADS_1


“Yah, berdoa aja. Perjalanan mereka aman.”


“Berhasil meloloskan diri maksudmu?”


“Yah, katanya ingin Martin dan Jesi selamat. Mungkin itu jalan yang terbaik. Tapi enggak tahu juga sih. Semua udah ada yang mengatur.” ucapan Falah yang suka ngawur kadang ada benarnya. Bukankah kita hanya bisa merencanakan. Sang Maha Penentu lebih kuasa atas laku manusia. Tinggal berusaha dan berdoa saja. “Sayang nih, agar-agarnya.”


“Habiskan, Fal!” ucap Bima yang sudah nggak berselera.


“Serius, Bim?”


“Apa aku masih kurang serius?”


“Woke,” kata Falah setelah mengamati muka Bima yang terlihat berkerut-kerut.


Bima dan Ilana menunggu Falah menghabiskan camilan sore yang telah dimasak tadi pagi. Ilana memandang Falah yang makan tanpa mengunyah. Cepat sekali agar-agar dalam nesting kandas.


Dan satu hal yang tidak Ilana mengerti, meski tubuh Falah kecil, makannya luar biasa banyak. Mungkin perut Falah serupa kantung ajaib Doraemon bertiga dimensi atau malah mirip lubang hitam. Jadi setiap makanan yang masuk langsung hilang entah, tidak membentuk gumpalan daging atau lemak.

__ADS_1


 


 


__ADS_2