

Hehehe
...
Sudah tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Jimin melanjutkan pekerjaan ayahnya di perusahaannya sebagai CEO dan aku seperti biasa.
Tidak ada pekerjaan selain menonton drama, makan dan tidur.
Jimin selalu melarangku melakukan pekerjaan bahkan menyapupun ia melarangku.
" Bagaimana jika saat menyapu kakimu tersandung sesuatu dan kau terjatuh? "
Seperti saat ini, saat aku ingin mengepel lantai yang kotor karena aku menjatuhkan susu ibu hamil Jimin langsung menarikku duduk
" kenapa kau tak pernah mau mendengarkanku ? Aku bisa melakukan semua pekerjaan rumah demimu "
" kenapa kau selalu memarahiku, lagi pula aku hanya menyapu mengepel mencuci piring baju " ujarku kesal karena Jimin terlalu over dalam hal kecil seperti itu.
" Bagaimana jika kau kelelahan? Lalu sesuatu terjadi padamu, orang di dalam perutmu ini sudah mau keluar " Jimin menyentuh perutku yang sudah membesar karena sudah 8 bulan.
" Kalau kalian sakit, aku akan merasa dua kali lipat lebih sakit "

"
dasar lebay!! " aku meninggalkannya sambil menahan tawa lalu berjalan menuju dapur untuk meminum susu yang sudah Jimin buatkan.

Kali ini ku lihat Jimin masih bersantai memainkan ponselnya di sofa, aku heran kenapa ia tidak pergi bekerja.
" kenapa tidak ke kantor ? " tanyaku padanya dia diam sejenak lalu melihat ke arahku.
" sedang ingin libur " jawabnya asal lalu kembali focus ke ponselnya.
" Kai akan kesini " kata Jimin dan aku hanya mengangguk, karena memang pria tersebut selalu datang menghampiriku.
Teman Jimin sekaligus temanku, aku sudah menganggap Kai sebagai keluargaku karena sudah mengenalnya sejak aku bekerja di SM.
Bahkan saat dia sedang Trainee aku sudah mengenalnya lama.
Sahabat sekaligus kakak laki-laki.
Tak lama dari itu Kai datang sambil membawa sebuah kado atau bingkisan yang terdapat boneka beruangnya.
" woahh Oppaa " aku berlari mendekat dan dapat ku dengar Jimin berteriak marah.
" kenapa kau berlari dengan perut yang buncit ini " kata Kai sambil mengusap perutku.
__ADS_1
Aku mengambil boneka beruang besar yang Kai berikan.
" ahhh gumawooo " kataku sambil memeluk bonekanya.
" bukan untukmu itu untuk keponakanku yang belum lahir " lagi-lagi Kai mengusap perutku.
" rasanya aku juga ingin menikah cepat dan punya anak laki-laki "
" bagaimana hubunganmu dengan Jennie ? " tanya Jimin mengingat temannya itu sedang berkencan dengan Jennie.
Kai hanya terlihat acuh tak acuh lalu ikut duduk di sofa sedangkan aku memilih untuk masuk ke kamar karena aku bosan mendengar mereka berbicara tentang wanita.
Aku yakin Kai sedang bertengkar dengan Jennie lalu meminta pendapat pada Jimin tentang apa yang harus ia lakukan.
Aku kembali bermain HP tiba-tiba ada berita tentang Daniel.
Dan aku membacanya dengan serius.

Aku seketika terdiam, membaca berita buruk tentang kesehatan Daniel membuatku khawatir.
Saat ingin keluar membuka pintu percakapan Kai dan Jimin membuatku berhenti.
Aku diam-diam mendengar mereka membahas tentang Daniel. Ya mereka memang sudah lama berteman tapi semenjak masalahnya dengan Jimin aku tidak pernah mendapati Pudding Squad berkumpul lagi.
" Mau bagaimanapun Daniel tetap bagian dari kita... kau tak maukan dia berakhir dengan berita yang lebih buruk lagi ? Kalau bukan kita sebagai temannya lalu siapa lagi yang akan membantunya ? "
Aku mendengar Kai memohon agar Jimin datang kerumah Daniel atau bertemu dengan Daniel.
Perkataan Jimin membuatku mengganggam erat kedua tanganku.
" kemarin Daniel mengirimiku pesan, katanya ia ingin bertemu dengan Nara sekali saja ingin memastikan Nara baik-baik saja. Aku bilang Nara baik-baik saja. Aku tau aku egois hyung.."
Dapat ku dengar suara Jimin sudah mulai bergetar dan aku yakin dia menangis.
" kau tahukan seberapa banyak aku terluka demi mendapatkan Nara? Hyung kau tahu jugakan aku sangat mencintainya... aku hanya tidak ingin Nara kembali mengingat Daniel "
Aku langsung membuka pintu kamar lalu Jimin dan Kai terlihat terkejut " Ka-kau belum tidur ? "
" apa Daniel baik-baik saja ? " tanyaku membuat Jimin menghampiriku.
" maaf tapi aku tak mengijinkanmu untuk menemuinya " kata Jimin sambil menuntunku untuk masuk ke kamar.
Aku menepis lengannya marah kenapa Jimin tak memberitahunya kalau Daniel ingin menemuinya.
Melihat aku dan Jimin sedang serius Kai izin pamit karena tak enak melihat kami bertengkar.
" kau egois " kataku lalu Jimin hanya terlihat menerima cacianku.
" kenapa kau tak bilang kalau Daniel ingin menemuiku ? " tanyaku, Jimin tak menjawab ia hanya memelukku dengan erat.
__ADS_1
" maaf.. aku memang egois " katanya lalu aku menangis entahlah aku sedang sensitif bahkan mudah menangis semenjak mengandung.
" aku ingin menemui Daniel " kataku sambil menangis. Jimin menenangkanku ia menghapus air mataku lalu menatapku erat.
" aku takut... setelah semua yang kulakukan pada Daniel dan padamu... " dapat kelihat kedua matanya yang merasa bersalah.
" aku hanya menemuinya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan membuatnya tenang... dia juga sahabatmu, kau tak mau kan Daniel benar-benar dalam kondisi yang buruk ? " aku berusaha menyakinkan Jimin agar mengizinkanku untuk menjenguk Daniel.
Dan syukurnya Jimin mengangguk tetapi dengan syarat dia juga ikut.
....
Aku menarik napasku panjang-panjang sebelum memasuki kamar Daniel, menejernya bilang Daniel sedang di infus di kamarnya.
Aku tahu Daniel benci rumah sakit jadi jika dia dirawat dia lebih memutuskan agar dirawat dirumah.
" aku ingin berbicara dulu pada Daniel " kata Jimin lalu ia masuk ke kamar Daniel.
Aku terduduk menunggu sekitar 30 menit labih dan Jimin keluar.
" masuklah " kata Jimin dan aku mengangguk.
Sambil mengelus perutku yang membesar aku membuka knop pintu dan mendapati Daniel terbaring di kasurnya.
Ia menampilkan senyumnya lalu matanya tertuju pada perutku.
" bagaimana kabarmu? " tanyanya padaku dan aku hanya bisa diam. Aku duduk dihadapannya.
" Apa kau baik-baik saja ? " tanya Daniel padaku lagi tapi aku hanya bisa diam.
Kedua mataku berkaca-kaca.
" kenapa menangis? Apa Jimin menyakitimu? " tanyanya lagi lalu aku menggelengkan kepalaku.
" Ma.. maaf " tiba-tiba saja aku meminta maaf padanya. Karena aku memang sudah sering sekali menyakiti perasaannya.
Seperti lebih memilih Jimin dibandingkan dirinya.
Daniel dengan cepat menggelengkan kepalanya " kenapa kau yang meminta maaf seharusnya aku yang meminta maaf padamu "
Aku memeluk Daniel " aku merindukanmu "
Daniel kembali tersenyum ia mengecup keningku lama " Aku minta maaf karena pernah menjadi orang jahat yang menyuruhmu menggugurkannya " kata Daniel sambil mengusap perutku.
" aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu... "
" aku minta maaf karena tak bisa bersamamu lagi.... "
Daniel menggenggam erat kedua tanganku, lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil menangis.
" ini yang terakhir... dan aku akan merelakanmu bersama Jimin.. "
__ADS_1
Katanya lalu kembali menciumku.
.....