
-Kau berusaha menarik perhatian orang lain dengan segala cara. Membuat orang lain sadar, Kau selalu berusaha menyembunyikan kebusukan dari dalam dirimu agar tak tercium oleh orang lain.-
@nad_nadhira27
Jimin melihat Nara keluar dari gedung apartemennya lalu berjalan menuju ke arah mobilnya.
Sebelumnya Jimin sempat menawarkan Nara agar pergi bersama membeli dress dengan mobilnya.
Tapi Nara menolak mentah-mentah Jimin, hal itu membuat Jimin kesal dan dengan cepat sebelum Nara keluar dari apartementnya ia membocorkan ban mobil Nara.
Alhasil pasti Nara dengan terpaksa akan pergi bersamanya.
Jimin tersenyum mendapati Nara mendekat ke arah mobilnya.
"Gadis bodoh, apa susahnya menerima tawarabku untuk pergi bersama. ". Katanya.
Nara mengetuk jendela mobil Jimin, Jimin membukanya dan bertanya pura-pura tak tahu apa-apa.
"Kenapa?"
"Ban mobilku bocor, apa tawaranmu masih berlaku yang tadi?" Tanya Nara dan Jimin tersenyum langsung menganggukkan kepalanya.
Nara dengan sedikit ragu duduk dibangku mobil Jimin.
dan kejadian yang telah Jimin lakukan pada saat setiap ia duduk di bangku mobil Jimin ia teringat kembali.
Jimin dengan brengseknya selalu melecehkannya di dalam mobil ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu, kenapa kau memaafkanku? Dan kenapa kau masih berani pergi denganku berdua? Padahal bisa sajakan aku membawamu kehutan dan....." Jimin melihat Nara yang sedang asik menatap ke jalan.
"Jungkook yang menyakinkanku. Dia bilang kau melakukan itu karena obsesi dan kelainanmu. Lalu dia bilang kau sudah berobat bahkan selama 2 bulan ini kau selalu datang ke dokter pisikolog. " Jelas Nara, walau ia juga tak tahu alasan sebenarnya.
Ia juga bingung kenapa memaafkan Jimin dengan mudah.
Bahkan ia berani mengiyakan ajakan Jimin untuk balas dendam pada Daniel.
Lagi pula inilah sifat Nara, ia dengan mudah memaafkan seseorang.
Dan itu membuat ia terlihat bodoh.
Mempercayai seseorang dengan kepenuhan kepercayaan itu tidak baik.
Jimin lagi-lagi hanya tersenyum dalam diam mendengar penuturan Nara barusan.
Padahal selama 2 bulan itu ia pergi ke paris untuk hang out ke Bar atau Pub yang terkenal diparis, mencicipi semua minuman dan beberapa wanita Paris yang bekerja di Bar.
Jimin memarkirkan mobilnya ke dalam mall besar khusus untuk dress yang di desaind oleh orang-orang ternama.
Jimin duduk sambil bermain HP menunggu Nara untuk berganti baju.
Setelah berganti baju ia menunjukkannya pada Jimin.
"Apa bagus?".
"Kau terlihat seperti sapu lidi, ganti-ganti. Bagaimana bisa kau menandingi Jihyo kalau badanmu kurus seperti itu mengenakan baju itu pula." Protes Jimin dan Nara hanya menurutinya.
Gadis bodoh memang.
"I-ini?" Tanya Nara sedikit gugup ia sedikit tidak nyaman dengan pakaian terbuka ini.
Jimin menganggukkan kepalanya."beli itu saja. Dan coba baju yang ku pilihkan. Biar aku yang bayar". Jimin mendekati Nara memberikan dress untuk Nara coba.
"Ohh shitt perfect pakai baju yang kedua saja, tapi dua-duanya ambil" kata Jimin dan Nara hanya menganggukkan kepalanya.
Baru saja Nara ingin kembali masuk ke dalam tempat ganti baju. Seseorang menahannya.
Pria itu tersenyum melihat Nara.
"Lama tak bertemu. Woahh kau semakin cantik" pria itu datang secara tiba-tiba memuji Nara.
"Wonwoo!!? " Nara terkejut sekaligus senang.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nara.
"Aku membeli tuxedo untuk party malam ini. Kau?" Tanya Wonwoo balik.
"Aku juga membeli dress untuk acara malam ini. " jawabnya santai melupakan Jimin yang terduduk masih memperhatikan mereka berdua.
"Ah iya aku baru ingat kau juga, kau menghiasi majalah Fendi kan? Kalau begitu kita akan bertemu. Kebetulan sekali aku ingin mengajakmu pergi bersama tapi aku diwajibkan pergi bersama member yang lain".
"Lalu kau sama siapa akan pergi?" Tanya Wonwoo antusias.
Nara melirik Jimin yang tersenyum padanya.
Wonwoo terkejut ia langsung menghampiri Jimin. "Annyeonghaseyeo Sunbaenim. " Wonwoo menyapa Jimin sopan.
__ADS_1
Jimin hanya tersenyum.
"Kalau sudah kita harus pulang" kata Jimin pada Nara, dan dengan terburu-buru Nara pamit pada Wonwoo.
..
.
..
Acara malam ini segera di gelar. Sebenarnya ini hanya acara makan malam bersama, tetapi karna ini fhasion Fendi. Mereka diwajibkan menggunakan pakaian dress party bermerek Fendi.
Sangat banyak wartawan di luar sana. Nara terlihat khawatir untuk keluar dari mobil.
"Bagaimana tanggapan orang nanti kalau aku keluar denganmu dari satu mobil". Tanya Nara takut, karena setaunya fans BTS itu sangat sensitif mengenai membernya.
Bagaimana jika ia diserang.
"Semua orang tahu kau hanya mantan staffku. Dan lagipula tak mungkin fansku menyerangmu, dia tahu kau staff pribadiku dulunya. Yoongi dan Suran saja tak diserang karena pekerjaan".
Semoga saja ucapan Jimin benar.
Jimin dan Nara turun dari mobil, seketika seluruh wartawan dan fotographer menghadap ke arah Jimin dan Nara.
Jimin menggenggam tangan Nara untuk berjalan di red carpet bersama.
Dan tak lama dari itu sebuah mobil van hitam berhenti.
Nara menatap pria itu yang datang bersama pasangannya yang baru.
Daniel dan Jihyo.
Nara semakin mengeratkan genggamannya pada Jimin. Ia berusaha untuk tegar melihat Daniel tersenyum menyapa wartawan.
Jihyo juga ikut tersenyum menyapa wartawan.
Karena tatapannya masih terpaku pada Daniel.
Nara menatap Daniel sangat lama ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Daniel.
Kenapa semua ini terjadi?
Apa kau benar-benar mencintainya?
Apa kau merindukanku? Karena aku selalu merindukanmu.
Apa kau sudah lupa padaku?
Atau...
Apa kau benar-benar tak mencintaiku?.
Lamunannya terhenti ketika Jimin merangkul pinggang Nara untuk berjalan masuk.
Setelah para tamu memasuki aula acara mereka duduk ditempatnya masing-masing.
Ada banyak orang yang Nara kenal datang ke acara itu. Mereka duduk dalam satu meja.
"Woah... Jimin sunbae benar-benar. Sekarang Jimin menjadi tranding topik nomor 1 dimana-mana" kata Ha Sungwoon.
"Jimin menggandeng seorang wanita cantik, artis pendatang baru". Jelas Sungwoo membuat orang-orang yang duduk satu meja dengannya bertepuk tangan.
Tapi Jimin hanya merespon dengan tersenyum seolah-olah itu bukan apa-apa.
Padahal dalam hati ia senang sekali karena telah mengalahkan Daniel yang namanya penjadi nomor 2 di pencarian.
Jimin spontan menggenggam tangan Nara yang gugup. Kedua tangannya memperbaiki poni Nara.
"Kenapa?" Tanya Jimin dengan suara yang manis.
"Justru kau yang kenapa? Lepaskan genggaman tanganmu Jimin!" Bisik Nara pada Jimin tapi Jimin hanya tertawa.
"Tenang tidak ada wartawan disini. Privasi terjamin jika sudah didalam."
Nara berusaha melepaskan tangan Jimin, walau ia tahu Jimin menggenggamnya karena ingin memperlihatkan pada Daniel, bahwa Nara baik-baik saja tanpa Daniel.
Tapi tidak dengan Nara. Ia sedikit singku di genggam oleh Jimin.
"Jimin aku ingin ke kamar mandi" dan Jimin hanya menganggukkan kepalanya.
Nara melangkah melewati Daniel tanpa menatapnya seolah-olah mereka tak saling kenal.
Saat ingin ke kamar mandi ia bertemu dengan Lucas dan Jeno.
__ADS_1
Dan mereka berhenti sejenak berbicang sambil tertawa.
Perbincangan mereka di awasi oleh Jimin dari tempat duduknya menatap ke arah mereka kesal.
di tambah ia mendengar Daniel meminta izin pada Jihyo ingin ke kamar mandi.
Jimin tersenyum sinis ia yakin Daniel ingin menemui Nara.
Tapi Jimin tak akan membiarkannya.
Dengan cepat ia menyusul ke arah Nara.
Setelah sampai di area taman belakang yang sangat sepi Nara terkejut melihat Jimin mendatanginya berjalan cepat.
Dan ia kembali teringat bagaimana Jimin hampir menghancurkannya dengan tatapan wajah itu.
Nara sedikit takut melihat Jimin berjalan ke arahnya dengan wajah yang terlihat marah.
Wajah yang ia gunakan saat melecehkannya.
Ditambah area kamar mandi tidak ada orang dan terletak di belakang.
Spontan kedua kakinya memundur.
Jimin menarik tangan Nara lalu memeluknya.
Nara sedikit bingung apa yang terjadi. Dan saat melihat Daniel menatap kecewa pada Nara membuat ia sadar.
Jimin memeluknya karena ingin memperlihatkan pada Daniel.
Jimin melepas pelukan Nara yang masih bengong menatap Daniel yang juga menatapnya.
Daniel terlihat kecewa mendapati Jimin dan Nara berpelukan.
dan Nara merasa seperti ia perempuan jahat sekarang.
Padahal bukannya seharusnya ia senang dendamnya sudah terlaksana sekarang.
Ia sudah menunjukkan pada Daniel kalau ia juga bisa melakukan hal yang sama dilakukan oleh Daniel padanya.
Tapi kenapa Nara merasa semua ini salah, apa lagi dengan tatapan Daniel yang terlihat kecewa.
Kenapa ia terlihat kecewa??
Kenapa?
Bahkan saat Jimin tiba-tiba mencium bibir Nara dengan panas di hadapan Daniel.
Jimin menghisap bibir Nara dengan semangat sambil menampilkan smirknya.
Jimin tahu bahwa sekarang Daniel melihat ia menciumnya.
Daniel yang melihat adegan itu mengepalkan kedua tangannya ingin segera meninju Jimin.
Namun ia hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Lalu pergi meninggalkan area itu.
Nara mendorong kasar Jimin.
Plakk!!!
Nara menampar Jimin "kau gila!! Kenapa kau menciumku!!" Kata Nara memundurkan langkahnya menjauhi Jimin.
Jimin berusaha untuk tidak marah dihadapan Nara.
Ia berusaha ber akting bersalah padanya. "Ma-maaf... aku salah maafkan aku. Aku juga tidak tahu kenapa aku dengan bodohnya menciummu."
Jimin menahan tangan Nara. "Maaf aku benar-benar minta maaf. Kau bisa menamparku lagi sebagai balasan tapi jangan marah lagi padaku.. hmm?aku tahu tadi aku salah.".
Nara yang melihat Jimin meminta maaf dengan tulus hanya menganggukkan kepalanya.
"Kuharap kau tahu batasan Jimin. Dan ayo hentikan sandiwara ini, aku sudah tak dendam lagi dengan Daniel. Mari selesaikan semuanya sekarang. Mari tidak bertemu lagi dan menjadi orang asing. Anggap saja kita tak pernah saling kenal.". Kata Nara lalu meninggalkan Jimin.
Tangan Jimin yang ada didalam saku celananya mencengkrang dengan kuat.
Berusaha untuk tidak menerjang Nara, atau menjambak rambutnya menyeretnya masuk ke dalam mobil lalu menyiksanya.
Jimin berusaha untuk tenang.
"Kau hanya memanfaatkanku. Tapi kau belum membayar Nara. Permainan kita belum selesai".
.
.
TBC
TO BE CONTINUE.
__ADS_1