
Daniel menatap Nara yang tertidur pulas dari tempat ia duduk.
Sesekali ia menghembuskan napasnya seperti menahan rasa kesal.
Kenyataan bahwa sebenarnya ini bukan yang pertama bagi Nara membuatnya kesal, padahal semalam Nara bilang itu yang pertama baginya.
Pertama, ia ingin sekali menanyakan siapa pria pertama yang sudah tidur dengannya ?
Kedua, Kenapa dia berbohong bahwa itu yang pertama baginya, padahal sudah jelas-jelas dia sudah tidak perawan lagi.
Bahkan saat Daniel menembusnya tidak ada bercak darah sedikitpun yang keluar, walaupun ia tahu betul menembusnya sangat susah dan sempit.
Ketiga, jika ia menanyakannya dan Nara menjawab pria tersebut. Ia akan merasakan yang sangat sakit dua kali lipat mengetahui pria yang menidurinya pertama kali.
Keempat yang ada dipikirannya adalah, jangan bilang kalau Jimin adalah pria yang menidurinya untuk yang pertama kalinya.
Kelima, apa ia harus pura-pura tak tahu lagi dan membiarkan Nara sendiri yang menjelaskannya atau menunggu Nara mengatakan yang sebenarnya.
" Brengsek! " Umpat Daniel lalu ia pelan-pelan menarik kain seperai yang sedikit basah karena pengeluaran mereka berdua,
Ia dengan hati-hati menarik seprai tersebut agar Nara tak terbangun, lalu ia memasukkannya ke mesin cuci.
" Aku mencintaimu,... aku tak bisa kehilanganmu, tapi kenapa kau berbohong dan selalu menutupi kenyataan dariku ? "
Daniel mengelus rambut Nara, ia menatap wajah kelelahan perempuan yang ia cintai.
Sesekali ia mengelus bekas ciuman dileher Nara yang memerah karena ulahnya.
Lalu menaikkan selimut menutupi seluruh badannya yang sedang tak memakai apapun.
" Kepalaku pening sekali.. " Kata Nara tiba-tiba ia membuka matanya melihat Daniel yang sedang menatapnya.
Daniel hanya tersenyum " Maaf, aku tak membiarkanmu istirahat semalam. Kau bisa lanjut tidur... "
Daniel mencium Nara lalu memeluknya erat.
Nara menganggukkan kepalanya lalu mendekatkan diri ke dada Daniel.
" Apa masih sakit ? " tanya Daniel, mengingat ia benar-benar melakukannya dengan sangat kasar semalaman menghujami Nara.
Bahkan saat Nara menyuruhnya berhenti atau melakukannya dengan pelan, yang ada ia bergerak samakin cepat dan membuat Nara menangis.
Nara mengangguk " Masih... "
Daniel menciumi kedua mata Nara yang sedikit membengkak karena menangis.
" Maaf... "
Nara menganggukkan kepalanya.
" Sepertinya aku harus bangun... Aku lapar... " Nara membuka matanya lalu melepas pelukan Daniel yang masih memperhatikan wajahnya.
__ADS_1
" Sebentar lagi pesanan akan datang aku memasan beberapa ayam bakar. Jadi kau tak perlu memasak, karena aku yakin kau tak akan bisa berjalan dengan baik... "
Daniel memeluk Nara lagi, kali ini ia ikut masuk ke dalam selimut Nara dan memeluk badan Nara yang tanpa pakaian.
" Daniel... lepas, aku mau memakai baju. "
" Tidak usah... "
" Danielll.... " Nara berusaha mendorongnya tapi Daniel justru menindihnya.
" Aku lebih suka kau tanpa memakai apapun ... kau terlihat cantik semalam, dengan keringat yang menghiasi wajahmu.... " Daniel memajukan wajahnya lalu berbisik pelan.
" Mendesah kesakitan yang menyatu dengan kenikmatan... kau terlihat pasrah di bawahku semalaman... " Kata Daniel sambil tertawa, sedangkan Nara menahan malunya mengingat kejadian semalam.
" Nara... "
" hmm ? "
" Berjanjilah jangan tunjukkan raut wajahmu yang semalam kepada pria lain... hanya boleh aku yang menikmati raut wajahmu... " lalu Daniel menciumi bibir Nara lembut.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Daniel dan Nara langsung menatap ke arah pintu kamar terkejut.
"EO-Eomma ?? "
Daniel lupa mengganti sandi Apartementnya, sehingga Ibunya bisa leluasa keluar masuk ke Apartementnya.
" Sepertinya kakimu sudah sembuh, pakai baju kalian aku ingin bicara dengan kalian " ujarnya lalu menutup pintu kamar dengan kasar.
" Tenang saja... Dia takakan memarahimu, biar aku saja yang menjawab pertanyaannya. " Kata Daniel lalu ia mencium bibir Nara sekilas.
Setelah Daniel mandi Nara hanya bisa terbaring di kasurnya.
" Apa sesakit itu? " tanya Daniel heran ia pun membantu Nara menuju kamar mandi dan menyiapkan pakaian Nara.
__ADS_1
Setelah mereka siap Daniel dan Nara keluar dari kamar dan mendapati Ibu Daniel sudah menyiapkan makanan, dan terdapat Ayam bakar yang Daniel pesan.
" Kenapa Ibu selalu datang kesini tanpa bilang-bilang ? " tanya Daniel, lalu ia menyuruh Nara duduk.
" Kenapa memangnya ? Kau tak mau aku melihat kalian berdua seperti tadi pagi ? " Kata Ibu Kang.
Ibu kang pun menatap Nara dengan teliti, ini bukan kali pertama mereka bertemu.
Memang Daniel sering membawa Nara kerumahnya dan Ibu Kang tahu soal itu.
Tapi Ibu Kang benar-benar tak tahu kalau Daniel benar-benar akan melakukan hubungan seperti itu sebelum menikah.
" Apa kabar eommonim... " kata Nara lalu menundukkan badan menyapa Ibu Kang.
Ibu Kang tersenyum, " Aku baik-baik saja tapi setelah melihat kalian........ aku sedikit tidak baik-baik saja...
Sudah berapa kali kalian melakukannya ? " tanya Ibu kang to the point membuat Daniel tertawa sedangkan Nara terkejut.
" Apa kalian pakai pengaman, aku tak ingin kau menghamilinya sebelum menikah. Bagaimana jika media tahu dan aku tak ingin kalian berdua tersakiti karena komentar Nettizen yang menyeramkan... "
" Ibu... itu privasi kami... " kata Daniel.
Tapi Ibu kang menatapnya tajam " aku tahu ini privasi kalian, tapi mau bagaimanapun kalau terjadi apa-apa misalnya Nara yang hamil di luar nikah---".
" Ibuuuu! Aku akan menikahinya, kalau Nara hamil aku akan bertanggung jawab.. "
Kata Daniel kesal membuat Nara terkejut mendengarnya.
Daniel sudah tahu sifat Ibunya itu seperti apa, yang ada ia ingin Daniel cepat menikah. Memang dari dulu Ibunya tidak mau Daniel menjadi artis atau selebriti.
Ibunya tersenyum pada Nara. " Kau dengarkan? Lapor padaku kalau dia mengingkari janjinya... Ibu akan membuatnya merasakan patah kaki untuk kedua kalinya " kata Ibu kang pada Nara membuat Daniel mendengus kesal
"Oh ya Nara, Aku melihat filmmu, sangat bagus... tapi... Ibu benci ketika melihat adegan cium--"
" Tunggu!!" Daniel memotong pembicaraan Ibunya lalu menatal Nara.
" Jadi memang benar ada kiss scenenya!!? Kau dan Jimin???!!! " tanya Daniel kesal.
Nara dan Ibunya mengangguk.
Dan Nara hanya tersenyum melihat Daniel yang kembali merajuk karena cemburu.
....
TBC
JANGAN LUPA KOMENTAR DAN VOTING
SAMA FOLLOWWWWW
__ADS_1