
Seluruh undangan sudah tersabar kemana-kemana. Bahkan...
Daniel juga mendapatkan undangan pernikahan tersebut.
Aku tak tahu bagaimana reaksinya setelah membaca undangan pernikahan kami...
" Tolong lebih dekat lagi... " suara teriakan sang fotografer menyadarkanku dari lamunanku.
Ia mengisyarakatkan agar Jimin lebih mendekatkan wajahnya dengan wajahku.

Aku berusaha tersenyum sebaik mungkin, begitupun dengan Jimin yang terlihat sangat senang sekali.
" okay selanjutnya.... " perintah sang fotografi lalu banyak staff memabntu kami berdua harus seperti apa posisinya agar terlihat cantik di kamera.

*anggep jimin y guys:")
Aku memandangi diriku yang menggunakan dress putih panjang, beruntungnya perutku belum terlalu besar sehingga tidak akan membuat orang lain curiga.

Dulu saat sedang bersama Daniel, kami selalu membicarakan tentang hari pernikahan yang sangat mewah dan selalu berancang-ancang menggunakan pakaian seperti apa agar terlihat serasi di altar pernikahan nanti.
Namun kenyataannya semua memang benar berubah, aku harus membiasakan diri hifup tanpa Daniel.
Walau sebenarnya....
Aku merindukannya.
Sangat merindukannya.
__ADS_1
Lagi-lagi seseorang membuat lamunanku terganggu tapi kali ini bukan suara sang fotografer tetapi suara pria yang akan menjadi suamiku.
Jimin berjalan mendekat sambil menggunakan suit hitam dengan rambut berwarna hijau biru entahlah tapi dia terlihat tampan.

" Sedang memikirkan apa? Ayo pulang kau terlihat lelah. " tanpa menunggu jawabanku Jimin langsung menarikku membawaku masuk ke dalam mobil.
" sedang memikirkan apa? Hmm? " tanya Jimin dengan suara yang sangat lembut.
Dapat aku rasakan ia benar-benar berubah tak seperti pria brengsek lagi.
"Bukan apa-apa" dan aku menolak untuk menciratakannya.
" Besok acaranya akan dimulai, aku tak ingin kau memamerkan wajah murammu... maaf tapi aku ingin menjadi pria egois untuk hari ini dan besok... " katanya membuatku bingung apa maksud dari pembicaraannya.
" Aku ingin kau tersenyum saat dialtar nanti... aku tak perduli kau tidak menerima pernikahan ini.. tapi perlu kuingatkan kau mengandung anakku. Dan aku yakin kau tidak mau anak itu tidak mengetahui siapa ayahnya.... jadi terima pernikahan ini.. hanya itu yang ku mau... "
Aku hanya bisa diam karena memang aku sedang kelelahan setelah melakukan sesi pemotretan.
Dan akhirnya... hari ini aku sah menjadi istri Jimin, setelah Jimin melakukan janjinya dihadapan sang pendeta lalu saling menukar cincin ia menciumku dengan lembut dihadapan semua tamu undangan yang membuat semuanya bertepuk tangan dengan heboh.
Kini aku melihat Jimin sedang asik berbicara dengan teman-temannya.
Kakiku terasa pegal, perutku sedikit terasa nyeri karena sejak pagi berdiri dihadapan para tamu.
Kepalaku mulai terasa pening dan banyak keringat yang keluar.
Jimin yang menyadari aku gelisah terlihat khawatir dan meninggalkan percakapannya dengan temannya untuk menghampiriku.
" Ada apa? Kau terlihat kelelahan, lebih baik istirahat saja... ayo kuantarkan masuk lagi pula acara sudah mau selesai. "
Jimin menuntunku berjalan memasuki kamar kami.
__ADS_1
" kalau kau lelah seharusnya kau memberitahuku.. jangan membuatku khawatir... "
Aku mulai merasa muak dengan sikap baik Jimin, entahlah aku merasa semua membebani hidupku.
Aku ingin menangis sekuat mungkin.
Aku bahkan tak menyadari air mataku sudah berjatuhan.
" sejak kapan kau khawatir denganku... " dan kalimat yang aku katakan membuatku yakin Jimin akan marah.
Tapi ternyata Jimin tak marah yang ada dia tersenyum sambil membuka jasnya lalu mendekat ke ranjang mengusap kepalaku.
" Aku khawatir dengan anakku " katanya lalu mengecup bibirku sekilas.
Aku benci mengatakan bahwa perlakuan Jimin yang seperti itu membuatku merasakan panas didaerah kedua pipiku.
Jimin lalu keluar dari kamar mungkin ia menyusul para tamunya.
" Ibu hamil benar-benar sensitif " gumam Jimin tapi masih dapat ku dengar.
Setelah Jimin pergi, aku menangis benar benar menangis.
Aku merindukan Daniel....
Aku mengambil keputusan untuk menerima lamaran Jimin bukan berarti aku sudah tidak mencintai Daniel.
Aku menikah dengan Jimin karena anak ini.
Hidup dengan Daniel tapi menggugurkan anakku sendiri atau hidup dengan Jimin.
Tentu saja pilihan kedua terdengar lebih bagus di telingaku.
bagaimana mungkin aku tega membunuh anak yang ada di janinku, mau bagaimanapun itu tetap anakku.
__ADS_1
...